Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Pilihan Cholil Efek Rumah Kaca Sekolahkan Anak di New York, Awalnya Waswas tapi Kini Mensyukuri

Mohamadeus Mikail oleh Mohamadeus Mikail
10 September 2025
A A
Pilihan Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sekolahkan anak di New York MOJOK.CO

Ilustrasi - Pilihan Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sekolahkan anak di New York. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Vokalis Efek Rumah Kaca (ERK), Cholil Mahmud, memilih menyekolahkan anaknya di New York, Amerika Serikat, ketimbang di Indonesia. Mojok mencoba mengulik alasan atas pilihannya tersebut.

***

Pilihan menyekolahkan anak di New York sebenarnya motif sederhana: pertimbangan kemudahan jarak bersama keluarga. Sebab, saat itu  Cholil Mahmud bersama istrinya juga sedang melanjutkan studi di Amerika.

Saat itu, Cholil dan istri sedang melanjutkan studi S2. Setelah sama-sama lulus, istri Cholil masih melanjutkan studi Doctoral dan Post-Doctoral. Sedangkan Cholil memilih tidak melanjutkan.

“Anak gue masih kecil, jadi gue lebih sering nemenin anak ke sekolah, belajar, masak, dan lain-lain,” cerita Cholil kepada Mojok..

Lalu saat anaknya sudah lebih besar dan lebih mandiri (sekitar kelas 8 SMP), Cholil mulai menerapkan sistem “terpisah”. Dalam satu tahun, ia akan menghabiskan enam bulan di Amerika untuk menemani sang anak. Enam bulan sisanya akan ia gunakan di Indonesia untuk kepentingan band (Efek Rumah Kaca) dan lainnya. Dari situ, Cholil merasa lebih mantap menyekolahkan sang anak di New York saja.

Sejujurnya, Cholil masih menyimpan rasa waswas saat menyekolahkan sang anak di New York. Kekerasan senjata api di Amerika menjadi bayang-bayang tersendiri. Bahkan sekolah pun bisa jadi sasaran.

“Kita itu selalu ada di dalam ambang mengambil keputusan-keputusan besar. Hari ini seperti apa, besoknya bisa saja tiba-tiba berubah dan kita harus sudah siap,” ujar Cholil. Itulah yang membuatnya tetap menyekolahkan anaknya di New York.

Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca mensyukuri sekolahkan anak di New York

Awalnya waswas. Namun, seiring waktu, Cholil dan keluarga merasa ada beberapa keunggulan yang patut disyukuri dari menyekolahkan anak di New York. Salah satunya adalah social capital. Bahkan sang anak sendiri lambat-laun juga merasa lebih cocok sekolah di sana.

“Dengan dia sekolah di sana, dia dapat social capital dan itu menjadi penting,” kata Cholil.

“Orangtua kan sudah selesai dengan hidupnya, jadi gairah anak yang masih perlu mencari itu lebih butuh diberi wadah,” sambungnya.

Cholil Mahmud memang masih aktif nge-band bersama Efek Rumah Kaca. Namun, ia menegaskan bahwa anak menjadi prioritasnya dan istri saat ini. Cholil ingin mengupayakan apapun yang sang anak butuhkan.

Bahkan, jika sang istri berhenti bekerja sebagai pengajar di Amerika, sang istri tak akan tanggung-tanggung mengusahakan untuk mencari pekerjaan baru lagi di Amerika. Itu demi memfasilitasi kebutuhan sang anak.

Pilihan Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sekolahkan anak di New York MOJOK.CO
Pilihan Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sekolahkan anak di New York. (Mohamadeus Mikail/Mojok.co)

Pendidikan di New York menjanjikan pertumbuhan yang lebih baik

Seiring waktu vokalis Efek Rumah Kaca itupun menyadari, ternyata ada banyak keunggulan sistem pendidikan di New York, sangat baik untuk menunjang pertumbuhan anak.

Iklan

“Gue nggak mau mengeneralisir ya, tapi sering kali ketika ngobrol dengan anak-anak SMA di sana, daya pikir dan kemampuan mengutarakan pendapatnya sudah teratur,” beber Cholil Mahmud.

Beda dengan lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Cholil, terkadang cara mengutarakan pikirannya, untuk ukuran anak perguruan tinggi, masih belepotan.

Bukan tanpa sebab kenapa anak-anak usia SMA di New York memiliki cara pikir dan cara bertutur yang terstruktur. Bagaimana tidak, dari kelas 1 SD sekolah mewajibkan para siswa untuk membaca buku-buku cerita.

Dari buku tersebut para siswa ditugaskan untuk berdiskusi mengenai analisis konten buku, mulai dari sampul, judul, dan juga karakter dalam buku.

“Dalam diskusi itu ditanyakan karakter favorit siswa yang membaca, lalu apa yang akan mereka buat berbeda jika mereka yang menulis bukunya. Lalu juga betul nggak dugaan awal bukunya tentang apa dengan makna sebenarnya?” Papar Cholil.

“Bayangin dari kecil sudah digituin, ya nggak heran memiliki kemampuan beranalisis,” kata Cholil masih dengan kagum.

Oleh karena kemampuan analisis yang didapatkan dari sekolah di New York, Cholil akhirnya berani memberi kebebasan tertentu untuk anaknya.

Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca, tak cemaskan soal “ke-Indonesia-an” anak

Sejak dini, putra tunggal Cholil sudah banyak terpengaruh oleh media Barat. Wajar saja jika sang anak memiliki keterbatasan dalam bahasa Indonesia.

“Setiap orang pasti memiliki keterbatasan-keterbatasan. Tetapi bahwa kemampuan berbahasa dia itu penting, itu pasti,” ungkap Cholil.

Anak Cholil menerima beragam pelajaran bahasa non-Indonesia. Selain fasih berbahasa Inggris, juga berlatih bahasa Spanyol hingga Prancis.

Kendati lebih banyak terpapar “Barat”, namun Cholil percaya, kelak seiring waktu sang anak akan memiliki pertimbangan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia juga sebagai bahasa leluhurnya. Sehingga ia tak terlalu mencemaskan perihal “ke-Indonesia-an” sang anak.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Mojok periode Juli-September 2025. 

Penulis: Mohamadeus Mikail
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ildo Perunggu: Dari “Anak Kantoran” Jadi Full Time Drummer demi Tebus Waktu bersama Keluarga Kecilnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 September 2025 oleh

Tags: cholil erkcholil mahmudefek rumah kacaERKpilihan redaksi
Mohamadeus Mikail

Mohamadeus Mikail

Artikel Terkait

Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal.MOJOK.CO
Ragam

Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026
Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

4 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.