Rania (28) terpaksa kuliah di jurusan yang sama sekali tak ia hendaki. Selama empat tahun kuliah ia merasa salah jurusan, tapi tak bisa berhenti di tengah jalan. Namun, setelah lulus kuliah, ia malah mendapatkan berkah.
***
Tahun 2018, Rania adalah gambaran nyata dari anak IPA yang kelewat percaya diri. Saat masa pendaftaran SBMPTN (sekarang SNBT) tiba, ia sudah menyusun rencana yang matang.
Pilihan pertamanya adalah Teknik Sipil, sedangkan pilihan keduanya Statistika. Kata dia, keduanya sangat sejalan dengan otaknya yang “gila hitung-hitungan” dan punya prospek kerja yang menurutnya paling cerah.
Sistem SBMPTN saat itu membolehkan setiap peserta memilih maksimal tiga jurusan. Merasa sayang kalau ada kolom yang kosong, tangan Rania gatal. Tanpa pikir panjang, ia asal mengklik jurusan Ilmu Sejarah di sebuah perguruan tinggi negeri.
“Saat itu kelewat pede aja sih klik Ilmu Sejarah. Buat lengkap-lengkapin aja. Saingannya juga paling dikit, jurusan nggak ada yang lirik,” ungkapnya, Minggu (5/4/2026).
Plot twist! Malah diterima di pilihan ketiga, tapi tak bisa nolak
Hari pengumuman pun tiba. Dan, plot twist-nya, ia malah dinyatakan diterima di Ilmu Sejarah. Niat awalnya saat itu sangat mantap: batalkan saja. Rania lebih memilih menganggur setahun (gap year) dan belajar lagi untuk ikut tes tahun depan.
Sayangnya, realita ekonomi keluarga langsung menampar niatan itu. Rania adalah pendaftar jalur beasiswa Bidikmisi. Bantuan ini bukan sekadar uang jajan tambahan, tapi penyambung nyawanya untuk bisa kuliah.
“Kalau aku lepas, misalnya mutusin buat gap year, belum tentu juga aku dapat Bidikmisi lagi,”kata dia. “Dapet duit dari mana ortu buat biayain kuliahku?”
Selain itu, dari yang Rania dengar, “kabur” dari bakal berdampak buruk bagi sekolahnya. Pada tahun 2018, panitia mencatat ada sekitar 860 ribu pendaftar SBMPTN secara nasional, sedangkan kuota Bidikmisi sangat terbatas.
“Ada hukum tak tertulis, kalau siswa jalur beasiswa berani menolak kursi yang sudah didapat, nama sekolah asalnya akan masuk blacklist di kampus tersebut. Ya aku nggak mau kelak adik-adik kelas kena getahnya.”
Alhasil, demi menjaga nama baik sekolah dan ketakutan gagal kuliah, Rania menelan egonya. Ia mengambil kursi Ilmu Sejarah itu.
Kuliah ngang-ngong ngang-ngong, nggak paham pembahasan
Dan, benar saja. Masuk ke jurusan yang sama sekali tak diinginkan, menjadi siksaan tersendiri bagi dirinya. Otaknya yang sejak lama di-setting sebagai “anak IPA banget”, terpaksa harus mengikuti perkuliahan yang lebih banyak hafalannya.
“Tiap hari disuruh bikin esai. Nulis. Harus menghafal banyak peristiwa. Itu bukan aku banget.”
Rania mengaku, di kelas, ia sering terdiam. Bahasa dia: “ngang-ngong ngang-ngong”. Misalnya, kalau ada diskusi seru soal peristiwa sejarah tertentu, ia memilih jadi pendengar saja.
“Daripada sekalinya ikut berargumen malah diketawain,” kata dia.
Ia pun sering merasa salah jurusan dan terus dihantui pertanyaan: besok kalau lulus mau kerja apa? Namun, karena terikat Bidikmisi, ia tak punya pilihan untuk menyerah. IPK-nya juga harus dijaga agar uang beasiswa tidak diputus.
Baca halaman selanjutnya…
Setelah lulus kuliah malah mudah dapat kerja. Bisa nikmati upah layak dan bonus besar.














