Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Slip Gaji di Bawah UMR Jogja Jadi Bahan Lomba Melamun: Beratnya Anak Pertama Bayar KUR BRI Orang Tua

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
24 Agustus 2025
A A
Slip Gaji di Bawah UMR Jogja Jadi Bahan Lomba Melamun: Beratnya Anak Pertama Bayar KUR BRI Orang Tua

Sekitar 100 peserta mengikuti Lomba Melamun yang diadakan di Lapangan Bokong Semar, Kotagede.Tidak sedikit peserta yang melamunkan soal ekonomi, asmara, hingga keluarga. (Ilustrasi Efa Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang anak sulung yang jadi karyawan kontrak di Yogyakarta menjadikan slip gajinya yang besarnya di bawah UMR Jogja sebagai alat bantu saat mengikuti Lomba Melamun. Ada kesedihan di sana, karena sebagian besar gajinya habis untuk melunasi KUR BRI orang tuanya.

***

Iklan

Pekan lalu, 18 Agustus 2025 saya diundang oleh seorang kawan, Ali Ma’ruf, seorang penggiat slow living di Jogja untuk ikut Lomba Melamun. Tanpa banyak alasan, saya mengiyakan ajakannya. Tentu bukan karena hadiahnya, atau karena Ali jadi jurinya. Saya biasa melamun di mana saja. Paling suka di keramaian, di atas motor saat perjalanan ke kantor atau pulang kerja. Sering juga di tepi sungai di bawah rimbun bambu samping rumah saya.

Lamunan kadang menjaga kita tetap waras. Ada yang bilang, melamun adalah bentuk kreativitas batin ketika orang dewasa tak lagi banyak bermain. Maka ajakan Ali Ma’ruf untuk mengikuti Lomba Melamun langsung saya sambar. 

Sepanjang perjalanan dari kantor Mojok hingga lokasi Lomba Melamun di Lapangan Bokong Semar, Kotagede saya berpikir apa yang kira-kira akan saya lamunkan nanti. Biasanya melamun ya melamun saja, nggak ada rencana, tapi karena ini lomba rasanya perlu mempersiapkan diri untuk punya bahan. Setidaknya dari lamunan itu bisa berkembang jadi sebuah imajinasi.

KUR BRi orang tua bebani anak sulung MOJOK.CO
Peserta Lomba Melamun di Lapangan Bokong Semar, Kotagede, Senin (18/8/2025)

Namun, sampai lokasi acara. Saya urung untuk jadi peserta. Seratusan peserta sudah duduk ambil posisi di tikar yang disediakan panitia. “Nggak jadi ikut aku, Ly, peserta lain ternyata beban pikirannya lebih berat dariku,” kata saya ke Ali yang mempertanyakan mengapa nggak jadi ikut.

“Ora, Mas. Ketoke bebanmu yang paling berat di sini,” katanya. 

KUR BRI orang tua jadi beban paling berat anak sulung

Saya justru lebih tertarik ingin ngobrol dengan peserta usai lomba. Apa yang membuat mereka tergerak untuk ikut Lomba Melamun yang diadakan Lokanusa Kotagede, Tamasyakarsa, dan Life at Kotagede. Bahkan panitia sampai menutup pendaftaran ketika peserta sampai diangka 120 orang. Saya yakin bukan karena hadiah.

Sebagian peserta menggunakan kostum unik, mungkin karena kategori yang dilombakan bukan hanya yang terlama, tapi juga ada piala untuk peserta yang paling ekspresif, si paling macak alias kostum terbaik.

Saya melihat seorang peserta yang memegang kertas selama melamun. Saat sesi penyisihan berakhir, saya mendekatinya. Selembar kertas itu ternyata adalah slip gajinya sebagai seorang social media officer di sebuah lembaga di Kota Yogyakarta.

Peserta berkerudung hitam ini menyebut nama aslinya tapi, ia meminta Mojok untuk menyamarkan namanya, sebut saja dia Rinda (26). Selama melamun, ia memikirkan semua masalah yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya, terutama keluarga dan ekonomi.

“KUR BRI!” katanya saat ditanya apa yang paling membebani hidupnya sehingga jadi bahan lamunan. 

Ia lantas menunjukkan, slip gaji yang merinci gaji pokoknya hingga tunjangannya. Pendapatan kotornya sebesar 2.143.600, setelah dikurangi pajak, pendapatan bersihnya sebesar Rp2.020.274. Angka yang lebih rendah dari Upah Minimum Provinsi DIY sebesar Rp2.264.080,95 atau dari Upah Minimum Kota Yogyakarta 2025 sebesar Rp 2.655.041,81.

Peserta Lomba Melamun membawa slip gaji sebagai bahan melamun. Setiap bulan ia harus mencicip Rp1 juta atau setengah dari gajinya untuk KUR BRI yang dipinjam orang tuanya MOJOK.CO
Peserta Lomba Melamun membawa slip gaji sebagai bahan melamun. Setiap bulan ia harus mencicip Rp1 juta atau setengah dari gajinya untuk KUR BRI yang dipinjam orang tuanya. (Agung P/Mojok.co)

Selain KUR BRI, anak sulung harus bantu orang tua untuk kebutuhan adiknya

Yang menarik, peserta berkerudung hitam ini membuat catatan di bagian bawah slip gajinya yang isinya adalah tagihan KUR BRI sebesar Rp1.000.000, bayar wifi bapak 300 ribu, bayar obat saudara 140.000, bayar bensin 250 ribu. Saya menghitung, masih ada sisa sekitar Rp400 ribu-an. 

Iklan

“Belum dihitung biaya makan, kebutuhan rumah, terus kadang kepotong kebutuhan adik yang masih SMP,” katanya tertawa getir. 

“Utang KUR BRI itu sebenarnya bukan aku yang utang, tapi orang tua, pakai namaku. Dan itu lunasnya masih dua tahun lagi. Ya Allah, aku kuat!,” katanya kembali tertawa sembari menyeka sedikit air mata yang meleleh. Ia tidak mau menyebut besaran pinjaman orang tuanya dan detail keperluannya. Rinda hanya menyebutkan untuk keperluan keluarga.

Rinda, matanya memang terlihat memerah. Selama melamun, dia mencoba untuk menahan tangis, tapi tetap saja ada lelehan air mata yang keluar. Rinda mengatakan bahwa bukan hanya harus melunasi utang orang tuanya, ia juga harus menanggung kebutuhan sehari-hari keluarganya. Ia paham sebagai anak sulung, ia mendapat beban sebagai penopang ekonomi keluarga. 

Selama melamun ia memikirkan bagaimana solusi agar bisa mengatasi persoalan utangnya. Salah satu yang ia pikirkan adalah mencari pekerjaan yang tentu tawaran gajinya lebih tinggi.”Doakan saja saya kuat,” katanya tertawa.

Bawa paspor hingga mikir jahatnya pemerintah memeras rakyatnya

Saya lantas ngobrol dengan Lala (28). Saya tertawa melihatnya. Dia saya kenal sebagai mantan ilustrator di Mojok. Kini ia lebih nyaman sebagai freelance. Alasannya ikut Lomba Melamun, salah satunya untuk melarikan diri sementara dari urusan duniawi. Meski isi lamunannya juga tak jauh-jauh dari urusan sehari-hari. 

Peserta dengan kostum unik di Lapangan Bokong Semar, Kotagede MOJOK.CO
Peserta dengan kostum unik di Lomba Melamun di Lapangan Bokong Semar, Kotagede, Senin (18/8/2025). (Agung P/Mojok.co)

Ia sengaja membawa paspor sebagai bahan lamunan. Melihat kondisi Indonesia saat ini, muncul dalam bayangannya untuk ke luar negeri, apakah itu kerja, kuliah, atau lainnya. Yang penting hidup lebih baik. “Tadi ada beberapa yang saya lamunkan, coba mengingat masa-masa baik, memori yang manis, tapi kebanyakan kosong, nggak mikirin apa-apa,” katanya. 

Peserta lain, Intan (31) cukup effort mengikuti Lomba Melamun. Ia mengenakan kostum dengan tema lebah dengan warna mencolok, kuning dan hitam. Intan mengakui, sebagai remaja jompo, ia hanya kuat sekitar 45 menit, alasannya kakinya kesemutan. Meski cuma 45 menit, banyak hal yang ia lamunkan. 

“A-Z pokoknya, dari ekonomi, asmara, UMR Jogja, bisnis yang naik turun, sama pemerintah yang narik pajak terus,” kata Intan. Ia yang punya usaha jualan burger bareng temannya setiap hari selalu berpikir keras agar usaha tetap jalan. Di sisi lain, ia juga khawatir kalau pemerintah melirik usahanya yang pendapatannya masih belum seberapa untuk kemudian ditarik pajak. 

“Mikir paling berat itu adalah gimana caranya punya rumah di Jogja. Harga tanahnya mahal banget, harus muter otak. Aku asli Jogja tapi sampai sekarang masih ngontrak,” ujarnya. 

Melamunkan tentang orang tua yang makin tua dan kita belum membahagiakannya

Peserta lain, Alfina (25) tengah asyik melamun tentang tarik ulur apakah akan menetap di Yogyakarta atau kembali ke kota dia dibesarkan saat panitia menyebutnya gugur dalam babak penyisihan. Ia nggak mempersoalkan harus gugur dalam Lomba  Melamun. Justru yang ia risaukan adalah materi melamun yang hingga gugur ia belum dapat solusinya. 

Peserta bersandar di tiang listrik di Bokong Semar Kotagede, Senin (18/8/2025). Lebih dari 100 peserta mengikuti lomba ini MOJOK.CO
Peserta Lomba Melamun bersandar di tiang listrik di Bokong Semar Kotagede, Senin (18/8/2025). Lebih dari 100 peserta mengikuti lomba ini. (Agung P/Mojok.co)

“Jadi aku kuliah S1 sudah lulus, terus kerja di Jakarta, tempat aku dibesarkan. Nah, dua tahun kerja di Jakarta aku nggak betah, balik lagi ke Jogja untuk ambil S2. Sekarang aku lagi bingung, telanjur nyaman di Jogja, nggak mau lagi ke Jakarta, tapi UMR-nya Jogja nggak bisa buat hidup!” katanya.

Alfina yang bergelut di dunia desain grafis merasa ritme hidup di Jakarta nggak sehat. Ia merasa jika kembali ke Jakarta, ia pasti akan tua di jalan. Di sisi lain, ia juga memikirkan orang tuanya. “Orang tua makin tua, sementara aku merasa belum membahagiakan mereka,” aku anak pertama dari tiga manusia dan empat anak bulu dengan nada sendu.

Lomba Melamun sangat mungkin akan digelar rutin

Farid Dwi Setiawan, owner Lokanusa Kotagede mengatakan, Lomba Melamun 2025 ini berawal dari celetukan Ali Ma’ruf, penggiat slow living kepadanya dan Primas Trijati (Tamasya Karsa) tentang Lomba Melamun di Jepang. Ide itu lantas diwujudkan dalam sebuah Lomba Melamun menyambut kemeriahan HUT ke-80 Republik Indonesia. 

“Nggak nyangka yang mendaftar sampai seratus lebih, dan ada yang dari luar kota,” kata Farid. Ada sekitar 120-an orang yang mendaftar, itupun setelah dibatasi panitia. Farid juga mengatakan ia yakin, peserta datang bukan karena besarnya hadiahnya, tapi jadi semacam ruang untuk merenung. Tingginya antusias peserta membuat Farid mempertimbangkan untuk menjadikan lomba melamun sebagai agenda rutin.

Hal itu juga ditegaskan oleh, Primas Jati. Lomba yang ia adakan bersama teman-temannya nggak menyediakan hadiah besar. Ia percaya peserta tertarik datang karena Lomba Melamun ini memberi kesempatan kepada siapa saja untuk melambat, jeda sejenak dan rutinitas,” katanya.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA BACA JUGA: Hidup Menderita saat Jadi Guru Honorer di Sekolah Negeri, Usai Pindah ke Sekolah Muhammadiyah Berubah Drastis Jadi Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2025 oleh

Tags: anak sulungkotagedeKUR BRILomba melamunpilihan redaksi
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.