Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Maret 2026
A A
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO

Ilustrasi - Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang kakak (anak perempuan pertama) rela mengorbankan banyak hal dalam hidupnya karena menjadi tulang punggung keluarga. Itu karena ia harus menanggung orang tua miskin dan adik tidak tahu diri yang jadi beban. Namun, meski sudah mati-matian kerja keras, tapi tetap saja dihina keluarga sendiri. 

***

Iklan

Kalau dipikir-pikir, rasa-rasanya nyaris tidak ada yang bisa disyukuri dari hidup Mutia (30-an), nama samaran. Sebab, hingga usia kepala tiga, perempuan asal Jawa Timur itu nyaris tidak pernah bisa menikmati hidupnya sendiri. 

Mutia lahir di keluarga miskin. Bapaknya kerja serabutan dengan penghasilan sangat kurang. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sedangkan Mutia masih punya dua adik yang harus dipikirkan juga keberlangsungan hidup mereka. 

“Aku sempat berpikir, Pakde-ku mau membiayai aku kuliah itu syukur. Karena dengan ijazah S1, aku punya kesempatan kerja yang lebih baik,” ungkap Mutia saat bercerita, Senin (9/3/2026) malam. 

Namun, setelah yang ia alami seiring dewasa, benar-benar tidak ada yang bisa disyukuri dari hidupnya. 

Anak perempuan pertama jadi tulang punggung keluarga, kerja keras pagi-siang-malam

Selepas lulus kuliah, tidak ada pilihan lain selain tuntutan agar Mutia lekas bekerja. Apalagi ia merupakan anak pertama (meskipun anak perempuan). Jadi dibebani pula tanggung jawab untuk menggantikan peran orang tua untuk mencukupi hidup. 

Bertahun-tahun Mutia menjalani pekerjaan dobel. Kerja keras dari pagi, siang, sampai malam. 

“Satu pekerjaan yang formal itu di sebuah instansi. Itu di pagi sampai sore. Selebihnya cari-cari sambilan lain,” kata Mutia. 

Setidaknya sampai 2025, alur kerja Mutia kira-kira seperti ini: pagi buta membantu menyiapkan dagangan orang tua. Setelah itu berangkat ke kantor hingga sore. 

Sore harinya, Mutia akan lanjut jaga sebuah stand jajanan viral milik orang sampai malam. Menjelang larut malam ia pulang, dan besok paginya akan mengulangi ritme yang sama. 

Dibilang capek, jelas sangat capek. Tapi sebagai anak perempuan pertama yang dituntut menjadi tulang punggung, seperti tidak ada waktu untuk mengeluh. 

Gaji tidak seberapa, tapi pikul beban gara-gara kemiskinan orang tua

Mutia mengaku, gajinya dari instansi sebenarnya tidak seberapa. Berkisar Rp2 jutaan. 

Kalau untuk hidup sendiri, gaji tersebut bisa saja cukup. Masalahnya, ia harus memikul beban ekonomi keluarga gara-gara kemiskinan orang tua. 

Iklan

“Bapak memang jualan. Tapi kan nggak ngumpul uangnya. Jadi aku tetap harus menyisihkan uang buat kebutuhan orang tua. Kebutuhan sehari-hari, terus kalu mereka butuh untuk hal-hal lain,” jelas Mutia. 

Belum menanggung biaya sekolah dua adiknya. Itu pun, adik nomor duanya benar-benar sudah diatur. Sudah dibiayai sekolah, dikasih uang jajan, tapi ujung-ujungnya bolos, bikin masalah di sekolah, hingga memutuskan berhenti di tengah jalan (putus sekolah). 

“Adikku yang terakhir yang bisa sekolah sampai SMA. Terus kuliah dia memang dapat beasiswa (KIP Kuliah). Tapi sesekali kalau dia kehabisan uang, aku kasih,” kata Mutia. 

Mati-matian kerja keras jadi tulang punggung keluarga, uang ludes buat adik tidak tahu diri

Seperti disinggung di atas, adik kedua Mutia memang benar-benar tidak tahu diri. Di saat adik terakhir mereka sibuk berjuang kuliah dengan beasiswa, adik kedua Mutia justru hidup mengacau. 

Bagaimana tidak. Setelah putus sekolah, alih-alih membantu kerja agar mengurangi beban sang kakak perempuan, adik kedua Mutia hanya sibuk main-main. Lontang-lantung sana-sini. Kalau kehabisan uang, tinggal nodong ke Mutia. 

“Sudah capek ngasih pengertian dia. Tapi memang dasar anaknya bebal dan tidak tahu diri,” kata Mutia. 

Masalahnya tidak hanya itu. Adik kedua Mutia ini sudah dua kali terjerat kasus kriminal hingga masuk bui. 

Sejujurnya, dalam dua momen tersebut, Mutia ingin lepas tangan. Membiarkan sang adik mendekam di balik jeruji besi untuk bertanggung jawab atas masalah yang ia buat. 

Sialnya, ibu Mutia membujuk agar Mutia—sebagai seorang kakak (anak perempuan pertama) sekaligus tulang punggung keluarga—mau merelakan sebagian uangnya untuk menebus kebebasan sang adik. 

“Aku kerja keras, siang-malam, nggak kenal capek, cuma buat membebaskan si tukang onar? Edan po! Tapi karena ibu bujuk-bujuk, ya aku relakan saja uangku,” ucap Mutia. 

Adik ngebet nikah, orang tua tidak ada biaya, Mutia hanya seperti sapi perah

Entah kenapa adik kedua Mutia ini seperti tidak ada habis-habisnya berulah. Tidak lama setelah keluar dari bui yang kedua, ia ngebet nikah dengan perempuan yang belum lama ia kenal. 

Mutia dan adik terakhirnya mencoba memberi pemahaman pada si pembuat ulah itu: kalau mau nikah, harus nata diri sendiri dulu. Minimal sudah bisa kerja mandiri. Tidak membebani seluruh biaya pernikahan ke keluarga. 

“Tapi dasar arek pekok, tetap nikah, posisi belum kerja dan nggak punya uang. Orang tuaku juga nggak punya uang. Ujung-ujungnya, ya aku yang menanggung biayanya,” tutur Mutia. 

Di titik itu, Mutia sempat menangis sesenggukan di hadapan adik terakhirnya yang baru saja lulus kuliah. Mutia merasa, di keluarga tersebut, ia tidak lebih dari sekadar sapi perah. Diperah terus sampai kurus kering. 

Anak perempuan pertama mengorbankan diri sendiri untuk keluarga tapi tetap dihina

Mutia merasa sudah mengorbankan banyak hal untuk orang tua sekaligus adik-adiknya. Waktu yang harusnya bisa ia gunakan untuk menikmati masa muda habis untuk menjadi tulang punggung keluarga. 

Dengan kerja sekeras itu, Mutia harusnya sudah punya tabungan banyak. Nyatanya uangnya selalu ludes karena ada saja. Entah orang tua minta dibantu apa lah, adik kedua entah berulah apa lagi lah. 

Dan yang cukup sensitif adalah: hingga usia kepala tiga, Mutia masih melajang. Tidak ada waktu untuk dekat dengan laki-laki, apalagi berpikir membina rumah tangga. 

“Tapi saudara dan tetangga nggak melihat itu. Terutama Pakde. Karena dia membiayai kuliahku, dia menuntut balas: sudah dikuliahkan kok nggak jadi apa-apa. Kerja keras tapi nggak kaya-kaya,” ucap Mutia diselingi napas panjang. 

“Jadi omongan saudara dan tetangga juga kalau aku perawan tua,” sambungnya. 

Nyesek rasanya bagi Mutia. Karena banyak orang justru mengabaikan semua pengorbanan yang telah ia lakukan. Malah lebih fokus mencela kekurangan tanpa melihat keadaan. 

“Melarikan diri dari rumah” meski awalnya berat 

Setelah melewati pertimbangan panjang, sejak awal 2026 lalu Mutia memutuskan untuk “melarikan diri dari rumah”. 

Karena tekanan demi tekanan, di satu sisi Mutia merasa terpancing untuk mencari satu pekerjaan yang lebih layak. Dengan gaji yang lebih besar. 

“Aku dapat lah di Jawa Barat. Itu yang mendorong aku biar berangkat aja adik terakhirku. Karena awalnya kan aku merasa berat: kalau aku pergi, siapa yang urus orang tua nanti?” Kata Mutia. 

“Tapi adik terakhirku itu bilang, mau sampai kapan aku begitu terus. Sementara sejak kecil saja kita nggak pernah merasa diperjuangkan oleh orang tua. Adikku bilang, aku berhak memperjuangkan bahagia untuk hidupku sendiri,” sambungnya. 

Saking penginnya si adik bungsu agar kakak perempuan pertamanya itu bahagia, sang adik sampai mentransfer sejumlah uang dari gaji pertamanya sebagai pegangan di masa awal sang kakak bekerja di Jawa Barat. 

“Aku nangis, terharu. Kalau sekarang, ya aku merasa lebih lega. Bebannya sudah nggak berat banget. Apalagi adik terakhirku setelah lulus kuliah sudah bisa kerja sendiri. Kami berdua akhirnya saling menopang beban, biar menjadi lebih ringan,” tutup Mutia haru. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: anak perempuan pertamaanak pertamabeban anak pertamakakak perempuankakak pertamakerja keraspilihan redaksitulang punggungtulang punggung keluarga
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga hingga Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.