Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja, Sebenar-benarnya Sunnah Rasul di Bulan Ramadan Menurut Gus Baha

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Maret 2024
A A
Salat Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Tarawih di Masjid Gedhe Kauman, Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salat Tarawih tengah malam di Indonesia memang seolah menjadi barang langka. Sebab, umumnya masjid-masjid menggelar jemaah salat Tarawih setelah salat Isya berlangsung.

Salah satu masjid yang menggelar jemaah salat Tarawih tengah malam adalah Masjid Gedhe Kauman, Jogja. Mojok mengikuti secara langsung pelaksanaan salat Tarawih tengah malam di Masjid Gedhe Kauman yang sarat akan kekhusyukan.

***

Selepas berbincang agak panjang dengan pengurus takmir Masjid Jendral Sudirman, Jogja, saya kemudian pamit geser ke Masjid Gedhe Kauman. Selain Masjid Gedhe Kauman, sebenarnya ada satu masjid lain yang terkenal dengan Tarawih tengah malamnya, yakni Masjid Gedhe Kotagede.

Namun, saya memilih Masjid Gedhe Kauman atas pertimbangan dari pengurus takmir Masjid Jendral Sudirman yang saya temui lebih dulu malam itu, Sabtu (16/3/2024).

Saya tiba di lokasi sekitar pukul 00.00 WIB dengan gerimis tipis-tipis. Masjid Gedhe Kauman tampak sunyi. Pintu gerbang, baik gerbang utama maupun gerbang sisi utara dan selatan masjid masih tergembok.

Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja MOJOK.CO
Suasana tengah malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Bukanya nanti jam dua (dini hari), Mas,” ucap Muhdi (50), seorang pria yang saya temui di kawasan masjid.

“Kayaknya sedang rembug (diskusi) soal takbir keliling lebaran nanti,” jelas Muhdi. Lagi pula malam itu malam Minggu. Remaja-remaja itu tentu bisa leluasa bergadang karena esok hari tak ketanggungan berangkat sekolah.

Tarawih tengah malam Masjid Gedhe Kauman hanya diikuti orang tua

Muhdi penasaran kenapa saya bela-belain menerabas gerimis di tengah malam demi salat Tarawih tengah malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja. Mengingat, kata Muhdi, jemaah yang ikut Tarawih tengah malam pun adalah dari kalangan orang-orang tua.

“Saya Tarawih-nya juga di sini (Masjid Gedhe Kauman, Jogja). Tapi saya ikut yang tadi, Mas, yang habis Isya,” ungkap Muhdi.

Sebagai informasi, maksud Tarawih tengah malam di sini bukanlah menggeser Tarawih dari waktu Isya ke tengah malam. Melainkan, Masjid Gedhe Kauman, Jogja membagi waktu pelaksanaan salat Tarawih menjadi dua sesi.

Sesi pertama berlangsung selepas salat Isya, jam tujuh atau setengah delapan malam. Lalu sesi kedua berlangsung pada jam dua dini hari.

“Kalau yang jam habis Isya ramai. Tapi kalau yang tengah malam paling cuma 10-an orang apa ya,” terang Muhdi.

“Itu pun cuma orang-orang tua,” sambungnya.

Iklan

Kata Muhdi, salat Tarawih tengah malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja bisa ramai di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Jemaah yang datang dari orang Kauman sendiri bahkan hingga dari luar Jogja. Hanya saja, kata Iwan, tetap saja vibes-nya tak bisa menyamai suasana sepuluh malam terakhir Ramadan di Masjid Jogokariyan.

Mencari kekhusyukan di Masjid Gedhe Kauman Jogja

Jam berlalu, tak terasa sudah masuk jam dua dini hari. Saya mengikuti langkah sepasang suami istri yang berjalan menuju pintu samping selatan Masjid Gedhe Kauman, Jogja. Salat Tarawih sudah akan dimulai, saya pun lekas mengambil wudu, lalu ikut berada di satu saf yang hanya berisi empat orang jemaah laki-laki.

Jika ditotal, ada enam jemaah laki-laki (termasuk imam) dan dua jemaah perempuan yang dini hari itu mengikuti salat Tarawih di Masjid Gedhe Kauman, Jogja: salat Tarawih dengan total delapan rakaat+tiga rakaat Witir.

Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja MOJOK.CO
Suasana salat Tarawih tengah malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Suasana masjid terasa sangat khidmat. Hanya ada satu suara yang menggema, yakni bacaan-bacaan salat dari imam yang bergema dalam keheningan Masjid Gedhe Kauman, Jogja. Saya cukup menikmati, meski pada dasarnya saya termasuk golongan orang yang “tak terbiasa” dengan bacaan salat yang lama dan panjang.

Sejak masuk masjid, ada satu sosok yang memang sudah membuat perhatian saya tercuri, yaitu seorang anak muda yang perawakannya mirip dengan saya. Cukup mencolok karena yang lain adalah jemaah dari kalangan orang tua.

Namanya Bima (20), mahasiswa semester 4 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), asalnya dari Malang, Jawa Timur.

“Aku sebenarnya baru tahu kalau ada masjid yang Tarawih-nya tengah malam di Jogja. Jadi per hari ini mungkin bakal lebih sering cari masjid di Jogja yang Tarawih-nya tengah malam,” ungkap Bima saat duduk bersama saya di teras Masjid Gedhe Kauman tak lama setelah salat Tarawih usai.

Alasannya, Bima hanya ingin menikmati ibadah yang hanya ada di bulan Ramadan itu (Tarawih) dengan penuh kenikmatan dan kekhusyukan. Dan baginya, ia hanya bisa menemukan hal tersebut ketika dalam kondisi yang hening nan sunyi.

Awalnya, Bima memilih mengerjakan salat Tarawih secara munfarid (sendiri) di kosannya, demi mendapatkan suasana ideal seperti yang ia inginkan. Akan tetapi, setelah mengetahui ada masjid yang mengerjakan salat Tarawih tengah malam, ia pun tentu tak ingin pula melewatkan pahala berjemaah. Heningnya dapat, pahalanya pun juga dapat.

“Habis ini langsung ke Masjid Jogokariyan untuk nyari sahur gratis, nyambung Subuh di sana, terus baru balik ke kos,” tutur Bima. Sesaat kemudian, Bima berpamitan. Ia mengayuh sepedanya meninggalkan kawasan Masjid Gedhe Kauman.

Berpindah dari satu titik ke titik lain di Jogja memang sudah empat semester ini Bima lakukan dengan bersepada. Ngepit kalau istilah orang-orang Jogja. Sosok yang menarik.

Dulu untuk memfasilitasi pekerja malam, sekarang…

Saya berniat sekalian menunggu Subuh di Masjid Gedhe Kauman, Joga. Toh saya juga sudah mengganjal perut untuk sahur dengan mie instan saat nongkrong di angkringan Iwan sebelumnya.

Oleh karena itu, saya mengambil posisi duduk yang enak untuk menikmati keheningan Kauman. Sampai kemudian, Arsyad (50), salah seorang pengurus takmir Masjid Gedhe Kauman, Jogja mengambil duduk di dekat saya.

“Sehari-hari ya memang cuma segini yang ikut Tarawih (tengah malam). Kalau nggak sepuluh orang, lima orang, kadang juga blas nggak ada orang,” tutur Arsyad.

Arsyad mengaku tak terlalu paham detil sejarah sejak kapan salat Tarawih di Masjid Gedhe Kauman terbagi menjadi dua sesi. Namun yang jelas, adanya sesi tengah malam tidak lain adalah untuk memfasilitasi orang-orang yang bekerja di malam hari dan tak sempat ikut salat Tarawih di waktu Isya.

Sehingga, orang-orang tersebut mendapat kesempatan untuk mengerjakan salat Tarawih berjemaah di tengah malam.

“Harusnya Tarawih sendiri di rumah kan nggak masalah. Cuma secara hati, pasti kurang mantep saja rasanya kalau nggak Tarawih berjemaah. Soalnya kan cuma ada di bulan Ramadan,” kata Arsyad.

Keterangan Arsyad senada dengan yang saya dapat dari Iwan sebelumnya. Karena saat masih bekerja di sebuah hotel di Jogja dan sering sampai malam, Iwan merasa terbantu dengan adanya salat Tarawih tengah malam di Masjid Gedhe Kauman, Jogja.

Selain itu, Tarawih tengah malam di Masjid Gedhe Kauman juga sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang tua atau bapak-bapak yang kelelahan setelah bekerja seharian. Sehingga, setelah Magrib atau Isya mereka memilih tidur lebih dulu untuk menghilangkan lelah. Lalu akan bangun jam dua dini hari untuk ikut salat Tarawih tengah malam sekalian menunggu Subuh.

“Tapi kalau sekarang lebih ke, nuwun sewu, buat mantesi saja. Maksudnya sudah terlanjur ada jadwal Tarawih tengah malam, masa nggak ada yang datang,” ucap Arsyad.

Tarawih tengah malam asli sunnah Rasul

Terlepas dari motif-motif di atas, secara agama, Tarawih tengah malam pada dasarnya merupakan sebenar-benarnya sunnah Rasulullah Saw di bulan Ramadan. Begitulah yang KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) terangkan dalam salah satu ceramahnya.

Kata Gus Baha, Tarawih tengah malam adalah sunnatun muttaba’: sunnah yang memang ada silsilah hukumnya langsung dari Rasulullah Saw.

“Ada Tarawih jam sepuluh, jam sebelas malam ada juga yang di waktu sahur, ya karena awal dari hadits Tarawih itu mengacu pada hukum qiyamul lail (mendirikan salat malam),” terang Gus Baha seperti yang Mojok kutip dari kanal YouTube Basuh Hati. Dan yang namanya qiyamul lail, waktu afdalnya memang di tengah malam hingga sepertiga malam.

Itulah kenapa di zaman sekarang, khususnya di Timur Tengah, masih banyak masjid-masjid yang menggelar salat Tarawih di tengah malam lantaran mengacu pada hukum tersebut.

Sedangkan di Indonesia, kenapa kemudian Tarawih lebih lazim berlangsung di awal waktu Isya tidak lain karena mengikuti hukum adat (kebiasaan). Apakah itu salah? Tentu tidak.

Tapi kata Gus Baha, akan lebih baik jika tidak meninggalkan sama sekali hukum asalnya, yakni salat Tarawih tengah malam

“Hukum adat jangan sampai menggantikan hukum yang ikut aturan Rasulullah, yaitu tengah malam (waktu sahur). Karena tengah malam itu waktu yang bisa mendekatkan pada Allah Swt,” jelas Gus Baha. Kira-kira mudahnya seperti itu.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Jama’ah Shalahuddin UGM Bersama Cak Nun Selamatkan Pembasmian Jilbab hingga Menolong Desa Terbelakang di Jogja

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 12 Juni 2024 oleh

Tags: Gus Baha'Jogjamasjid gedhe kaumanmasjid gedhe kauman jogjamasjid kaumanngaji gus bahapilihan redaksitarawih tengah malamtarawih tengah malam di jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.