Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Januari 2026
A A
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Hidup di Desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Namun, begitu ibunya mengabari kalau penyakit lama bapaknya kambuh dan kian memburuk, tak ada hal lain di pikiran Rini selain berhenti bekerja, pulang, hidup di desa, dan mengurus bapaknya.

Di rumah pun ia tetap bisa mengambil beberapa job freelance, meski pendapatan yang dihasilkan tak seberapa. Sementara untuk kebutuhan harian, ia mengandalkan sisa uang pensiunan bapaknya dan transferan dari kakak-kakaknya. 

“Dulu awal-awal dengeri nyinyiran gitu ya sakit hati. Tapi makin ke sini makin kebal, toh mereka juga nggak bakal mau kalau bertukar nasib sama aku.”

Jaminan dapat warisan rumah, meski harus mengorbankan beberapa hal

Situasi serupa juga dirasakan Fuad (26). Ia merupakan bungsu dari empat bersaudara. Kakak-kakaknya sudah berkeluarga dan menetap di kota. Sementara dia, yang baru saja merampungkan studinya di salah satu kampus swasta Jogja, harus pulang mengurus rumah.

Di rumah, tinggal bapak dan ibunya yang sudah sepuh. Bapaknya mengalami demensia, sudah pikun, dan sering melupakan banyak hal. Sementara ibunya sudah terlalu tua untuk mengurus bapaknya yang makin hari, kata dia, “makin kekanak-kanakan”.

“Bapak makin kayak anak kecil, kelakuannya semakin random. Sementara aku nggak tega kalau tiap hari lihat ibu ngurus bapak sendiri, makanya kuputusin di rumah aja,” ungkap Fuad.

Menurut Fuad, keputusannya hidup di desa itu sudah ditimbang masak-masak bersama kakaknya. Awalnya, ada beberapa opsi yang muncul. Misalnya, membawa kedua ortunya tinggal di kota sementara rumah di desa dijual; hingga salah satu kakaknya memboyong keluarga ke desa untuk tinggal bersama ortunya.

Namun, setelah mempertimbangkan banyak hal, diputuskanlah agar Fuad saja yang merawat orang tuanya. Pertimbangannya, Fuad belum berkeluarga, belum telanjur dapat kerja di kota, sehingga lebih sedikit “yang harus dikorbankan”.

“Ya intinya kalau kakak-kakakku yang merawat bapak sama ibu, ada banyak yang harus dikorbankan,” katanya.

Komitmen pun juga sudah ditentukan. Seandainya, suatu saat orang tuanya telah tiada, rumah itu bakal diwariskan kepada Fuad. Ya, itu menjadi bentuk dari “imbalan” karena sudah merawat orang tuanya.

“Aku sadar, ada privilese sebagai anak muda, bisa mendapatkan rumah kan impian?” ujar Fuad. “Namun, aku juga sadar ada banyak hal yang kukorbankan, masih muda tapi seperti terisolasi dengan kehidupan kota. Tapi bagiku tak masalah, karena kesempatan bisa hadir dari mana saja.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: anak terakhirbungsuderita anak terakhirDesahidup di desapilihan redaksislow living di desatinggal di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO
Urban

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO
Aktual

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Hilangnya kumpul keluarga saat Lebaran setelah nenek tiada

Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman”

5 Maret 2026
seleksi CPNS. CPNS Jogja, PNS.MOJOK.CO

Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA

8 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.