Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Beda Gaya Komedi Jogja vs Jawa Timur dan Upaya Pelawak Tua Susah Payah Mengikuti Pelawak Muda yang Dar Der Dor

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Desember 2024
A A
Beda gaya komedi Jogja dan Jawa Timur, serta bagaimana pelawak tua seperti Marwoto bertahan di tengah gaya komedi modern MOJOK.CO

Ilustrasi - Beda gaya komedi Jogja dan Jawa Timur, serta bagaimana pelawak tua seperti Marwoto bertahan di tengah gaya komedi modern. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam sejarahnya, gaya komedi pelawak memiliki perbedaan khas antara satu daerah dengan daerah lain. Misalnya, gaya komedi pelawak Jogja ternyata berbeda dengan gaya Jawa Timuran. Begitu juga dalam konteks zaman. Gaya komedi zaman dulu tentu berbeda dengan sekarang. Di antara perbedaan-perbadaan tersebut, salah satunya dibabarkan oleh pelawak legendaris, Sri Slamet Sumarwoto (72) atau yang kemudian dikenal dengan nama panggung Marwoto.

Marwoto dilahirkan memang untuk mengisi jagat komedi tanah air. Kalau mau sedikit berlebihan, ya sebut saja begitu. Sebab, di tengah industri komedi yang terus berkembang, dia menjadi salah satu sosok lawas yang masih bisa eksis di panggung hiburan. Bahkan dia juga bisa “menyelinap” dalam kelompok-kelompok komedi anak muda.

Javanes Gipsy: ketoprak tobong

Marwoto mulai terjun di dunia komedi sejak 1982. Di masa-masa awal kariernya, dia sempat ikut dalam kelompok ketoprak tobong. Yaitu kelompok pelawak yang keliling dari satu daerah ke daerah lain.

Yang menarik dari ketoprak tobong, serombongan kru ketoprak berkeliling sembari membawa set panggung. Di set panggung itu pula mereka akan berpindah-pindah. Itulah kenapa sampai ada istilah “Javanes Gipsy” untuk menyebut kelompok ini. Karena memang mirip dengan cara hidup kelompok Gipsy yang berpindah-pindah tempat tinggal.

Bedanya, Gipsy membawa narasi anti kemapanan. Sementara ketoprak tobong berkeliling untuk melestarikan kesenian.

Dari ketoprak tobong dan persinggungan Marwoto dengan dunia komedi di berbagai daerah, dia akhirnya belajar banyak perihal gaya berkomedi: termasuk juga menemukan mana bedanya.

Komedi Jogja vs komedi Jawa Timur

Selain di Jogja, kelompok ketoprak tobong yang diikuti Marwoto kerap berkeliling di daerah-daerah Jawa Timur.

“Kalau di Jawa Timur, gaya komedinya itu tektokan. Saling sahut. Dan itu bisa ger,” jelas Marwoto dalam perbincangan di konten Sebat Dulu yang tayang di kanal YouTube Mojokdotco. Karena memang pada dasarnya gaya ketoprak khas Jawa Timuran, seperti ludruk, memang menggunakan kekuatan verbal para penampil.

Sementara kalau gaya komedi Jogja, lanjut Marwoto, adalah gaya komedi improvisasi. Terutama dalam merespons atau memanfaatkan benda atau properti yang disediakan di panggung.

“Misalnya, dulu kalau ketoprak kan panggungnya ada gambar rumah. Di rumah itu ada gambar kentongannya. Nah pas dipukul, ternyata gambar kentongannya bisa bunyi. Padahal di belakang gambar kentongan itu sudah dipasang kentongan asli. Itu sudah lucu,” beber Marwoto.

Membuat materi komedi tak semudah yang dibayangkan

Menjadi pelawak atau menyusun materi komedi, kata Marwoto, tidak pernah semudah yang banyak orang bayangkan.

“Jadi pelawak itu harus belajar terus. Harus mengikuti tren untuk mencari bahan yang lucu dan ger,” ungkap Marwoto.

Lebih-lebih, di era modern ini, tantangannya lebih besar lagi ketimbang era dulu sebelum era digital. Dulu, satu materi komedi masih bisa dibawakan berulang-ulang dan akan tetap lucu.

Iklan

Sebab, audiens di daerah A tentu akan berbeda dengan audiens di daerah B. Walaupun tetap ada keharusan untuk mengikuti tren yang berkembang di era itu, tapi tantangannya tidak sebesar sekarang.

“Sekarang ada YouTube. Kalau nggak update, lawakannya ya jadi basi,” ucap Marwoto. Mengingat, satu konten komedi bisa diakses dan terdistribusi dalam skala massal.

Berbaur dengan pelawak muda

Pasar komedi saat ini (komedi modern) bisa dibilang sedang dipegang oleh gaya stand up comedy. Bahkan, stand up comedy menjadi industri yang cukup menjanjikan dalam konteks eskalasi karier maupun ekonomi.

Itulah kenapa sekarang banyak komunitas stand up comedy tersebar di banyak daerah. Sekalipun di daerah-daerah kecil.

Stand up comedy kemudian terbukti melahirkan pelawak-pelawak muda yang jauh lebih segar, cerdas, dan cepat merespons tren. Marwoto pun mengamini itu.

Maka, dalam pusaran para pelawak muda, pelawak tua seperti Marwoto hanya punya dua pilihan: mengikuti mereka atau terbenam. Marwoto memilih yang pertama.

“Akhirnya ya belejar lagi, mencoba mengikuti gaya mereka, walaupun dengan susah payah,” tuturnya.

“Kolaborasi antara pelawak tua dan muda itu perlu. Biar ada pertukaran energi (kreatif) antara senior ke junior dan sebaliknya. Kalau sudah terjalin, selebihnya nanti mengalir,” imbuhnya.

Itulah kenapa Marwoto jadi salah satu dari sedikit pelawak-pelawak tua yang masih eksis di panggung hiburan tanah air.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Susahnya Jadi Komika, Melucu di Stand Up Comedy Itu Tak Semudah di Layar Kaca

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2024 oleh

Tags: biodata marwotokomedimarwotopelawakstand up comedy
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO
Ragam

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal
Video

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Udin Amstrong: Menertawakan Hidup dengan Cara Paling Jujur
Video

Udin Amstrong: Menertawakan Hidup dengan Cara Paling Jujur

2 Desember 2025
Harda Kiswaya: Pemimpin yang Tak Mendekatkan Diri dengan Tuhan Akan Sombong dan Sok Kuasa
Video

Harda Kiswaya: Pemimpin yang Tak Mendekatkan Diri dengan Tuhan Akan Sombong dan Sok Kuasa

25 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh  MOJOK.CO

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.