Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Meninggalkan Kemewahan Gaji UMR Jakarta Biaya Hidup Jogja Demi Rintis Usaha Warkop di Pinggir Jalanan Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Juni 2024
A A
Meninggalkan Kemewahan Gaji UMR Jakarta Biaya Hidup Jogja Demi Rintis Usaha Warkop di Pinggir Jalanan Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Meninggalkan Kemewahan Gaji UMR Jakarta Biaya Hidup Jogja Demi Rintis Usaha Warkop di Pinggir Jalanan Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagaimana rasanya bekerja dengan gaji UMR Jakarta, tapi biaya hidup Jogja? Kebanyakan orang mungkin akan menikmatinya. Namun, hal ini tak berlaku bagi Nanda (26), lelaki asal Lampung yang memilih menanggalkan kemewahan tersebut karena merasa tak menikmati hidup. Setelah resign dan beberapa bulan menganggur, ia memilih merintis usaha kecil-kecilan di Jogja.

***

Iklan

Jika melintas di Jalan Laksda Adisucipto, Jogja, kalian bakal menjumpai sebuah kedai kopi kecil, sangat kecil,  yang lokasinya tak jauh dari Ambarukmo Plaza (Amplaz). 

Letaknya sendiri berada di tepian jalan. Ia berdiri tepat di lahan yang kalau siang hari menjadi tempat parkir Kedai Pramuka–sebuah toko yang menjual perlengkapan sekolah bagi siswa.

Tempatnya nggak luas-luas amat, kira-kira hanya seukuran 2×5 meter. Ia juga tak menyediakan meja maupun kursi laiknya coffee shop lainnya di Jogja. Hanya ada gerobak kecil sebagai tempat meracik kopi dan aneka kudapan.

Meskipun demikian, uniknya kedai ini tak pernah sepi pengunjung. Saat hari mulai gelap, apalagi menjelang tengah malam, muda-mudi silih berganti datang ke sini buat ngopi. Kalau kata beberapa pelanggan setianya, sih, “nongkrong dengan view keramaian Jalan Jogja-Solo”.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh • Rue Kopi • (@rue.kopi)


Nama coffee shop sederhana itu adalah Rue Kopi Anak Street. Sejak bulan puasa lalu, ia resmi membuka cabang di bawah Jembatan Baru UGM, Sinduadi, Mlati, Sleman dan diberi nama Rue Kopi Anak Kolong. 

Namun, siapa sangka, sang pemilik kedai yang kelihatan “skena abis!” itu ternyata merupakan eks pekerja kantoran di Jakarta yang memilih “pensiun muda” demi merintis usaha kecil-kecilan.

Gaji UMR Jakarta, tapi tak bisa menikmati hidup

Sejak lulus dari Universitas Amikom 2021 lalu, karier Nanda tampak melejit. Ia langsung diterima kerja di Jakarta, tepatnya di sebuah perusahaan multinasional asal Jepang yang memproduksi mobil, sepeda motor, serta peralatan dayanya.

Nanda bekerja di bagian contact center, yang tugasnya menerima, menganalisis, serta  dan memberikan alternatif solusi atas permasalahan konsumen.

“Karena aku kerjanya saat pandemi, jadi WFH, aku kerja dari kos aja. Enaknya sih aku kerja dapat gaji UMR Jakarta, tapi biaya hidupnya Jogja,” kata Nanda kepada Mojok, Jumat (30/5/2024) lalu.

Iklan

Awal bekerja, Nanda mengaku masih sangat menikmatinya. Apalagi penghasilannya sudah sangat lebih dari cukup untuk ukuran pekerja yang tinggal di Jogja.

Sayangnya, lama kelamaan, ia makin lelah dengan pekerjaannya. Beberapa kali dia merasakan burnout karena rutinitas membosankan dan beban kerja yang semakin banyak.

“Rutinitasnya gitu-gitu aja. Karena WFH, bangun tidur langsung buka laptop, melayani keluhan para customer yang nggak pernah habis. Mata sakit karena laptop, kepala pening gara-gara banyaknya keluhan konsumen,” ungkapnya.

“Yang ngeselin tuh kita dituntut terus stand by, kerap banget tengah malam kita dihubungi karena ada laporan keluhan. Padahal itu di luar jam kerja, tapi mau nggak mau kudu aku kerjain.”

Nanda (baju merah) memilih resign dari kerja di Jakarta demi bikin usaha warkop kecil-kecilan. Ia sedang melayani pembeli di Rue Kopi cabang Kolong Jembatan UGM, Jumat (30/5/2024) (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Setelah semakin lelah, Nanda menyadari kalau kerja kantoran bukan jalan ninjanya. Apalagi, pekerjaan tersebut bikin waktu nongkrongnya bersama teman-teman jadi berkurang.

Butuh waktu lama buat dia memikirkan secara masak-masak buat meninggalkan pekerjaan itu. “Tapi akhirnya aku putusin resign aja karena nggak bisa aku kerja beginian,” jelasnya.

Dari modal 400 ribu, kini bisa menggaji karyawan

Beberapa bulan setelah resign, Nanda masih menganggur. Ia hanya hidup dari sisa-sisa gaji saat masih kerja di kantor Jakarta tadi.

Meski cukup menikmati masa-masa “pensiun mudanya”, Nanda sadar kalau uangnya juga bakal habis. Ia mulai berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang, tapi tak menyita waktunya bersama teman-teman. Alias, kerja tapi sambil nongkrong.

Alhasil, terpikirkan buat membuka sebuah kedai kopi. Motivasinya sederhana, karena kalau bikin coffee shop ia bisa tetap punya penghasilan, tapi juga tak kehilangan waktu nongkrong. Warkop yang ia bikin pun awalnya cuma buat mengakomodasi kawan-kawannya yang memang suka nongkrong.

Namun, karena keterbatasan biaya, tak ada uang buat sewa lapak besar, Nanda memilih berjualan kopi dengan metode “starling”. Ia menjajakan kopi melalui motornya.

Karena keterbatasan lapak, para pembeli yang datang ke kedainya pun ngopi di pinggir jalan. Tanpa meja, kursi, apalagi wifi sebagaimana coffee shop mewah. Mereka hanya duduk santai di atas trotoar, sambil menikmati suasana malam Kota Jogja.

“Aku ingat banget modal awalnya itu mungkin sekitar 400 ribuan. Buat beli alat-alat bikin kopi dan sebagainya,” jelas lelaki yang pernah kerja kantoran di Jakarta ini.

Tak dia sangka, peminat coffee shop-nya justru semakin banyak. Dari yang awalnya hanya circle-nya saja, anak skena musik dan anak motor, orang yang datang semakin beragam.

“Dulu yang datang bisa dihitung jari. Mungkin cuma teman dekat yang memang sudah kenal. Tapi sekarang sudah ramai, mungkin pada penasaran kali ya ada warkop di pingir jalan.”

Buka cabang coffee shop di tempat yang antimainstream

Dari modal yang tak seberapa itu, boleh dibilang usaha Nanda sukses keras. Dari yang awalnya cuma cukup buat kebutuhannya sendiri, ia kini bahkan sudah bisa menggaji kawan-kawannya yang membantu mengelola Rue Kopi.

“Meski mereka, yang bantu ngelola ini teman-teman sendiri tetap sistemnya jadi karyawan. Tetap aku gaji,” jelasnya.

Berawal dari kopian starling pinggir Jalan Jogja-Solo, Rue Kopi sudah buka cabang. Uniknya, Nanda memilih di tempat-tempat yang antimainstream.

Cabang pertama yang ia buka berada di kolong Jembatan Baru UGM, berada di taman mati samping aliran Kali Code. Sementara cabang selanjutnya, kata  Nanda, masih coming soon.

“Belum pengen spill lokasinya. Tapi yang jelas antimainstream,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Para Pekerja dari Jogja Mencoba Bertahan di Tengah Kerasnya Tebet Jakarta Selatan, Hidup di Kos Tengah Gang Sempit yang Hanya Bisa Dilewati Satu Motor

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2024 oleh

Tags: coffee shopjakartakerja di jakartaresign kerja di jakartaumr jakata
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.