Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
30 Januari 2026
A A
Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tinggal di sebuah kompleks perumahan—apalagi perumahan elite—selama ini terlanjur digambarkan dengan narasi tidak menyenangkan. Terutama di kalangan orang-orang desa. Ternyata, bagi sebagian orang, yang terjadi justru sebaliknya. Tinggal di kompleks perumahan jauh lebih bisa “slow living” dan “frugal living” ketimbang hidup di desa. 

***

Tiap melewati sebuah kompleks perumahan semi elite di Surabaya, dulu di masa kuliah, saya dan seorang teman yang sama-sama berasal dari desa pasti saling bergumam: Kehidupan macam apa ini? Tidak ada interaksi sosial dengan tetangga, fokus hidup sendiri-sendiri, ah betapa kesepiannya hidup seperti itu. 

Bagaimana tidak. Sebuah kompleks perumahan tersebut nyaris tanpa kehidupan bersosial. Sepanjang waktu pagar dan pintu rumah tertutup. Hanya kelihatan ada orang di pagi hari, di jam-jam berangkat kerja. Sementara kalau malam, jam 7 sudah lengang. 

Tapi ternyata, kehidupan semacam itulah yang kini justru dikehendaki banyak orang. Sebuah gambaran ideal tentang hidup slow living dan frugal living. Sebab, dua hal itu nyarus susah ditemukan dalam kehidupan di desa, seperti pengakuan beberapa orang dalam liputan “Omong Kosong Slow Living dan Frugal Living di Desa”. 

Salah kaprah soal “individualistik” warga perumahan 

Sebagai penghuni kompleks perumahan semi elite di Surabaya sejak kecil, Geraldi (26) pertama-tama ingin membantah soal anggapan bahwa antarwarga di sebuah kompleks tidak saling peduli satu sama lain. Narasi yang digunakan adalah “individualistik”. 

Bagi Geraldi, individualistik itu beda dengan egois. Salah kaprah banyak orang adalah menganggap keduanya punya representasi yang sama. 

“Individualistik di perumahan itu artinya kami fokus ke urusan masing-masing. Nggak mau ikut-ikutan urusan orang lain,” ungkap Geraldi, Kamis (29/1/2026). 

Justru itulah wujud kepedulian satu sama lain. Karena peduli dengan privasi orang lain, maka antarwarga memilih untuk tidak saling mencampuri atau bahkan merecoki urusan tetangga.  Maka, tidak akan ditemukan budaya saling menggunjing apalagi saling fitnah sebagaimana umum terjadi di desa. Itulah gambaran kehidupan slow living ideal bagi Geraldi. 

“Kalau nggak sukses nggak takut dicemooh tetangga. Kalau sukses nggak dicari-cari kesalahan kita. Mau begini nggak waswas jadi omongan. Mau begitu nggak harus memikirkan perasaan dan anggapan orang lain,” ucap Geraldi. Beda jika di desa. Orang sukses saja tetap digunjing, apalagi yang tidak sukses.

Penghuni perumahan tak saling kenal, tapi terjadi interaksi yang tulus dan jujur

Masih dalam konteks perumahan semi elite yang Geraldi huni di Surabaya, antartetangga memang nyaris tidak saling kenal. Ia mengaku hanya kenal beberapa orang saja. Namun, bukan berarti tidak ada budaya gotong royong sebagaimana narasi yang kerap diunggulkan tentang kehidupan di perdesaan. 

“Kalau ketemu tetap saling sapa. Bahkan saling ngobrol walaupun nggak kenal pun biasa,” kata Geraldi. Apalagi kalau sudah saling mengenal. 

Namun, jangan salah. Tidak saling kenal bukan berarti tidak saling memberi perhatian. Tetap terjadi interaksi sosial kok antarwarga. Misalnya untuk kegiatan kerja bakti, saat tetangga ketiban musibah (kematian hingga sakit), ngobrol ringan selepas jemaah di masjid kompleks, dan lain-lain. 

“Bayangkan, nggak saling kenal, tapi kalau ada tetangga kena musibah, kami tetap memberi support. Itu pun nggak pakai model utang-piutang materi ala desa. Yang kalau support materinya dianggap kurang, langsung jadi gunjingan,” ujar Geraldi. 

Iklan

Bagi Geraldi, itu adalah gambaran interaksi paling jujur dan tulus. Tidak seperti di desa, yang kerap kali menyimpan kepura-puraan. 

Baca halaman selanjutnya…

Sangat bisa frugal living karena tidak direcoki tetangga pakai dalih tradisi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: Desafrugal livinggotong royong di perumahanhidup bertetangga di desakehidupan sosial perumahankelebihan tinggal di perumahanperumahanperumahan eliteperumahan surabayaslow livingslow living di desatradisi desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO
Urban

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa MOJOK.CO
Tajuk

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa

23 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

26 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Cat therapy di Jalan Tunjungan Surabaya yang merawat 12 kucing. MOJOK.CO

Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia

26 Maret 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.