Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
30 Januari 2026
A A
Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Toleransi dan tidak mengusik lewat kebisingan

Hal lain yang Geraldi syukuri dari tinggal di sebuah kompleks perumahan adalah: tingkat toleransinya. Sesederhana: masjid hanya akan menggunakan speaker luar untuk azan dan pengumuman penting. 

Sisanya, untuk ngaji, salat, salawat, dan kegiatan keagamaan lain lebih sering menggunakan speaker dalam. Itu membuat Geraldi—sebagai umat Kristiani—merasa nyaman karena dihargai. 

“Yang jelas, perumahan itu hening. Nggak mungkin ada tetangga yang geber motor lama, muter sound system kenceng-kenceng, yang bikin bayi tetangga susah tidur misalnya. Apalagi di desa yang warganya penggila sound horeg,” kata Geraldi. 

Barangkali bagi warga desa kehidupan semacam itu adalah kenormalan. Tapi Geraldi hanya ingin meluruskan, bahwa hidup di sebuah kompleks perumahan itu tidak semengerikan itu hanya karena salah kaprah mengartikan konsep “individualistik”. Karena berkat cara hidup “masing-masing” itulah, ia merasa bisa menemukan ketenangan, slow living. 

Bisa frugal living karena tidak harus “menyenangkan tetangga”

Seorang teman sampai menyebut, alasan kenapa di desa terlalu banyak acara—dan seperti diharuskan ada—tidak lain adalah untuk menyenangkan tetangga. 

Pasalnya, misalnya saja, ketika ada orang menggelar resepsi pernikahan, kalau acaranya tidak dibuat besar-besaran, takutnya bakal diolok-olok tetangga. Dianggap pelit lah, sombong karena tidak mengundang tetangga lah, dan macam-macam. 

Alhasil, alih-alih frugal living, yang ada justru boncos terus-menerus. Kalau sudah menjadi tradisi, ya harus diikuti tanpa toleransi. Kalau memang tradisi menikah adalah mengundang tetangga, atau kalau memang tradisi saat kematian orang adalah menggelar tahlilan dengan menyiapkan sekian banyak hidangan, maka punya atau tidak punya uang, bagaimana pun caranya tetap harus dilakukan. 

“Kalau ada kematian di tempatku, tahlilan atau doa bersama paling cukup di hari pertama kematian dan hari ketujuh. Setelahnya, paling keluarga sendiri yang kirim doa, nggak harus bikin acara buat mengundang tetangga,” begitu pengakuan Elmira (24), perempuan yang mengaku tinggal di sebuah kompleks perumahan non elite di Sidoarjo, Jawa Timur. 

Tak ada beban utang-piutang dan tradisi yang dipaksakan

Sejauh masa tinggalnya di sana, ia mengaku nyaris tidak menemukan tradisi mengikat yang selalu harus melibatkan tetangga. Selain soal tahlilan di atas, contoh lain adalah pernikahan. 

Jika sebuah keluarga menghendaki menggelar resepsi pernikahan secara intimate (sekadar akad dan kumpul keluarga), tetangga tidak akan mempermasalahkan. Biasa saja. Ada kesadaran: ya kan memang itu acara buat keluarga itu. 

“Sementara dari cerita-cerita temanku, di desa mengerikan. Sekali tetangga nggak dilibatkan, bisa habis nama si pembuat acara itu,” ucap Elmira. 

Kalau toh ada sebuah keluarga yang saat membuat acara melibatkan tetangga, tidak berlaku skema utang-piutang. Kalau seseorang nyumbang uang, malah seringnya memberi amplop tanpa nama. Si penggelar acara pun secara otomatis tidak punya kewajiban untuk mencatat jumlah uang dalam amplop yang diterima dan tidak dibebani keharusan mengembalikannya.

Jadi malah relatif bisa frugal living. Karena pemasukan sebuah keluarga memang hanya difokuskan untuk kebutuhan keluarga. Tanpa harus dibebani acara atau tradisi sebagaimana di desa yang terkesan dipaksakan untuk diadakan-adakan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Iklan

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: Desafrugal livinggotong royong di perumahanhidup bertetangga di desakehidupan sosial perumahankelebihan tinggal di perumahanperumahanperumahan eliteperumahan surabayaslow livingslow living di desatradisi desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO
Sehari-hari

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO
Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living
Catatan

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur.MOJOK.CO

Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik

5 Mei 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
lulusan unesa dapat beasiswa dan langsung kerja. MOJOK.CO

Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa

11 Mei 2026
Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.