Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Jama’ah Shalahuddin UGM Bersama Cak Nun Selamatkan Pembasmian Jilbab hingga Menolong Desa Terbelakang di Jogja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Maret 2024
A A
Jama'ah Shalahuddin Jogja Penyelamat Orang Tertindah di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Sejarah dan kiprah Jama'ah Shalahuddin UGM di Jogja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi sosok di balik program Ramadan di Kampus (RDK) di Masjid Kampus (Maskam) UGM, Jama’ah Shalahuddin memiliki sejarah yang tak sebentar. Bahkan tak banyak yang me-notice bahwa Jama’ah Shalahuddin juga terlibat dalam pementasan fenomenal Jogja Lautan Jilbab dari puisi budayawan kondang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

***

Sebelumnya, Mojok mencoba mengulik secara khusus mengenai kegiatan Ramadan di Kampus (RDK) UGM yang kerap mendatangkan tokoh-tokoh besar. Liputan tentang itu bisa Anda baca di sini.

Dalam kunjungan saya ke sekretariat Jama’ah Shalahuddin di sayap selatan Masjid Kampus (Maskam) UGM, Senin, (11/3/2024), saya juga mencoba mengulik kegiatan-kegiatan dari Jama’ah Shalahuddin yang bersifat sosial. Di antaranya adalah program desa binaan.

“Dalam setiap periode kepengurusan itu targetnya satu desa binaan. Tapi untuk 2024 ini belum ada sih setelah (desa binaan) sebelumnya dilepas,” terang Muhammad Akhdan (23) selaku Biro Khusus Kaderisasi Jam’ah Shalahuddin UGM.

“Targetnya dapat desa binaan lagi 2025 nanti,” sambungnya.

“Menyelamatkan” desa tertinggal Jogja

Salah satu contoh desa binaan Jama’ah Shalahuddin yakni Dusun Duwet, Desa Puwoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Jogja.

“Tapi Duwet sudah JS (Jama’ah Shalahuddin) lepas karena JS nilai sudah mandiri,” ujar Akhdan.

Akhdan menjelaskan, perlu kecermatan dalam menentukan desa mana yang akan menjadi desa binaan. Akan tetapi, prioritas utamanya adalah desa yang tertinggal dalam hal keagamaan dan ekonomi.

Nantinya, teman-teman Jama’ah Shalahuddin akan membina sisi keagamaan dengan mengajar ngaji dari TPQ hingga kajian khusus untuk orang dewasa. Sementara dalam aspek ekonomi, Jama’ah Shalahuddin UGM akan memberi pelatihan pada warga setempat misalnya dalam hal berwirausaha.

“Di Duwet itu ada namanya Duwet Cassava. Yaitu bagaimana mengolah singkong lokal untuk kemudian jadi camilan yang bisa terjual belikan secara luas,” beber Akhdan.

Jama’ah Shalahuddin akan mendampingi secara runtut dari proses produksi hingga pemasarana melalui digital marketing.

“Lalu ada juga kegiatan Sajadha (Jama’ah Shalahuddin dalam Idul Adha),” terang Akhdan.

Jadi selain fokus pada pendampingan desa binaan, Jama’ah Shalahuddin UGM juga memiliki satu desa lain yang dalam satu masa kepengurusan menjadi lokasi untuk pengadaan kurban Idul Adha.

Iklan

Tujuannya untuk membangun silaturahmi dengan masyarakat, menyiarkan nilai-nilai keislaman, serta yang tak kalah penting adalah membantu mengatasi permasalahan kekurangan daging hewan kurban di dusun tujuan. Di tahun 2023 lalu, selain Dusun Duwet, desa yang menjadi lokasi pelaksanaan program Sajadha adalah Dusun Kaligede, Desa Pilangrejo, Nglipar Gunungkidul, Jogja.

“Terus ada juga beasiswa, namanya Dompet Shalahuddin,” imbuh Akhdan.

View this post on Instagram

A post shared by Jama'ah Shalahuddin (@ldkjsugm)

Melawan “pembasmian” jilbab di Jogja

Dalam sejarah awal terbentuknya Jama’ah Shalahuddin (terbentuk 1976), pada medio 80-an Jama’ah Shalahuddin menjadi salah satu bagian dari pementasan Jogja Lautan Jilbab yang mengambil dari puisi karya Cak Nun.

Sayangnya, Akhdan mengaku tak terlalu mengetahui runtutan peristiwa tersebut. Oleh karena itu, saya mencoba menghubungi Wahydui Nasution, alumnus Jama’ah Shalahuddin UGM yang juga menjadi saksi hidup pentas Jogja Lautan Jilbab.

Wahyudi tak memberi saya jawaban panjang. Ia hanya mengirim link tulisannya yang menurutnya sudah cukup komperehensif untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

“Tulisan itu sudah mewakili jawaban saya,” katanya, Senin, (11/3/2024) malam WIB.

Namun yang jelas, secara singkat menurut Wahyudi, Jogja Lautan Jilbab adalah wujud perlawanan terhadap rezim Soeharto dan keberpihakan terhadap para muslimah atas hak-haknya mengenakan jilbab yang saat itu tengah dalam kekangan rezim Soeharto.

Melansir dari Caknun.com, pentas Jogja Lautan Jilbab yang kemudian pentas juga di daerah-daerah lain brerangkat dari puisi Cak Nun berjudul Lautan Jilbab. Puisi itu lahir secara spontan saat Cak Nun mengisi Ramadan in Campus-nya Jama’ah Shalahuddin pada 16 Mei 1987.

Puisi itu lahir dari kegelisahan Cak Nun saat Mendikbud Daoed Joesoef meneken Surat Keputusan 052/C/Kep/D.82 mengenai Seragam Sekolah Nasional tertanggal 17 Maret 1982.

“Dampak dari surat tersebut ialah pelarangan pemakaian jilbab bagi kalangan muslimah di sekolah formal. Sebelum surat itu dilayangkan, di tahun-tahun sebelumnya, pemerintah Soeharto mencurigai gerakan politik Islam yang mendapat anggapan akan merongrong Pancasila,” demikian yang tertulis di Caknun.com.

“Dulu belum banyak yang pakai jilbab, dianggap aneh. Dan memakai jilbab dipersulit oleh birokrasi,” begitu kata Cak Nun seperti Mojok kutip dari kanal YouTube Caknun.com.

Dari puisi jadi pertunjukan teater fenomenal

Awalnya memang hanya sebuah puisi yang Cak Nun baca di Ramadan in Campus. Namun, hanya pembacaan puisi itu saja sudah mampu menyedot animo ribuan orang yang hadir di acara yang panitianya dari Jama’ah Shalahuddin tersebut.

Oleh karena itu, di tahun-tahun berikutnya, Cak Nun pun menginisiasi pementasan Lautan Jilbab, mulai dari Jogja hingga beberapa daerah di Indonesia.

Jama'ah Shalahuddin UGM Terlibat Pentas Lautan Jilbab MOJO.CO
Poster pentas Lautan Jilbab. (Dok. Caknun.com)

“Judulnya Lautan Jilbab biar heboh dan gemanya ke seluruh negeri. Padahal yang ikut juga cuma beberapa tapi di banyak tempat,” ungkap Cak Nun masih dalam kanal YouTube yang sama.

Agung Waskito dengan supervisi Dr. Kuntowijoyo lah yang menjadi sutradara pementasan Jogja Lautan Jilbab. Pementasan pertama adalah dari Sanggar Shalahuddin UGM, di mana Wahyudi Nasution menjadi bagian di dalamnya.

Tidak kurang dari 3000 penonton berjubel menghadiri pementasan pada malam pertama. Lalu di malam kedua, penonton yang hadir tercatat sekitar 2000 orang. Oleh karena besarnya antusiasme masyarakat, Lautan Jilbab kemudian pentas di banyak kota selain Jogja, yaitu di Madiun, Malang, Surabaya, Bandung, Jember, hingga luar Jawa seperti Makassar.

Beberapa sumber berita cetak, seperti keterangan dalam Caknun.com, menulis bahwa pementasan di Stadiun Wilis, Madiun, Jawa Timur bahkan mencapai 35.000 penonton. Jumlah yang tentu sangat fantastis untuk ukuran pertunjukan teater.

Shalahuddin Press, penerbitan JS yang lenyap

Pada medio 80-an itu pula, selain terlibat dalam pementasan Jogja Lautan Jilbab, Jama’ah Shalahuddin UGM ternyata juga sempat mempunyai penerbitan buku bernama Shalahuddin Press. Hal itu juga dibenarkan oleh Wahyudi Nasution.

“Terkait kenapa tutup dan nggak ada lagi sampai sekarang, itu bukan wilayah saya untuk menjawab,” ucap Wahyudi.

Di masa aktifnya, Shalahuddin Press menerbitkan sejumlah buku keislaman alternatif selain majalah Gelanggang. Bahkan penerbitan milik Jama’ah Shalahuddin UGM ini juga menjadi salah satu pelopor penerbit buku alternatif di Jogja. Sayangnya, umurnya memang tak lama.

“Aku kurang tahu juga kapan dan kenapa tutup. Tapi seandainya bisa, kami pengin Shalahuddin Press ada lagi,” tutur Akhdan.

Tapi misalnya pun tidak bisa, Akhdan sangat ingin di Jama’ah Shalahuddin sedikit demi sedikit terbentuk iklim penulisan tema-tema keislaman. Minimal tayang di website Jama’ah Shalahuddin UGM secara reguler.

“Karena sementara ini tulisan-tulisan di web hanya bersifat berita acara saja,” kata Akhdan. Ia juga berniat untuk mengusulkan pengadaan workshop kepenulisan dan mendesain ulang website dari Jama’ah Shalahuddin agar lebih eye catching. Sebelum nanti terisi oleh konten-konten keislaman yang tak kalah menarik pula.

Sebagai tambahan informasi, dalam masa aktifnya, Shalahuddin Press tercatat sudah menerbitkan sejumlah buku karya tokoh-tokoh besar nasional, antara lain:

  • Islam, Mengapa Tidak? (Ahmad Syafi’i Ma’arif, 1984)
  • Tugas Cendekiawan Muslim (Ali Syari’ati, diterjemahkan oleh Amien Rais, 1984)
  • Bilik-Bilik Muhammad: Novelet Rumah Tangga Rasulullah SAW (A.R. Baswedan, 1985)
  • Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (Kuntowijoyo, 1985)
  • Antologi Puisi: Terompet Terbakar (1990)
  • Syair-syair Asmaul Husna (Emha Ainun Nadjib, diterbutkan bersama Pustaka Pelajar, 1994)

Setidaknya, itulah daftar buku terbitan Jama’ah Shalahuddin yang tercatat dalam Wikipedia.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Warga Dusun Mlangi Jogja Turun-temurun Lestarikan Selawat Langgam Jawa Meski Dicap Selawat Sesat

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2024 oleh

Tags: Cak Nunjama'ah shalahuddinjama'ah shalahuddin ugmJogjamasjid ugmmaskam ugmpilihan redaksiramadan di kampusrdkRDK UGMsejarah jam'ah shalahuddinUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh  MOJOK.CO
Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Pelatihan skill digital IndonesiaNEXT Telkomsel berdampak bagi kesiapan kompetensi untuk terjun industri MOJOK.CO

Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing

1 Mei 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.