Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Februari 2026
A A
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Ilustrasi - Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan. (Vietnam.vn)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang pemuda, apalagi dengan tiga gelar universitas sekaligus, mestinya punya daya tawar besar—untuk menjadi pekerjaan—di kota. Namun, seorang pemuda berusia 28 tahun ini justru memilih meninggalkan gemerlap kota untuk membangun hidup di perdesaan. Modal pengalaman yang ia miliki ternyata sangat berguna untuk bertahan hidup di desa melalui budidaya jamur. 

***

Meninggalkan kota untuk membangun hidup di perdesaan, bagi beberapa orang, adalah pilihan hidup penuh risiko. Apalagi bagi seorang dengan gelar universitas tidak main-main. 

Mencari pekerjaan memang semakin susah. Namun, jika bertaruh di kota, setidaknya peluangnya masih terbuka lebar. 

Tapi Nguyen Tien Dat punya upaya berbeda. Pemuda asal kota Can Tho, Vietnam. itu justru menemukan kehidupan menjanjikan sejak memutuskan meninggalkan kota untuk membangun hidupnya di perdesaan. 

3 gelar universitas, sempat kerja di perusahaan tapi pilih budidaya jamur di perdesaan

Dat, panggilan akrabnya, menyandang tiga gelar perguruan tinggi, yakni: Teknologi Teknik Kontrol dan Otomasi, Pertanian Berteknologi Tinggi, dan Administrasi Bisnis. 

Gelar-gelar yang terbilang bergengsi. Tak ayal jika dengan gelar universitas tersebut Dat pernah bekerja di sebuah perusahaan pestisida di daerah perkotaan. 

Di tengah jalan, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menciptakan sistem pertanian yang bersih dengan menggunakan piranti teknologi—bidang yang ia kuasai. Dorongan itu semakin hari semakin kuat, hingga membuatnya mantap memutuskan pulang ke perdesaan untuk mengembangkan bisnisnya sendiri: budidaya jamur.  

“Saya ingin mempraktikkan pertanian dengan cara yang bisa mengurangi tenaga kerja, meningkatkan produktivitas dan kualitas. Nah, jamur rayap hitam cocok karena mudah dikendalikan lingkungannya, kurang rentan terhadap hama dan penyakit, memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan kurang terpengaruh oleh perubahan iklim,” ujar Dat sebagaimana dalam wawancara bersama Vietnam.vn.

Awal tidak sempurna saat pemuda denga 3 gelar universitas kembali ke perdesaan

Upaya budidaya jamur rayap hitam itu mulai ditekuni Dat sejak awal 2024. Pemuda dengan tiga gelar universitas itu mengembangkan model berteknologi tinggi untuk budidaya jamur rayap hitam.

Dat bereksperimen dengan menumbuhkan jamur rayap hitam menggunakan 500 substrat. Hanya saja, karena teknik yang belum sempurna, setiap substrat menghasilkan kurang dari 100 gram, lebih rendah dari standar 150-200 gram per substrat.

Dat tidak mau putus asa. Ia lantas mencoba menyesuaikan proses teknis, mulai dari pengendalian lingkungan hingga perawatan. 

Hasilnya, waktu panen dipersingkat dari enam bulan menjadi empat bulan untuk mengurangi biaya produksi. Embrio yang menunjukkan jamur hijau pun dihilangkan lebih awal untuk mencegah penyebaran penyakit.

Sukses budidaya jamur hingga punya area seluas 100 meter

Seiring waktu, budidaya jamur rayap hitam sarjana tiga gelar tersebut menunjukkan tanda-tanda kesuksesan. Dat bahkan memperluas area budidaya jamurnya dan meningkatkan teknologinya. 

Iklan

Area budidaya jamur berteknologi tinggi milik Dat awalnya hanya beberapa puluh meter persegi. Tapi kemudian diperluas menjadi 100 meter persegi dengan dua bagian terpisah. 

Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis  budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan. (Vietnam.vn)

Ia pun menyisihkan sebagian besar untuk melengkapi are budidayanya dengan sistem irigasi otomatis dan peralatan pemantauan lingkungan menggunakan sensor IoT (sensor pintar). Sensor itu memungkinkan pemantauan dan penyesuaian suhu, kelembaban, cahaya, dan konsentrasi CO₂ dari jarak jauh yang bisa dikontrol melalui ponsel pintar.

Budidaya jamur rayap hitam milik Dat pun menghasilkan produktivitas tinggi dengan penghasilan stabil. 

“Penggunaan teknologi membuat hasil panen jamur meningkat sekitar 30-40% dibandingkan dengan metode tradisional. Secara signifikan mengurangi biaya tenaga kerja dan risiko penyakit. Jamur dapat dipanen setelah 20-25 hari, dengan periode panen stabil selama 3-4 bulan,” terang Dat. 

Dat kini bisa memanen 8-10 kg jamur segar setiap hari. Jamu itu kemudian bisa dijual di harga 300.000-350.000 VND/kg (setara Rp195.000/Rp225.000/kg). Dengan kata lain, dalam beberapa hari, ia bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam beberapa hari dengan hanya tinggal di perdesaan. 

Kalau orang kota mau meniru

Dat kemudian memperluas sektor bisnisnya, tidak hanya pada budidaya jamur segar, tapi juga jamur kering. Dari hasil budidaya jamur segarnya, Dat kemudian membeli mesin pengering untuk pengolahan jamur kering. 

Jamur-jamur itu pun tidak hanya didistribusikan ke pasar atau restoran. Tapi juga sudah dipasarkan melalui platform daring. 

Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis  budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan. (Vietnam.vn)

“Dalam waktu dekat, saya akan membuka lebih banyak pertanian jamur, berinvestasi dalam lini produksi bibit jamur, dan mentransfer teknologi kepada rumah tangga yang membutuhkan. Saya berharap model ini tidak hanya membawa manfaat ekonomi tetapi juga menyebarkan semangat kewirausahaan pertanian modern,” tuturnya. 

Menurut Dat, budidaya jamur rayap hitam ternyata tidak hanya bisa dilakukan di desa, loh. Sarjana tiga gelar yang sukses di perdesaan itu dengan murah hati berbagi ilmu:

Katanya jamur rayap hitam tidak membutuhkan lahan yang luas, perawatannya mudah, dan dapat dilakukan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Bahkan dengan memanfaatkan atap, lantai dasar, atau ruangan tertutup. 

Yang jelas, jamur rayap hitam bisa tumbuh subur pada suhu 26-28°C dan kelembaban di atas 85%. Itulah kenapa sistem penyemprotan otomatis dan kipas pendingin udara sangat penting pemakaiannya, sebab bisa membantu menjaga kondisi ideal bagi jamur sepanjang tahun.

“Pertanian modern tidak harus selalu di ladang. Dengan teknologi yang tepat, Anda benar-benar dapat melakukan pertanian di rumah Anda sendiri,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: Vietnam.vn

BACA JUGA: Gagal Membangun Karier di Sidoarjo, Putuskan Pindah ke Tuban untuk Buka Usaha Sendiri hingga Raup Gaji Melimpah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: bisnis di desabudidaya jamurgelar universitasperdesaan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO
Catatan

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO
Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.