Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Kuliner Magelang dalam Stiker: Berharap Lesah, Senerek, dan Es Pleret Seperti Kuliner Korea yang Ada di Drakor

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
15 Mei 2024
A A
Kuliner Magelang dalam Stiker, Berharap Lesah, Senerek, dan Es Pleret Seperti Kuliner Korea yang Ada di Drakor MOJOK.CO

Kuliner Magelang dalam Stiker, Berharap Lesah, Senerek, dan Es Pleret Seperti Kuliner Korea yang Ada di Drakor. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliner khas Magelang itu bukan hanya getuk, senerek, atau kupat tahu. Ada puluhan makanan lain yang muncul dalam pameran stiker pertama kali di Indonesia yang berlangsung di Kota Magelang. 

***

Pak Hartadi (55) mengingatkan saya untuk segera menyantap lesah buatannya. “Nyuwun sewu, lesah enaknya dimakan pas hangat, Mas,” kata laki-laki setengah baya tersebut saat melihat saya justru asyik ngobrol dan mendiamkan hidangan yang sudah ia siapkan. 

Menikmati lesah di Magelang on Stickers 

Lesah ini makanan khas asal Magelang serupa dengan soto, tapi kuahnya bersantan. Siang menjelang sore, Kota Magelang diguyur hujan, maka hidangan lesah jadi pengusir dingin di gedung Lokabudaya, Alun-alun Selatan Kota Magelang, Sabtu 11 Mei 2024. 

Sudah 30 tahun ini Hartadi jualan lesah, makanan khas Magelang di Taman Kyai Langgeng. Sebuah tempat rekrekasi di Kota Magelang. Malam itu hingga 16 Mei 2024 ia akan jualan lesah, senerek dan es pleret di bagian belakang ruang pameran. 

Panitia Magelang on Stickers #1 #Kemceria ini dengan sengaja mengundang Pak Hartadi untuk jualan di belakang lokasi pameran. Mereka tahu, bahwa pengunjung pameran akan tergoda rasa laparnya begitu melihat 87 stiker yang mengusung tema kuliner-kuliner khas Magelang. 

“Ini kalau ada makanannya lebih mantap,” kata saya kepada Manajer Sponsorship Magelang on Stickers #1 Muhammad Reza yang menemani melihat-lihat stiker yang dipamerkan. 

Kuliner Magelang dalam wujud stiker MOJOK.CO
Lebih dari 80 kuliner Magelang dipamerkan dalam wujud stiker di Lokabudaya Magelang, 11-16 Mei 2024. (Agung Purwandono/Mojok.co)

Ada 87 karya terkurasi hasil kontes desain stiker tingkat nasional dengan 45 ilustrator atau desainer dari berbagai daerah di Indonesia. Tema yang diusung adalah #Kemceria yang menyajikan puluhan desain stiker dengan konten berupa visualisasi pelbagai jenis kuliner Magelang Raya  talenta lintas pulau.

“Ini merupakan pameran stiker tematik terbesar di Indonesia. Untuk peserta dari Magelang sendiri ada sekitar 40 orang sendiri atau hampir 50 persen, selain mempromosikan makanan khas Magelang, ini juga jadi ajang desainer atau ilustrator asal Magelang unjuk gigi,” kata Muhammad Reza. 

Selain memamerkan stiker kuliner Magelang, pameran ini juga menyajikan stiker-stiker karya desainar dari berbagai belahan dunia yang diusung oleh Stickers Picnic’s Archives.

Kuliner Magelang dalam stiker di tahun-tahun selanjutnya

Festival Director Kury Yusuf mengatakan, Magelang on Stickers merupakan bagian dari roadmap 5 tahun dari Komite Ekraf Kota Magelang. Tahun pertama sengaja mengambil tema kuline. Alasannya untuk mengenang sebuah kota, paling mudah dari lidah atau kulinernya. 

“Ngomongke Jogja, pasti gudeg. Begitu juga ngomongke Magelang, itu getuk, jadi untuk yang pertama ini kami mengambil kuliner,” kata Kury Yusuf. 

Sebenarnya program Magelang On Stickers awalnya dilangsungkan akhir Ramadan. Harapannya para perantau asal Magelang menyaksikan pameran dan bisa membawa oleh-oleh berupa stiker makanan khas Magelang ke perantauan. “Stiker bisa dipasang di helm atau dimanapun, dari situ langkah pertama dari gastro diplomasi bisa berjalan,” kata Kury Yusuf. 

Ia mencontohkan dua negara yang berhasil melakukan gastro diplomasi adalah Thailand dan Korea Selatan. “Propaganda gastronomi mereka lewat film dan serial TV (drakor) berhasil, terbukti digandrungi orang-orang dari berbagai belahan dunia. Efeknya makanan khasnya laris di pasar luar negeri. Aspek kultural lainnya turut memantik rasa penasaran khalayak hingga mengundang jutaan wisatawan berkunjung ke negara tersebut,” jelas Kury Yusuf.

Iklan

Mengenalkan kuliner Magelang lewat stiker

Mojok berbincang dengan dua desainer asal Magelang yang terlibat, Ilham (26) dan Mas Mul (32). Ilham menampilkan karya desain getuk dan senerek. “Untuk getuk, orang luar Magelang mungkin sudah tahu, sedangkan senerek itu nggak terlalu banyak orang di luar Magelang yang tahu. Meski sebenarnya makanan ini ada pengaruhnya dari Belanda,” kata Ilham. 

Menurut Ilham, keberadaan warung senerek di wilayah perkotaan Magelang mungkin tidak terlalu banyak, tapi di kampung-kampung di Magelang Raya, masih banyak warung-warung yang menjualnya. 

“Senerek, mangut beong, grubi, getuk, es pleret,” kata Ilham cepat ketika saya memintanya menyebutkan lima nama kuliner yang lekat dengan Magelang.

Walikota Magelang Dr M Aziz usai membuka pameran melihat sekaligus memilih satu karya yang akan jadi merchandise resmi Pemkot Magelang
Walikota Magelang Dr. M. Aziz usai membuka pameran melihat sekaligus memilih satu karya yang akan jadi merchandise resmi Pemkot Magelang. (Dok.MoS)

Desainer lain, Mul (32) mengatakan, makanan khas Magelang yang menurutnya sangat melekat dalam otaknya adalah senerek. Baginya, makanan ini bukan sekadar makanan, tapi juga menjadi ruang sosial bersama teman-temannya. 

“Saya kuliah di Jogja, kalau pulang ke Magelang itu ngumpul bareng teman-teman itu ya di warung senerek, makanya nyantol di pikiran,” kata Mul. 

Beberapa stiker menyebut Semanggi. Saya pikir itu juga merupakan makanan khas Magelang, tapi ternyata itu adalah sebuah nama tempat di Magelang yang identik sebagai tempat orang mencari minuman Es Pleret. Minuman khas Magelang yang terbuat dari tepung beras. 

Kesempatan seniman Magelang manfaatkan IP

Pameran stiker berupa kuliner Magelang menjadi proyeksi gerakan ekonomi kreatif yang mengarusutamakan optimasi karya visual sebagai intellectual property (IP) sekaligus menunjang ekosistem pariwisata. 

Salah satu IP-nya,  di arena pameran, pengunjung bisa membeli stiker dari desain-desain yang dipamerkan. Harganya juga sangat terjangkau, Rp5000 untuk satu stiker. “Bagaimana kalau ada yang ingin buat kaos dengan desain stiker yang dibuat,” tanya saya. 

“Kalau seperti itu model IP-nya, misalnya mau cetak kaos sebanyak 50 buah, harganya 100 ribu, desainer akan dapat 20 persen dari harga jual kali jumlah kaosnya. Itu kalau di pameran, kalau di luar pameran tergantung dari pembicaraan antara pemesan dan desainernya,” kata Kury Yusuf. 

Walikota Magelang Dr. M Aziz mengatakan pameran seperti Magelang on Stickers pelan-pelan akan dilangsungkan rutin. Harapannya, orang dari luar Magelang akan datang untuk belanja, menginap, menikmati suasana Kota Magelang, termasuk yang di Kabupaten Magelang. 

Rangkaian acara Magelang on Stickers akan berakhir, Kamis 16 Mei 2024 dengan diskusi dengan tema, “City Branding: Pasca-Sejuta Bunga, Lalu Apa?” pukul 14.00-16.00 WIB dan “Maskot untuk Magelang Kota”, pukul 19.00 – 21.00 WIB.

Penulis: Agung Purwandono
Editora: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Rujak Es Krim Pak Nardi, Pertama di Jogja dan Impian yang Terwujud Setelah 40 Tahun

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.



Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2024 oleh

Tags: getukkuliner magelangmagelangmagelang on stickersstiker
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Eksplor

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Melihat semarak event lari Tidar Borobudur 10K yang diikuti 8000 pelari, Magelang punya potensi jadi jujukan sport tourisme MOJOK.CO
Kilas

Rute Lari Sejuk dan Nyaman di Magelang, Jadi Destinasi Sport Tourism seperti Tidar Borobudur 10K yang Diminati Banyak Orang

24 Mei 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO
Cuan

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.