Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Lulusan Universitas Jadi Sarjana Pengangguran, Langsung Dituntut Bapak Ganti Rugi Biaya Besar Semasa Kuliah sampai Hidup Kebingungan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Juli 2025
A A
Nelangsa lulusan universitas (sarjana) susah cari kerja alias jadi pengangguran. Bapak minta ganti rugi karena udah keluar uang banyak semasa kuliah MOJOK.CO

Ilustrasi - Nelangsa lulusan universitas (sarjana) susah cari kerja alias jadi pengangguran. Bapak minta ganti rugi karena udah keluar uang banyak semasa kuliah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jadi sarjana pengangguran, bapak minta “ganti rugi”

Jaza lulus pada 2023 lalu. Setelah menjadi sarjana, hari-harinya malah semakin berat karena terus tersudut oleh sang bapak.

Jaza sempat ikut CASN pada 2024. Sayangnya dia tidak lolos sehingga masih harus menganggur. Di saat bersamaa bapaknya terus-menerus menyudutkan, “Lulusan unversitas nganggur. Susah cari kerja. Cuma buang-buang uang.”

Iklan

“Ternyata nggak semudah bayanganku, kalau jurusan politik, nanti lulus akan mudah cari pekerjaan yang berhubungan dengan politik,” ungkap Jaza. “Teman organisasiku ada yang berkiprah di partai. Ikut nempel politisi. Tapi aku minta dibukakan jalan dia nggak bisa.”

Maka, Jaza sempat mencoba mencari-cari pekerjaan formal lain. Paling tidak jika dia sudah bekerja, bapaknya tidak akan terus-menerus menyudutkan.

Tapi nyatanya juga tidak mudah. Sebab, rata-rata lowongan kerja formal hanya membuka untuk jurusan ekonomi atau akuntansi, teknik, atau desain. Bidang yang tidak begitu Jaza dalami.

Di titik itu, Jaza berpikir untuk menjadi dosen. Tapi untuk itu, dia harus menempuh Magister terlebih dulu. Dia sempat mengutarakan niatnya tersebut pada sang ibu. Lalu ketika sang ibu mencoba membicarakan kepada bapak Jaza, respons yang keluar dari sang bapak justru kalimat-kalimat menyakitkan.

“S1 saja sudah banyak buang uang tapi susah juga cari kerja, masih mau S2? Kalau cuma nganggur terus, kapan kamu bisa gantian memberi uang ke bapak? Uang bapak sudah terkuras untuk kuliah itu, rugi, investasi bodong,” begitu ucapan sang bapak yang membuat Jaza tercenung, sementara ibunya hanya bisa menangis sesenggukan.

Mencari cara ganti rugi, tapi masih buntu

Jaza menangkap ucapan sang bapak sebagai tuntutan ganti rugi. Karena rasa-rasanya sang bapak menganggap membiayai kuliah Jaza adalah bentuk investasi, sehingga harus ada timbal balik yang lebih besar.

Kini Jaza bekerja di Surabaya, sebagai pekerja swasta. Hanya saja, gajinya tidak menyentuh UMR.

“Positip masih disinggung. Karena gaji kecil nggak mungkin bisa ngasih balik ke orangtua di rumah. Hanya bisa untuk diri sendiri,” katanya.

Jaza sempat tergiur dengan kabar-kabar kalau omzet warung Madura bisa puluhan juta perbulan. Bahkan, penjaga warung bisa menerima gaji jutaan perhari. Dia ingin bekerja sebagai penjaga warung Madura.

Persoalannya, rata-rata warung Madura—sejauh penemuannya—mempekerjakan keluarga atau orang terdekat. Sedangkan jaza tidak punya keluarga atau orang dekat yang menggeluti bisnis tersebut.

“Tapi aku ada paman yang sukses di Jakarta menurut ukuran orang desaku, bisnis jual beli barang bekas. Pilihan terakhir mungkin aku bakal minta bantuan ke sana, walaupun masih buntu juga mau seperti apa nanti. Sambil terus cari-cari peluang, siapa tahu ijazah ilmu politikku bisa mengubah hidupku,” tutup Jaza.

Adakah solusi konkret untuk lulusan universitas yang susah cari kerja?

Menaker Yassierli menyebut, pemerintah saat ini sedang berupaya mengatasi pengangguran di Indonesia yang jumlahnya totalnya di angka 7,28 juta.

Iklan

“Sudah jelas bahwa pemerintah, Pak Presiden, memiliki program prioritas yang menghabiskan sekian ratus triliun. Kita masih banyak wait and see,” ujar Yassierli di hari yang sama dengan Kajian Tengah Tahun INDEF 2025.

Salah satu program yang Yassierli maksud adalah Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang ditargetkan beroperasi pada 2025 ini.

Menurut Yassierli, program tersebut bisa jadi salah satu solusi menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran.

“Kalau seandainya pengelola, karena koperasi itu nanti ada pengelola, ada pekerja, 25 orang saja dikali 80.000 itu sudah 2,5 juta, 2 juta sekian (lapangan kerja terbentuk),” sambungnya.

Belum program-program lain yang sedang pemerintah siapkan.

Lulusan universitas pilih-pilih kerja dan gaji?

Di lain sisi, sebagaimana mengutip Kompas, Wakil Kementerian Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer menyebut, minimnya lapangan kerja tidak menjadi faktor tunggal dari maraknya sarjana menganggur.

Dia menilai, kerap kali lulusan universitas pilih-pilih gaji dan perusahaan yang diincar. Bahkan, ada juga sarjana yang tidak memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Alhasil, banyak sarjana berakhir menjadi pengangguran.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tinggalkan Skripsi demi Jadi Penjaga Warung Madura, Cuannya bikin Gelar Sarjana Terasa Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2025 oleh

Tags: lowongan kerjalowongan kerja sarjanalulusan universitaspilihan redaksisarjanasarjana pengangguransarjana susah kerja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO
Eksplor

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Catatan

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Transisi salon dari sistem pencatatan buku kucel ke aplikasi praktis MOJOK.CO

Generasi Baru Aplikasi Salon: Penunjang Salon UMKM dengan Harga Masuk Akal, Sistem Mudah, dan Berkesan bagi Pelanggan

30 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Wisata air Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah akan dikembangkan. Ada investasi dari Cilacap hingga Jepang MOJOK.CO

Rawa Pening Kabupaten Semarang bakal Jadi Wisata Unggulan Jateng, Tawarkan Rumah Makan Apung-Keramba

25 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial MOJOK.CO

Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial

25 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.