ADVERTISEMENT

Kisah Pilu Kakek Tua di Jalan Teknika UGM, Hidup di Jalanan Setelah Ditelantarkan Anak yang Sudah Sukses

Kisah Pilu Kakek Tua di Jalan Teknika UGM, Hidup di Jalanan Setelah Ditelantarkan Anak yang Sudah Sukses.MOJOK.CO

Sayangnya, hal itu cuma berlangsung sebentar. Kira-kira dua tahun. Maman tak tahu apa yang terjadi, yang jelas usaha bosnya tadi bangkrut. Dari rumor yang beredar, bosnya itu terjerat utang. 

Mau tak mau, Maman dan pemulung lain yang bekerja dengan bosnya harus angkat kaki. Kata Maman, bekas tempat tinggalnya itu kini sudah berubah rupa, bukan tempat pengepul rongsokan lagi. Namun tempat apa, ia tak tahu secara pasti.

“Makanya sejak saat itu ya gini-gini saja, Mas, modal gerobak tidur di mana saja yang nggak dilarang. Dulu di dekat SGM, diusir pindah ke Bonbin sampai terusir, terusir dan nemulah rumah di sini [Jalan Teknika UGM].”

Jalan Teknika UGM, Saksi Derita Kakek Tua yang Ditelantarkan Anak dan Para Mahasiswa Mabuk yang Muntah Sembarang Tempat.MOJOK.CO
Suasana malam di Jalan Teknika UGM yang jadi tempat para gelandangan beristirahat (Hammam/Mojok.co)

Saat saya bertanya ke Maman, apakah dia masih menyimpan harap buat tinggal bersama anak semata wayangnya, dia menjawab: “keluarga saya ya yang di sini saja, Mas.”

Jalan Teknika adalah tempatnya mahasiswa mabuk muntah sembarangan

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB dini hari. Di tengah obrolan kami, ada sepeda motor yang melipir ke trotoar Jalan Teknika UGM.

Awalnya, saya mengira pengendaranya ingin mengecek ketidakberesan pada motornya. Namun, setelah berhenti, penumpang yang membonceng tadi langsung jongkok, membungkuk dan muntah di trotoar.

Suara mual lelaki tadi terdengar jelas. Lebih aneh lagi, mereka mengenakan baju PDL–entah jurusan atau ormawa tertentu. Yang jelas, PDL itu mengindikasikan bahwa mereka adalah mahasiswa.

“Orang gila mana yang mabuk-mabukan pakai PDL,” gumam saya dalam hati.

Melihat saya tercengang, Ibah, tunawisma yang sedari tadi juga saya ajak berbincang, berkata kalau itu hal biasa.

“Sini kan memang tempat favorit orang muntah-muntah, Mas,” ujar perempuan ini dengan logat Jawanya yang kental. “Tunggu jam 2-an, nanti banyak yang seperti itu,” imbuhnya.

Kata Ibah, nyaris tiap malam ia menyaksikan pemandangan serupa di Jalan Teknika UGM. Bahkan, yang lebih lucu, kadang yang muntah tak cuma satu orang, tapi ramai-ramai muntah bersama.

“Kalau sampai parah, muntahannya banyak gitu, ya kami bersihin. Enggak enak sama orang, nanti dikiranya kami di sini yang muntah-muntah sembarangan,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Saya Tinggal di Babarsari, Ngekos Bareng Debt Collector, dan Saya Takut Sekaligus Merasa Terlindungi

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2024 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.