Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kisah Pilu Kakek Tua di Jalan Teknika UGM, Hidup di Jalanan Setelah Ditelantarkan Anak yang Sudah Sukses

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Juni 2024
A A
Kisah Pilu Kakek Tua di Jalan Teknika UGM, Hidup di Jalanan Setelah Ditelantarkan Anak yang Sudah Sukses.MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah Pilu Kakek Tua di Jalan Teknika UGM, Hidup di Jalanan Setelah Ditelantarkan Anak yang Sudah Sukses (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jalan Teknika UGM menjadi saksi pedihnya kakek tua yang harus hidup di jalanan karena ditelantarkan anaknya. Niat hati ingin menghabiskan masa tua dengan putra semata wayang, ia malah diabaikan. Masa senjanya pun dihabiskan bersama tunawisma lain yang hidup dari trotoar ke trotoar di jalanan Jogja.

***

Meski badan rasanya sudah tak karuan capeknya, saya belum ada niatan pulang ke kos. Malam itu, Sabtu (22/6/2024), selepas menikmati acara gigs underground di kolong Jembatan Baru UGM, Sinduadi, Sleman, saya memutuskan berjalan kaki dari tempat konser menuju Jalan Teknika UGM. Niat saya ingin membagikan beberapa bungkus nasi kepada para tunawisma di sana setelah mendapat rezeki lebih pada hari itu.

Jalan Teknika UGM memang tak pernah sepi dari para tunawisma. Di siang hari, ruas jalan bagian utara yang berada di depan kampus MM UGM, dipenuhi para tunawisma yang menunggu derma dari orang-orang.

Sementara pada malam hari, ruas jalan bagian selatan di depan Fakultas Teknik UGM tak kalah ramai. Sepanjang trotoar, mata kalian tak akan tega menyaksikan tukang becak, pemulung, dan manusia gerobak tidur hanya beralaskan kardus bekas.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB dini hari. Awalnya saya khawatir para tunawisma yang ingin saya bagikan nasi sudah tidur lelap setelah melewati hari yang panjang. Namun, setelah sampai di lokasi, beberapa di antara mereka masih saling bercengkerama.

Saya nimbrung obrolan. Mendengarkan kegetiran demi kegetiran hidup mereka yang terdengar seperti cambukkan.

Namanya Maman. Dengan tidak terlalu yakin, dia mengaku berumur 60 tahun. Namun, saya menduga usianya jauh lebih tua daripada perkiraannya sendiri.

Geraknya sudah melambat. Sekadar untuk berdiri dari duduknya saja sudah kepayahan. Dan, dari logat bicaranya saya menduga dia bukan orang Jawa.

“Saya dari Tasik, Mas,” kata Maman, pelan.

Niat bertemu anak, malah ditelantarkan

Maman, sambil lahap menyantap nasi bungkusnya, bercerita bahwa dia tak ingat secara pasti kapan pertama tiba di Jogja. Tapi yang jelas, sudah setahun ke belakang ini ia menjadikan Jalan Teknika UGM, di depan Fakultas Teknik itu, sebagai “rumahnya”.

“Pagi cari rongsok, ngumpulin kardus. Kalau kejuali ya beli makan. Kalau nggak ada ya kita tidur di sini sambil kelaparan, Mas,” ujarnya, mengatakan hal getir itu sambil tertawa. Entah, seburuk apa hari yang Maman jalani, sehingga kepedihan seperti itu saja masih bisa ia ceritakan dengan nada yang riang.

Maman memang tak ingat sejak kapan ia datang ke Jogja. Namun, kedatangannya ke kota ini jelas, dia ingin menyusul anaknya yang saat itu konon sudah menikah. 

Dia bercerita, sejak lulus kuliah anak lelakinya tiga tahun tak pulang ke Tasikmalaya. Bahkan, ketika ibunya meninggal dunia pun, ucapan belasungkawa hanya disampaikan melalui sambungan telepon tetangga.

Iklan

Maman tak tahu, anaknya itu bekerja di mana dan sesibuk apa, sehingga buat melihat jasad ibunya buat terakhir kali saja tak sempat. “Saya cuma dengar dari tetangga, ada yang bilang jadi guru, ada yang bilang dosen, malah ada yang bilang kerja di luar negeri.”

Karena hidup sendiri, dan di Tasik pun hanya mengandalkan bantuan saudara buat makan, Maman membulatkan tekad menyusul anaknya. Ia berharap bisa menikmati masa tua dengan dirawat oleh putra semata wayangnya.

Berbekal informasi dari saudara-saudaranya, Maman pergi ke Jogja. Pencariannya tak lama, karena setibanya di kota ini dia langsung bertemu dengan anaknya itu.

“Sudah ada rumah sendiri, Mas. Tapi dia bilang ‘aku nggak mau ketemu bapak lagi’,” kata tunawisma Jalan Teknika UGM ini, getir. “Saya nggak tahu pernah buat salah apa ke anak, sampai buat ketemu saja nggak mau. Saya disuruh pulang lagi.”

Sempat kerja ikut orang, sampai akhirnya jadi gelandangan

Meskipun “diusir” anaknya, Maman mengaku tak mau kembali ke Tasikmalaya. Baginya, mau di kampung atau di sini tak ada bedanya, karena sama-sama hidup sendiri.

Sebelum “menetap” di Jalan Teknika UGM, berbekal sisa-sisa tenaganya, Maman sebenarnya telah lama survive di Jogja. Setelah pengusiran itu, ia bertahan hidup sambil mencari kerja, berbekal uang Rp30 ribu–sekitar 15 tahun yang lalu. Untungnya, ketika uang sudah menipis, seorang juragan pengepul rongsokan mau menerimanya.

“Dulu, Mas, di Imogiri saya punya bos yang baik banget. Kami yang mulung ke dia itu dikasih tempat tinggal. Ya meskipun cuma triplek-triplek begitu seenggaknya saya ada keluarga baru. Makan dan tidur juga ada tempat,” ujarnya.

Baca halaman selanjutnya…

Para tunawisma kerap melihat mahasiswa yang mabuk muntah di troroar Jalan Teknika UGM 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2024 oleh

Tags: jalan di ugmjalan ikonik di ugmjalan teknika ugmmahasiswa ugmUGMugm jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
kuis rempah rempah
Kabar

Merawat Muruah Rempah Nusantara lewat Riset Genetika

2 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.