Rock in Solo 2025 mengubah cara pandang saya pada ungkapan “usia hanyalah angka.” Dulu, saya tak terlalu percaya dengan kata-kata bijak yang kerap seliweran di akun-akun motivasi itu. Sampai pada akhirnya, malam kemarin, saya bertemu dengan Bambang, lelaki berusia 73 tahun, di tengah kerumunan orang-orang yang merayakan “lebaran metal”.
Usianya boleh senja, tapi dia menolak tua.
***
Di hari pertama gelaran Rock In Solo (RIS) 2025, Sabtu (22/11/2025), saya tidak berniat menemukan sesuatu yang “menggetarkan” selain dentuman musik keras dari Stillbirth, headliner asal Jerman yang menutup malam itu.
Namun, di tengah hiruk-pikuk moshpit, saya melihat sosok yang membuat saya berhenti menyaksikan panggung untuk sejenak. Seorang lelaki tua berdiri di tepi kerumunan, persis di samping area moshpit yang sedang “kacau-balau”.
Usianya jelas jauh melewati para penonton di sekelilingnya. Tapi penampilannya menunjukkan sebaliknya: celana pendek, kaos Down For Life, berkalung rantai ukuran besar, dan sepatu Vans yang tampak pas di kakinya.
Kalau kata teman-teman saya yang ikut menyapanya: hace banget! Ala-ala band hardcore asal Malang, Keep It Real, yang tampil sebelum Stillbirth. Dan untuk ukuran lelaki seusianya, penampilan itu tidak masuk akal. Tapi justru karena itulah ia menarik perhatian.
Di depan kami, moshpit menjadi arena yang amat brutal. Orang-orang melompat, saling menyeruduk, wall of death dibuka berkali-kali, tubuh-tubuh beterbangan karena stage diving tanpa henti.
Namun, laki-laki itu berdiri santai, tersenyum tipis setiap kali tubuh-tubuh di depannya saling bertabrakan. Saya akhirnya basa-basi bertanya, “Nggak ikut turun, Pak?”
Ia tertawa kecil, menepuk lututnya. “Mau. Tapi badan sudah nggak kuat,” katanya. Tawa pelan itu panjang, seperti seseorang yang mengingat masa muda. Pada titik itu, saya ingin tahu: siapa sebenarnya lelaki ini?
Namanya Bambang Purwoko. Usianya 73 tahun. Ia lahir dan besar di Solo.
Kepada saya, Bambang mengaku sudah menyukai musik metal sejak 1985. Metallica, Slayer, hingga band hard rock semacam Van Halen menjadi nama teratas yang ia sebut saat saya tanyakan band yang membuatnya kecantol pada musik keras ini.
Namun, tidak seperti banyak orang yang merasa “cukup” berhenti di classic rock. Ia justru menantang telinganya sendiri yang makin menua.
“Sekarang ya (suka) hardcore, death metal, black metal. Bikin semangat kerja,” katanya.
Di usianya, sebagian besar orang berhenti mengikuti hal-hal baru. Namun, Bambang justru menolak berhenti. Ia menganggap musik keras bukan nostalgia masa muda, melainkan energi hidup.

Itu sebabnya, malam itu ia memutuskan hadir di gelaran Rock in Solo. Namun, faktanya, Bambang tidak pernah absen datang ke event ini sejak gelaran pertamanya pada tahun 2004 di Stadion Manahan. Ia bahkan masih mengingat beberapa line-up yang pernah ditonton, meski–karena faktor usia–banyak juga yang terlupa.
Alhasil, berkat dedikasinya itulah panitia festival memberikan sesuatu yang tidak diberikan ke sembarang orang: lifetime freepass Rock In Solo. Ia menjadi penerima pertama pada 2023.
“Saya bebas masuk kalau mau nonton,” tawanya.
Menabung dari hasil parkir untuk nonton Metallica
Melihatnya malam itu, dengan akses freepass, dengan penampilan eksentrik, orang bisa saja mengira ia orang “berada” atau bahkan musisi. Tapi kenyataannya sangat jauh dari itu.
Setiap hari, Bambang bekerja sebagai juru parkir di rumah makan Bakso Nyaman, Solo Baru. Sudah sekitar 20 tahun ia menjalani profesi itu. Pendapatan harian, menurut pengakuannya, sekitar Rp50 ribu sehari.
Dari penghasilan itulah ia menabung untuk menonton konser. Perlahan, tidak instan. Konser di Solo, bahkan Jakarta, ia datangi selama uangnya cukup.
“Kalau nggak cukup ya diusahakan,” tawanya lepas lagi.

Salah satu usaha yang paling ia ingat adalah konser Metallica di Jakarta pada 2013. Kepada saya, ia mengaku menyisihkan sebagian pendapatannya sebagai tukang parkir. Selama dua bulan ia menabung demi nonton band favoritnya.
“Saya mikir, kapan lagi lihat Metallica. Jadi ya harus berangkat,” katanya.
Konser lain yang ia ingat adalah Hammersonic 2015. Saat itu, raksasa groove metal Lamb of God tampil sebagai headliner. Ada juga Mayhem dan Terrorizer.
“Waktu itu saya laju sama anak-anak muda Solo. Naik kereta,” ucapnya, kembali dengan tawa yang ramah.
Kenal Jokowi saat masih gondrong
Di tengah percakapan kami, muncul nama yang menggelitik telinga: Jokowi. Ya, Bambang mengaku mengenal mantan orang nomor satu di Indonesia itu, bahkan sejak akhir 1980-an.
Bahkan, kata dia, ketika itu Jokowi masih gondrong.
“Kami sering kumpul karena sama-sama suka Metallica dan Megadeth.”
Bambang menyebut nama itu dengan santai. Tanpa menambahinya dengan sensasi, tanpa membesar-besarkan atau melebih-lebihkan. Hanya sebagai bagian dari sejarah kecil hidup seseorang yang kebetulan dilewati.
“Dulu sama-sama gondrong, sama-sama metal.”
Ketika saya iseng bertanya, lagu Metallica atau Megadeth mana yang disukai presiden RI ketujuh itu, Bambang tidak tahu secara pasti. Ketika saya memintanya menyanyikan sepenggal, ia hanya tertawa.
“Malu, saya nggak bisa nyanyi.”
Ketika saya kembali bertanya, “Anak sama cucunya ikut nonton Rock in Solo?”, Bambang diam sebentar kemudian kembali tertawa.
“Milih membujang sampai tua. Nggak nikah,” katanya.
Bambang mengatakan kalau anak-anak muda yang datang malam itu adalah anak dan cucu-cucunya. Keluarga yang terikat berkat selera musik yang sama. Apalagi, dengan datang ke konser musik metal, kata dia, dirinya merasa lebih muda. Tak pernah menua.
“Muda terus kalau dengar musik begini,” ujarnya. Dari kalimat inilah judul untuk tulisan ini akhirnya terbayang.
View this post on Instagram
Di Rock in Solo bukan lagi Bambang, tapi Bamba666
Malam menunjukkan pukul 21.10 WIB. Stillbirth telah memainkan dari setengah setlist-nya. Lampu panggung berkali-kali mengarah ke penonton. Ribuan lampu ponsel juga menyala seperti lautan bintang.
Saya menengok ke arah Bambang. Ia mengangkat tangan ke udara, membentuk devil horns, gestur paling ikonik di dunia metal. Tanpa rasa goyah, tanpa keraguan, seolah dunia tidak memintanya menjadi siapapun selain dirinya sendiri.
Saat Stillbirth menutup aksi dan penonton mulai meninggalkan area konser, saya menanyakan satu hal terakhir: “Besok datang lagi, Pak?”
Ia menjawab tanpa jeda, “Tentu. Tidak datang itu dosa.”
Jawaban itu membuat saya tersenyum. Karena di satu sisi itu terdengar ekstrem; tapi di sisi lain itulah cara ia mencintai hidup.
Di hari kedua Rock in Solo 2025, Minggu (23/11/2025), saya tak berkesempatan bertemu dia lagi. Namun, secara sekilas, saya melihat sosoknya dengan penampilan nyentrik di tengah kerumunan Belpeghor, raksasa black metal asal Austria.
Namun, saya gagal menjumpainya karena hujan keburu deras. Saya sibuk mengamankan barang-barang pribadi ke dalam jas hujan, sebelum akhirnya kehilangan sosoknya di tengah kerumunan.
Teman saya sempat nyeletuk, dan menyarankan saya menuliskan nama dia di artikel ini bukan sebagai “Bambang”, melainkan “Bamba666”. Agar kesannya black metal banget.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pengalamanku Bertemu Jemaah Blekmetaliyah di Rock In Solo 2023 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














