Motor bebek yang punya kenangan mahal
Purnomo memulai aktivitasnya sejak pukul 07.00 WIB dengan menusukkan bahan-bahan dan membuat bumbu. Dalam 4 jam, ia berhasil memperoleh ratusan tusuk. Siangnya, ia berkeliling ke sekolah-sekolah dengan sepeda motornya.
Saat menceritakan hal tersebut, Purnomo jadi teringat dengan perjuangan ibunya yang masih keliling dengan jalan kaki sambil menggendong dagangannya di sekitar rumahnya di Klaten. Menurut Purnomo, Misinem–ibunya yang meninggal di usia 75 tahun, tak pernah berhenti bekerja meski saat hujan.

“Ibu sudah tua dan nggak bisa pakai sepeda tapi dia kasih warisan motor ini,” ucap Purnomo menunjuk motor bebek Jupiter dari ibunya.
“Belinya second, DP Rp2 juta. Setelah beliau meninggal, saya sulap warisannya jadi gerobak motor, biar lebih mudah untuk jualan keliling,” lanjut Purnomo.
Meninggalnya Misinem…
Sepanjang hidupnya, kata Purnomo, Misinem telah banting tulang untuk menghidupi ke-7 anaknya, bahkan setelah mereka dewasa. Ada yang lulus SMP dan SMA untuk langsung bekerja. Namun, Misinem seolah tak pernah bisa menghentikan rutinitasnya.
“Bahkan kalau nggak jualan itu saya sering ditanya sama langganannya, ‘ibu mana? Kok tumben libur?’ akhirnya saya jawab kalau beliau sakit,” kata Purnomo.
Pagi itu, kata Purnomo, rutinitas Misinem sama seperti biasanya yakni menusuk-nusukkan sate di rumahnya, Klaten. Di tengah kesibukannya tersebut, Misinem tiba-tiba pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang, Misinem terkena stroke dan harus dirawat tapi tak lama kemudian, ia meninggal.
Ajaran ibu yang telah lama jualan sate kere di Klaten

Purnomo tak pernah melupakan kejadian itu, saat ibunya harus terbaring di rumah sakit. Ia masih merindukan kehadiran dan kasih sayang ibunya, terutama di momen Ramadan seperti ini.
Namun, apalah daya. Manusia memang tidak bisa melawan takdir. Kini, yang bisa ia amalkan adalah nilai-nilai baik yang pernah diturunkan oleh ibunya sembari mendoakan beliau.
“Ibu selalu mengajarkan saya untuk jujur. Dulu, waktu ibu masih jualan. Ada salah satu pelanggan nggak sengaja ninggalin dompetnya. Saya disuruh cek identitasnya, cari tahu rumahnya, terus disuruh balikin ke sana. Padahal, waktu itu rumahnya di Jogja, tapi ibu tetap suruh langsung balikin,” ujar Purnomo.
Hal itu pula yang mendorong Purnomo untuk meneruskan jualan ibunya, setelah perusahaan dealer dan bengkel resmi motor di Klaten tempat kerjanya dulu mengalami pailit sehingga ia di-PHK. Siapa sangka, usaha kecil milik ibunya ini justru menyelamatkan Purnomo untuk memberi makan istri dan dua orang anaknya.
“Saya nggak mau mengeluh, yang penting buat keluarga cukup. Alhamdulillah, saya dikasih sumber rezeki lagi. Anak-anak juga senang waktu saya ajak jualan,” kata Purnomo yang berniat berbuka puasa di Pasar Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten bersama keluarganya setelah jualan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













