Bikin gila mahasiswa UGM lainnya yang berusaha mati-matian mempertahankan mutu
Meskipun sebenarnya, Nabila mengatakan, dirinya tidak sepenuhnya menentang penggunaan AI. Bagaimanapun, perkembangan teknologi patut dimanfaatkan sehingga penggunaan AI diperbolehkan dalam batas seharusnya.
Seperti halnya etika penulisan artikel jurnal internasional yang mensyaratkan pencantuman penggunaan AI. Penggunaan dalam batasan untuk memaksimalkan tulisan, seperti pengecekan tata bahasa, tidak perlu dianggap berada dalam batas yang dapat diterima sehingga tidak perlu dijabarkan. Sementara itu, penggunaan lain wajib dicantumkan untuk dapat memverifikasi akurasi dari temuan dan orisinalitas.
Artinya, penggunaan akal imitasi tidak dipermasalahkan selama tidak mengambil alih fungsi akal utama manusia sebagai penggunanya sendiri.
Nabila mengaku, dia juga menggunakan AI untuk dapat mendukung kebutuhan kuliah. Lebih tepatnya, memaksimalkan capaian dalam kuliah. Misalnya, penggunaan AI seperti NotebookLM dimanfaatkan untuk akselerasi pembacaan dan pemahaman.
Sebab, pembacaan sendiri sering memakan waktu lebih lama.
“Aku tuh bisa yah baca paham gitu, tapi takes time,” kata dia.
Maka dari itu, ia bersiasat dengan melakukan pembacaan sekali. Kemudian, mengoperkan materi pembacaan ke AI, lalu membacanya kembali bersama untuk didiskusikan.
“Makanya hadir NotebookLM sangat membantuku, mempercepat pembacaan dan pemahaman aja,” kata dia menutup.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














