Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Ketangguhan dalam Nama “Qonitah Ikhtiar Syakuroh”, Dari Raket Rp40 Ribuan dan Ejekan Cara Berjalan Jadi Penderes Emas

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 November 2025
A A
Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas MOJOK.CO

Ilustrasi - Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berawal dari raket seharga Rp40 ribu dan ejekan-ejekan yang kerap bikin menangis, kini wajah Qonitah Ikhtiar Syakuroh (24) justru selalu mengembangkan senyum. Jika dulu cara berjalannya menjadi ejekan dan membuatnya terpukul, kini ia justru selalu tampak berjalan dengan langkah-langkah mantap. Para-badminton (bulu tangkis untuk difabel) mengubah banyak hal dalam hidup perempuan asal perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Jogja tersebut.

***

Qonitah Ikhtiar Syakuroh (24). Nama itu berasal dari rangkaian bahasa Arab. Maknanya begitu bertenaga: Sebuah ketatagan (ketangguhan) menjalani hidup. Qonitah berarti taat, ikhtiar berarti upaya keras, dan syakuroh memiliki arti perempuan yang selalu bersyukur.

Nama itu tak sekadar nama. Tapi benar-benar terejawantah dalam diri Qonitah—sapaan akrabnya. Itu saya simpulkan setelah berbincang agak panjang dengan Qonitah usai memenangkan pertandingan semi final Polytron Indonesia Para-Badminton 2025 Solo by Polytron, Bakti Olahraga Djarum Foundation, NPC Indonesia, dan BWF, Sabtu (1/11/2025) siang. Ia bertanding di nomor tunggal putri kategori Standing Lower 3 (SL3),

Qonitah nyaris tanpa effort kala berhadapan dengan Marashi Girishchandra Joshi dari India. Ia menang dua set sekaligus dengan skor telak: 21:9, 21:8. Kemenangan yang membawanya ke babak final.

Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas MOJOK.CO
Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas. (Eko Susanto/Mojok.co)

Cara berjalan jadi ejekan

Qonitah lahir di Pedukuhan Soropati, Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Jogja. Sebagaimana umumnya warga Hargotirto, orang tua Qonitah adalah penderes nira.

Ia lahir dengan kondisi kaki Congenital Talipes Equinovarus (CTEV). Yakni kelainan bawaan yang menyebabkan posisi kaki mengarah ke dalam dan ke bawah sejak lahir atau sering disebut “kaki pengkor”.

“Dulu di masa TK dan SD, ya sering lah jadi ejekan. Cara jalan saya ditiruin untuk diolok-olok,” kata Qonitah.

Lahir dengan Congenital Talipes Equinovarus bikin cara berjalan Qonitah Ikhtiar Syakuroh jadi bahan ejekan MOJOK.CO
Lahir dengan Congenital Talipes Equinovarus bikin cara berjalan Qonitah Ikhtiar Syakuroh jadi bahan ejekan. (Eko Susanto/Mojok.co)

Tentu saja Qonitah kecil merasa terkucilkan. Setiap menerima ejekan, entah di sekolah atau saat bermain, sepulangnya ia pasti menangis.

Untungnya, kata Qonitah, orang tuanya memiliki kesabaran berlapis-lapis. Mereka selalu melapangkan hati Qonitah.

Sempat tersasar di cabor lari sebelum temukan jalan di bulu tangkis

Ejekan mulai berkurang kala Qonitah sekolah di SMP Negeri 2 Kokap, Kulon Progo, Jogja. Karena civitasnya sudah memiliki kesadaran soal inklusivitas. Dari SMP itu pula jalan Qonitah ke para-badminton mulai terbentang, walaupun awalnya tak ia sadari.

“Sekitar 2015. Guru saya punya teman yang terhubung dengan NPC Kulon Progo. Katanya sedang cari atlet untuk event pelajar. Lalu saya ditawari untuk ikut. Cuma waktu itu saya justru ditempatkan di cabang olahraga atletik (lari 100 meter),” beber Qonitah.

Sebenarnya Qonitah tak begitu tertarik. Dengan kondisi kaki CTEV, ia sudah membayangkan pasti akan sangat sulit untuk menjadi pelari.

Dan memang demikian yang terjadi. Qonitah tidak lolos seleksi karena tak mampu bersaing dengan pelari-pelari lain.

Iklan

Raket bulu tangkis Rp40 ribuan, saksi bisu Qonitah ke para-badminton

Tapi rezeki selalu bisa menemukan alamatnya. Gagal dari cabor lari, Qonitah lantas ditawari untuk mencoba seleksi para-badminton.

“Waktu itu, entah kenapa saya yakin saya mampu,” tutur Qonitah dengan mata berbinar. Ternyata ia lolos seleksi untuk ikut event pelajar.

“Saya ingat banget, waktu itu saya belum punya raket mahal. Raket saya harganya Rp40 ribuan dibelikan orang tua,” lanjutnya.

Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas MOJOK.CO
Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas. (Eko Susanto/Mojok.co)

Awalnya Qonitah merasa minder. Sebab, anak-anak lain memakai raket seharga ratusan ribu rupiah.

Qonitah sempat meminta orang tuanya agar dibelikan raket—ya minimal—di harga Rp100 ribu. Namun, karena kendala uang, akhirnya Qonitah tetap berlatih dengan raket seadanya.

“Waktu itu sekolah tahu saya mau ikut event. Pihak sekolah terus minjami saya. Saya seneng banget,” tutur Qonitah.

Penderes medali emas para-badminton

Tak butuh waktu lama, Qonitah langsung moncer di bulu tangkis. Kala mengikuti sebuah event pelajar di Bandung, ia berhasil menorehkan medali perak. Kemudian mendapat medali emas di Perparnas Papua.

Bakatnya dilirik oleh tim scouting NPC Indonesia, sehingga ia dipanggil untuk mengikuti pelatnas menyongsong ASEAN Para Games 2022 Solo.

Di kejuaraan tersebut, perempuan dari perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Jogja itu menorehkan medali emas di nomor ganda putri bersama rekannya, Warining Rahayu asal Kota Bandung.

“Dari situ alhamdulillah saya terus dipercaya tampil di sejumlah kejuaraan, sampai sekarang,” ucapnya.

Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas MOJOK.CO
Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas. (Eko Susanto/Mojok.co)

Qonitah juga mendulang medali perunggu untuk nomor tunggal putri dan perak untuk nomor ganda putri di YONEX China Para Badminton International 2025 September 2025 lalu.

Paling baru, Qonitah baru saja dikukuhkan sebagai juara 1 tunggal putri (medali emas) di Polytron Indonesia Para Badminton International 2025 Solo.

Jika orang tua Qonitah merupakan penderes nira, maka Qonitah adalah seorang penderes (medali) emas.

Tertinggal jauh, tapi berbalik hingga lawan terjatuh

“Rezeki memang nggak ke mana ya. Padahal tadi sudah tertinggal jauh,” bisik Eko Susanto, fotografer Mojok, sesaat setelah Qonitah dinyatakan menang di final nomor tunggal putri kategori SL3 Polytron Indonesia Para Badminton 2025.

Di set pertama babak final itu, seperti kata Eko, Qonitah sebenarnya sempat tertinggal jauh dari lawannya: Meriam Eniola Bolaji dari Nigeria. Namun, perlahan tapi pasti, Qonitah justru berbalik unggul.

Kala papan skor menunjukkan angka 19:16 untuk keunggulan Qonitah, Meriam tampak meringis kesakitan. Ia sempat meminta pertandingan dihentikan beberapa saat.

Lawan Qonitah di final, Meriam Eniola Bolaji terkapar kesakitan MOJOK.CO
Lawan Qonitah di final, Meriam Eniola Bolaji terkapar kesakitan. (Eko Susanto/Mojok.co)

Sembari menahan sakit—karena kakinya diduga terkilir—Meriam lalu melanjutkan pertandingan. Susah payah ia meladeni Qonitah, sampai perempuan asal Kulon Porgo, Jogja itu menyentuh game point (20:16).

Di titik itu, Meriam tak kuasa melawan rasa sakitnya. Ia memilih walk out (WO). Menyerahkan kemenangan pada Qonitah.

Qonitah menjadi salah satu penyumbang emas yang membawa Indonesia menjadi juara umum Polytron Indonesia Para Badminton 2025 dengan raihan enam medali emas.

Qonitah Ikhtiar Syakuroh raih medali emas MOJOK.CO
Qonitah Ikhtiar Syakuroh raih medali emas. (Eko Susanto/Mojok.co)

“Saya selalu ingin membawa harum nama Indonesia,” ucapnya dengan senyum kalem dengan medali emas terkalung di lehernya.

“Bulu tangkis juga alhamdulillah mengubah banyak hal dalam hidup saya: ekonomi dan sudut pandang orang lain terhadap saya,” pungkasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kondektur Bus, Tukang Las Keliling, dan Jalan Hidup ke Bulu Tangkis Kursi Roda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 3 November 2025 oleh

Tags: bulu tangkisbulu tangkis difabelJogjaKulon Progopara badmintonqonitah ikhtiar syakuroh
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO
Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.