Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Kondektur Bus, Tukang Las Keliling, dan Jalan Hidup ke Bulu Tangkis Kursi Roda

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 November 2025
A A
Perjalanan hidup Supriadi menjadi atlet bulu tangkis kursi roda dan tampil di event internasional seperti Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo MOJOK.CO

Ilustrasi - Perjalanan hidup Supriadi menjadi atlet bulu tangkis kursi roda dan tampil di event internasional seperti Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Awalnya Supriadi (40-an) tidak menguasai bulu tangkis. Apalagi bulu tangkis kursi roda—salah satu kategori dalam para-badminton. Namun, dari keputusasaan karena kehilangan kaki kanan, ia kemudian menemukan nyala hidupnya kembali melalui olahraga di atas kursi roda.

***

Tangan memutar roda kursi untuk mengikuti arah shuttlecock yang dilayangkan lawan. Lalu dengan gegas harus menarik tangan dari roda untuk mengayunkan raket. Berkali-kali pula harus layback untuk mengantisipasi shuttlecock yang melambung melewati kepala. Jadi tangan harus benar-benar kuat, energi pun harus benar-benar besar.

Begitulah kira-kira gambaran setiap pertandingan bulu tangkis kursi roda. Dan itu sempat membuat Supriadi merasa kesulitan di awal-awal masa kariernya sebagai atlet bulu tangkis kursi roda. Terlebih memang, menjalani aktivitas—termasuk olahraga—di atas kursi roda bukanlah sesuatu yang ia sangka.

Supriadi, atlet bulu tangkos kursi roda di Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo MOJOK.CO
Supriadi, atlet bulu tangkos kursi roda di Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo. (Eko Susanto/Mojok.co)

Kondektur bus dan kecelakaan yang bikin mengurung diri

Supriadi lahir dan tumbuh di sebuah desa di Pati, Jawa Tengah. Ia lahir sebagaimana anak-anak kebanyakan. Di desanya dulu, ia bahkan aktif bermain voli bersama teman-teman desa lain.

“Dulu jarang kalau main bulu tangkis. Mukul saja sering luput,” ujar Supriadi di sela waktu istirahatnya usai bertanding di perempat final Polytron Indonesia Para Badminton International 2025 by Polytron, Bakti Olahraga Djarum Foundation, NPC Indonesia, dan BWF, Sabtu (1/11/2025) siang di GOR Manahan, Solo.

Masa ketika masih tinggal di Pati itu, Supriadi sempat bekerja sebagai kondektur bus untuk trayek Pati-Jepara. Kehidupan Supriadi berubah drastis ketia ia mengalami kecelakaan motor pada 2005, yang membuat kaki kanannya harus diamputasi.

“Awal-awal saya kecelakaan ya nggak terima. Karena keterbatasan fisik, jadi nggak bisa leluasa ke mana-mana. Keluar rumah juga nggak pede,” tutur Supriadi. Selama tujuh bulan Supriadi mengurung diri di rumah. Gairah hidupnya meredup.

Niat cari kaki palsu malah dapatkan gairah hidup lagi

Selepas tujuh bulan, Supriadi pelan-pelan mulai mencoba keluar rumah. Banyak teman desanya yang mengajaknya keluar, sekadar untuk ngopi.

Dari obrolan-obrolan tiap kumpul bersama teman-temannya, Supriadi yang awalnya berjalan mengandalkan tongkat sebagai penopang, lalu terpikir untuk memiliki kaki palsu.

Maka berangkat lah ia ke sebuah lembaga kemanusiaan di Solo. Di situ, Supriadi tak hanya mendapat kaki palsu, tapi juga gairah hidupnya kembali.

“Karena akhirnya saya melihat, ternyata yang lebih parah dari saya banyak: Nggak punya  dua kaki, nggak punya dua tangan, tapi semangat hidup mereka tinggi. Saya termotivasi,” kata Supriadi.

Kursi roda buatan sendiri untuk ikut bulu tangkis

Jalan hidup Supriadi ke bulu tangkis kursi roda kian dekat usai ia menikah pada 2009 dan pindah ke Sukoharjo. Kala itu, Supriadi mencoba bekerja sebagai tukang las, modal belajar otodidak.

Lambat laun, lewat sang istri, ia tahu bahwa ternyata ada komite olahraga khusus untuk teman-teman difabel.

Iklan

“Saya nggak langsung ke bulu tangkis kursi roda. Pada 2013 itu saya ikutnya voli duduk,” kata Supriadi.

Namun, Supriadi mengakui, ia amat kesulitan mengikuti cabang olahraga tersebut. Ia merasa tak begitu menonjol ketimbang rekan-rekannya di klub. Hingga akhirnya ia tahu ada cabang bulu tangkis kursi roda.

“Saya awalnya nggak tahu cabor ini. Tapi kok menarik, akhirnya saya ikuti,” akunya.

Supriadi, atlet bulu tangkos kursi roda di Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo MOJOK.CO
Supriadi, atlet bulu tangkos kursi roda di Polytron Indonesia Para Badminton 2025 Solo. (Eko Susanto/Mojok.co)

Sebenarnya butuh modal besar untuk menjadi atlet bulu tangkis kursi roda. Kursi roda yang dipakai harus memliki settingan dan standar khusus. Kalau beli, kata Supriadi, harganya bisa puluhan juta.

Maka, demi bisa bermain di cabor tersebut, Supriadi—dengan modal tutorial YouTube dan keterampilan las-nya—lantas mencoba merancang kursi rodanya sendiri. Memanfaatkan bahan-bahan seadanya.

Siang-malam kerja bengkel demi bulu tangkis kursi roda dan hidupi anak istri

Jalan Supriadi tak serta merta mulus dalam meniti karier di bulu tangkis kursi roda. Tidak hanya soal kursi roda khusus dan adaptasinya. Tapi karena ia bagaimanapun harus tetap menghidupi istri dan dua anak. Jadi tidak bisa hanya fokus mengejar karier menjadi atlet.

“Waktu itu 2016, rumah masih ngontrak, anak masih kecil-kecil. Jadi saya berpikir bagaimana latihan bisa berjalan, tapi kebutuhan rumah tangga juga tetap tercukupi,” beber Supriadi.

Supriadi usai pertandingan di Solo MOJOK.CO
Supriadi usai pertandingan. (Eko Susanto/Mojok.co)

Saat itu, Supriadi bisa dibilang memeras betul energinya. Pagi ia akan latihan. Siangnya ia akan bekerja di bengkel A sampai sore. Lalu malamnya ia akan kerja lagi di bengkel B.

Bahkan ia juga nyambi menjadi tukang las keliling tiap hari Minggu, mumpung tidak ada latihan dan pekerjaan lain.

Bengkel untuk teman-teman difabel

“Tapi Saya dulu di bengkel narget jangan lebih setahun. Setahun itu cukup buat cari ilmunya, untuk bekal buka bengkel sendiri,” kata Supriadi.

“Dan alhamdulillah sekarang punya bengkel sendiri. Punya pekerja juga di bengkel,” imbuhnya. Bengkel milik Supriadi di Sukahrjo bahkan kerap menjadi jujukan teman-teman difabel.

Sebenarnya Surpiadi punya spesialisasi memperbaiki vespa. Lalu, pada masa Covid-19, karena tak punya kegiatan, ia sempat coba-coba untuk modifikasi transportasi untuk teman-teman difabel.

Dari situ lah ia akhirnya kerap mendapat permintaan untuk modifikasi motor, mobil, dan lain-lain untuk menunjuang mobilitas teman-teman difabel.

Emas pertama yang tak terlupakan

Seiring itu, kiprah Supriadi di bulu tangkis kursi roda juga terus beranjak. Kendati baru ia rasakan di atas umur 30-an tahun.

Di antara perjalanannya mengikuti kejuaraan para-badminton, ASEAN Para Games 2023 di Kamboja menjadi kejuaraan tak terlupakan. Sebab, di ajang tersebut Supriadi menyabet medali emas pertamanya.

“Di tunggal putra dapat medali emas, di ganda putra dapat medali perunggu bareng Agung Widodo (rekannya),” terang Supriadi.

Supriadi berpasangan dengan Agung Widodo di bulu tangkis kursi roda MOJOK.CO
Supriadi berpasangan dengan Agung Widodo di bulu tangkis kursi roda. (Eko Susanto/Mojok.co)

Setelahnya, di tahun yang sama, ia juga menyabet dua gelar juara di FOX’S Indonesia Para Badminton International 2023 di Solo: Juara di tunggal putra dan ganda putra sekaligus.

“Sekarang saya kan sudah punya sendiri kursi roda yang sesuai standar. Kadang teringat dengan kursi roda yang saya buat sebagai simbol perjuangan,” ujar Supriadi.

Ah, sayangnya, kursi roda buatannya sendiri itu sudah tidak berbentuk. Supriadi sebenarnya sangat ingin menggantungnya di rumah. Namun, karena saat itu tidak cukup ruang, akhirnya ia preteli untuk tambahan material di bengkel.

Hal-hal manis di antara pahitnya hidup

Di Polytron Indonesia Para Badminton International 2025 Solo, langkah Supriadi dan pasangannya, Agung Widodo, harus terhenti di perempat final.

“The Daddies” versi bulu tangkis kursi roda Indonesia itu takluk dua set dari lawannya, pasangan Malaysia, Noor Azwan Noorlan dan Muhammad Ikhwan Ramli dengan skor akhir: 21:16, 21:6.

Langkah Supriadi dan Agung Widodo MOJOK.CO
Langkah Supriadi dan Agung Widodo. (Eko Susanto)

Rasanya pahit, pasti. Itu tergambar dari diskusi keduanya usai keluar lapangan. Ada beberapa hal yang mereka sesali selama pertandingan.

Namun, perjalanan hidup sudah membuktikan, Supriadi selalu bisa menemukan hal-hal manis di antara kehidupan pahit yang ia cecap. Kecewa karena kalah itu akan lewat. Lalu Supriadi akan menyongsong kejuaraan internasional berikutnya: Paralimpiade ASEAN Para Games 2026 di Thailand pada Januari 2026 mendatang.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Masa Kecil Dihina hingga Bertanding kala Hamil, Perjalanan Warining Rahayu Mendulang Emas Para-Badminton Berkali-kali dengan Tangan Kiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 2 November 2025 oleh

Tags: Badmintonbulu tangkisbulu tangkos kursi rodapara badmintonpilihan redaksisolosupriadisupriadi bulu tangkis kursi roda
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.