Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jalan Sewandanan Jogja Memotret Kepiluan Tukang Becak yang Siap Mati Kelaparan di Dekat Pura Pakualaman

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Juni 2024
A A
Jalan Sewandanan Jogja Memotret Kepiluan Tukang Becak Dekat Pura Pakualaman: Kesepian dan Siap Mati Kapan Saja karena Kelaparan.MOJOK.CO

Ilustrasi Jalan Sewandanan Jogja Memotret Kepiluan Para Lansia di Dekat Pura Pakualaman: Kesepian dan Siap Mati Kapan Saja karena Kelaparan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di luar tembok kokoh Pura Pakualaman, Kota Jogja, ada kisah-kisah getir yang menyelimutinya. Tak jauh dari bangunan istana ikonik itu, banyak lansia yang berprofesi jadi tukang becak menderita. Tanpa penumpang, kelaparan, bahkan mengaku siap mati kapan saja.

***

Iklan

Siang itu, Kamis (6/6/2024), saya sebenarnya hendak mencari spot kulineran di sekitar Pura Pakualaman untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Sejak pagi, perut ini memang belum terisi nasi. Ia baru kemasukan beras kencur plus madu, anggur, dan telur yang saya beli di warung jamu Ginggang Pakualaman, Kota Jogja.

Selepas njamu, saya meminta rekomendasi kepada Ida (60), salah seorang peracik jamu senior di warung itu, terkait spot kulineran di dekat sana. Ida mengatakan, dulu di kompleks Alun-Alun Sewandanan, masih banyak pedagang makanan yang bisa kita jumpai. Pilihannya pun juga amat beragam, mulai dari bakso-baksoan, soto, ketoprak, hingga es-esan yang pernah viral pada masanya.

Namun, sejak berdirinya Pasar Sentul yang lokasinya tak jauh dari alun-alun milik Pakualaman itu, para pedagang direlokasi ke sana. “Sekarang udah nggak boleh jualan di [alun-alun] Sewandanan. Kalau mau cari makan ke lantai paling atas Pasar Sentul, Mas,” ujar Ida.

Akhirnya, saya pun memutuskan berjalan kaki menuju Pasar Sentul melewati Alun-Alun Sewandanan, tempat spot kuliner dulu pernah ramai. Dengan tergesa-gesa karena sudah kelaparan, perhatian saya justru teralihkan dengan pemandangan memilukan di Jalan Sewandanan, hanya berjarak beberapa langkah dari bekas istana pangeran Paku Alam itu.

Di sana ada seorang lelaki tua, duduk sendirian di atas becaknya, terpisah dari keramaian, melamun dengan tatapan kosong.

Wisatawan Jogja makin ramai, tapi tukang becak di dekat Pura Pakualaman makin terasing

“Monggo, Mas. Ke Malioboro 20 ribu saja,” ujar lelaki yang awalnya melamun tadi, setelah melihat saya berjalan kaki seorang diri ke arahnya.

Dengan halus saya menolak tawaran itu, karena memang tujuan saya bukan ke Malioboro. Melainkan Pasar Sentul, yang bisa saya tempuh dua menit berjalan kaki dari lokasi kami berbincang. Raut muka kecewa pun tak dapat ia sembunyikan.

“Sepi itu, Mas, pasarnya. Yang ke sana sepi, pedagang jualannya sepi, kami yang narik becak pun juga kena sepinya,” keluhnya.

Jalan Sewandanan Jogja Memotret Kepiluan Para Lansia di Dekat Pura Pakualaman: Kesepian dan Siap Mati Kapan Saja karena Kelaparan.MOJOK.CO
Jalan Sewandanan, lokasinya dekat Pura Pakualaman Jogja, tempat para tukang becak menanggung derita masa tua. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Sudarmo, nama lelaki tersebut, sudah sejak 1980-an berprofesi sebagai penarik becak di dekat Pura Pakualaman. Dinamika zaman pun sudah ia lewati. Mulai dari masa kejayaannya pada 1990-an sampai awal 2000-an, penghasilan mulai surut, hingga era paceklik seperti sekarang ini.

“Wisatawan makin banyak yang datang ke Jogja tapi penghasilan tukang becak kayak saya malah makin nggak ada,” kata lelaki yang saya taksir berusia 60-an tahun itu.

“Sehari ada satu penumpang saja sudah sangat bersyukur,” imbuhnya.

Tiga hari tanpa penumpang, tukang becak dekat Pakualaman sudah siap mati di kapan saja

Sudarmo mengakui, sejak pandemi Covid-19 lalu, penghasilan tukang becak seperti dirinya memang turun drastis. Dulu, ia masih sering mengantar beberapa penumpang dari Pakualaman ke Malioboro atau dicarter dari rumah ke pasar. Namun, kondisi tersebut berbeda 180 derajat hari ini.

Iklan

“Pakualaman nggak seramai dulu gara-gara jajanannya pada dipindah [ke Pasar Sentul]. Jadinya susah dapat penumpang,” kata Sudarmo. “Kalau mengharapkan dapat penumpang dari Pasar Sentul agak susah, orang pasarnya aja sepi,” sambung pria tua asli Jogja ini.

Ia menyebut, ada banyak kawan-kawan seprofesinya yang sudah mulai “berguguran”. Awalnya, saya mengira “gugur” dalam arti berhenti narik becak dan mencari profesi lain. Ternyata, gugur yang Sudarmo maksud adalah dalam arti yang sebenarnya alias meninggal dunia.

Ada yang meninggal di jalanan karena kelaparan–seperti yang pernah viral. Ada juga yang meninggal di rumah karena sakit dan tak punya uang buat berobat.

Baca halaman selanjutnya…

Siap mati kapan saja karena tak diperhatikan penguasa.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2024 oleh

Tags: Jogjakota jogjaPakualamanpakualaman jogjapilihan redaksipura pakualamantukan becak jogjatukang becak jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.