Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jakarta Timur, Kawasan “Penuh Ironi” yang Sebaiknya Jangan Ditinggali, Kecuali Kalau Nyawamu Sembilan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Mei 2025
A A
Jakarta Timur, Kawasan dengan SDM Paling Mumpuni tapi Sebaiknya Jangan Ditinggali Kalau Tak Punya Sembilan Nyawa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Jakarta Timur, Kawasan dengan SDM Paling Mumpuni tapi Sebaiknya Jangan Ditinggali Kalau Tak Punya Sembilan Nyawa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tinggal di Jakarta Timur adalah “pengalaman spiritual”. Seseorang menjadi lebih dekat dengan Tuhan karena mereka bakal sering berdoa agar nggak kenapa-kenapa.

***

Iklan

Sebagai salah satu kawasan paling luas di bekas ibu kota negara, Jakarta Timur dihuni banyak orang. Data BPS menyebut, 30 persen total populasi Jakarta tinggal di sini. Para perantau berbagi ruang dengan warga asli (akamsi) yang tersebar di 10 kecamatan.

Sialnya, tak sedikit warganya yang justru was-was tinggal di sini. Kata mereka, “Jakarta Timur memang layak ditinggali asalkan kamu punya sembilan nyawa”.

Baru keluar stasiun, sudah harus “melawan” tiga preman

Pada 2019 lalu, saya datang ke Jakarta Timur. Tujuan saya sebenarnya adalah menonton konser di Ancol, Jakarta Utara. Namun, karena kawan yang kosnya bakal saya tumpangi tinggal di Jakarta Timur, saya pun diarahkan buat turun di Stasiun Jatinegara saja.

Itu adalah pengalaman saya ke Jakarta Timur. Namun, sebelumnya sudah banyak informasi yang saya dapatkan terkait daerah ini. Termasuk fasilitas umumnya yang lengkap, transportasi publik pun juga mumpuni. Bahkan, belakangan ini Jakarta Timur ditetapkan sebagai kawasan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tinggi.

Tiap tahun poinnya konsisten di angka 80. Bahkan pada 2024 lalu, IPM Jakarta Timur mencapai 84,76. Cuma kalah dari Jaksel yang poinnya menyentuh 87,57.

Sayangnya itu cuma angka di atas kertas. Entah pada 2019 lalu kualitas masyarakat belum sebaik sekarang, atau datanya yang tak akurat. Yang jelas, pengalaman saya datang ke tempat ini langsung mendapatkan kesan buruk.

“Sini, 600 ribu aja, atau kalau nggak gue pecahin kepala lu.”

Itu adalah kalimat pertama yang saya dapatkan ketika baru saja melangkah keluar stasiun. Tubuh saya langsung beku. Seumur-umur, itu adalah kali pertama saya dipalak.

Situasi itu pun bikin saya dilema. Kalau nggak ngasih bisa bonyok di tempat, tapi kalau nekat mau ngasih bisa ludes duit pegangan saya. Setelah saya nego, preman-preman itu pun mau saya berikan uang Rp200 ribu ditambah rokok yang tersisa beberapa batang.

“Asu. Seandainya aku bisa gelut kayak John Wick,” gumam saya dalam hati, masih dengan kondisi yang penuh tekanan.

Preman-preman dipelihara di Jakarta Timur

Belakangan ini, kejadian lima tahun silam itu saya ceritakan lagi kepada seorang kawan bernama Ozi (28), yang memang akamsi Jakarta Timur. Orang tuanya bukan asli ibu kota. Tapi ayah dan ibunya sudah tinggal di sana sejak sebelum dia lahir. 

Seumur hidupnya, sejak sekolah sampai kerja, Ozi tinggal di Jakarta Timur. Hanya saja kuliahnya (2017-2022) memang di Jogja.

“Ya begitu. Kalau nyawa kamu nggak sembilan, jangan berani-berani deh tinggal di Jaktim,” guraunya, merespons cerita saya, Minggu (4/5/2025) kala kami bertemu di Jogja.

Kalimat itu seperti candaan. Meskipun, kalau soal preman, Ozi mengakui kalau di tempat tinggalnya memang begitu menjamur. Nyaris di tiap kelurahan ada yang “pegang”.

Sebagai warga asli di sana, Ozi tahu betul siapa-siapa saja preman ini dan “kelompok” mana yang memelihara mereka. 

“Jakarta Timur itu ngeri. Anak-anak sejak SMA udah dididik sama kelompok preman, ormas juga. Dibesarkan dengan kultur kekerasan,” jelasnya.

Iklan

Kendati demikian, kerja-kerja preman peliharaan ormas ini memang beragam. Ada yang tugasnya “cuma” menjaga parkir, melindungi tempat usaha, sampai tukang gebuk pribadi seseorang.

“Omku aja pernah kerja jadi tukang tagih utang awal 2000-an. Makanya tahu dia kerja sama kelompok mana,” ungkapnya. “Pensiun gara-garanya jarinya ilang satu. Hahaha.”

Baca halaman selanjutnya…

Daftar kawasan-kawasan “paling mematikan”, yang ormas dan premannya suka ganggu bisnis orang.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2025 oleh

Tags: jakartajakarta timurjaktimpilihan redaksipremanpungli
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.