Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 Agustus 2026
A A
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

ilustrasi - blusukan kampung di Surabaya Pusat mengecewakan. MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang anak muda tampak celingak-celinguk memasuki sepetak halaman rumah yang terletak di Kota Surabaya Pusat. Tak lama kemudian, dia mengambil posisi untuk memotret rumah tersebut. Melihat gerak-gerik yang mencurigakan, Faninda (25), sebagai akamsi alias anak kampung situ, langsung menegur anak tersebut yang ternyata adalah peserta dari kegiatan blusukan kampung atau istilah bekennya “gang-gangan”.

Gang-gangan adalah kegiatan menyusuri lorong-lorong kecil dan permukiman padat penduduk yang bertujuan untuk mengabadikan kehidupan sehari-hari warga, melihat sisi lain perkotaan secara perlahan, dan menggali cerita warga dari berbagai sudut pandang. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara kolektif atau sendirian.

Iklan

Sebenarnya, Faninda tak masalah jika tujuannya untuk wisata. Namun, dia berharap kegiatan semacam itu sudah mendapat perizinan lebih dulu. Minimal dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau pihak RT/RW.

“Jadi ada koordinasi juga dengan warga atau RT, siapa tahu bisa menambah income juga kan,” ucap Faninda, Rabu (19/8/2026).

Alasan warga Surabaya Pusat lebih waspada

Masalahnya, kata Faninda, tidak semua masyarakat memahami etika blusukan kampung. Akibatnya, banyak masyarakat yang seenaknya keliling kampung sendiri. Bukan apa-apa, Faninda yang sudah 25 tahun tinggal di sekitar kawasan Surabaya Pusat rasanya sudah angkat tangan dengan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Sat Reskrim Polrestabes Surabaya mencatat terdapat 97 kasus curanmor dan 108 tersangka selama periode April-Mei 2026. Sebanyak 89 unit sepeda motor, 2 mobil, kunci T, dan sejumlah senjata tajam turut diamankan sebagai barang bukti.

Oleh karena itu, beberapa kampung di Surabaya menerapkan sistem one gate system, yakni sistem pengamanan lingkungan perumahan atau kawasan yang hanya menyediakan satu akses pintu utama untuk keluar dan masuk. Di kampung Faninda sendiri, gerbang kampung bakal ditutup pukul 23.00 WIB.

“Makanya waktu lihat orang asing masuk halaman rumah tetanggaku pas gangku lagi sepi, aku reflek menegur. Apalagi dia motret-motret tanpa izin,” kata Faninda.

Pemuda itu pun meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia ingin “blusukan kampung” untuk belajar sejarah Kota Surabaya Pusat. Karena itikad baik pemuda tersebut, Faninda pun membantunya dengan membawa dia ke salah satu anak karang taruna untuk mendampingi berkeliling kampung.

“Intinya, aku sebagai akamsi nggak akan melarang asal sudah ada izin dari RT dan warga setempat serta sosialisasi. Aku pun nggak menutup peluang karena kampung kami memang sebetulnya cocok untuk kampung wisata dan edukasi,” ucap Faninda bangga.

Pertama kali ikut blusukan kampung berujung kecewa

Sebaliknya, keresahan juga dirasakan oleh peserta blusukan kampung atau gang-gangan. Dila, salah satu peserta blusukan kampung di Jogja mengaku punya pengalaman tidak mengenakkan saat mengikuti kegiatan tersebut.

“Awalnya aku ikut agar punya teman baru karena aku baru awal pindah ke Jogja. Eh, ternyata yang ikut malah temannya teman yang punya acara alias mereka sebetulnya sudah saling kenal dan aku merasa sebagai stranger sendirian,” kata Dila dihubungi Mojok secara terpisah, Kamis (20/8/2026).

“Asli aku kayak orang cengo bjir, jarang diajak ngobrol, kenalan di awal doang tapi setelah itu satu geng tadi asik ketawa-tawa sendiri. Akunya awkward nggak diajak ngobrol,” tutur Dila.

Semenjak pengalaman pertama itu, Dila pun merasa kapok dan nggak mau ikut-ikutan lagi kegiatan seperti blusukan kampung atau gang-gangan. 

“Kata aku mah jangan buka open trip jalan-jalan sama stranger kalau kayak gitu, mending nongkrong se-geng saja,” ujarnya bersungut-sungut. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Blusukan ala Gang-Gangan dan Celana Kolor Motif Korpri di Jemuran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2026 oleh

Tags: blusukan kampunggang-gangankampung sejarah Surabayakampung wisatakampung wisata surabayakota surabayaSurabaya Pusat
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Pengalaman pertama bisa naik motor Yamaha Mio di Surabaya. MOJOK.CO

Terlalu Girang Saat Pertama Kali Mengendarai Motor Yamaha Mio, Malah Berujung Apes di Tengah Jalan Besar Kota Surabaya

12 Juni 2025
Lakarsantri seperti hidup di zaman dulu meski Surabaya Barat makin gemerlap MOJOK.CO

Daerah Lakarsantri Surabaya Barat seperti Hidup di Zaman Dulu, Meski Sekelilingnya Makin Gemerlap

23 Januari 2025
Nestapa Para Perantau di Kawasan Gubeng Surabaya: Bertahan di Kos Kumuh, Berdamai dengan Bau Busuk dan Segala Kehororannya.MOJOK.CO

Nestapa Para Perantau di Kawasan Gubeng Surabaya: Bertahan di Kos Kumuh, Berdamai dengan Bau Busuk dan Segala Kehororannya

1 Agustus 2024
15 Tanda Sebaiknya Kalian Segera Meninggalkan Surabaya MOJOK.CO

15 Alasan yang Menegaskan Bahwa Surabaya Bukan Lagi Tempat Tinggal Terbaik Bagimu. Segera Hengkang Detik Ini Juga

7 Juni 2024
Surabaya, Kota yang Bikin Warganya Putus Asa MOJOK.CO

Surabaya Tidak Selalu Indah, Masih Banyak Hal Negatif yang Membuat Warganya Resah dan Putus Asa

1 Februari 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Aksi Green Flag Dosen UGM, Bimbing Mahasiswa KKN di Kampung Kumuh hingga Inovasinya Diakui PBB

19 Agustus 2026
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.