Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Di Konser Lagu Anak-anak di Jogja, Orang Dewasa Rela Berdesakan demi Nostalgia

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Juli 2024
A A
Lagu Anak-anak alias Lagu Dolanan Kumandang Kidung Bocah di Jogja Jadi Ajang Nostalgia MOJOK.CO

Ilustrasi - Konser lagu anak-anak alias lagu dolanan Kumandang Kidung Bocah di Jogja jadi ajang nostalgia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konser lagu anak-anak alias lagu dolanan bertajuk “Kumandang Kidung Bocah” di Jogja siapa nyana begitu membeludak. Konser orkestra tersebut sampai membuat puluhan orang terpaksa pulang karena gagal bernostalgia.

***

“Konser sudah penuh, konser sudah full!” Demikian teriak dua orang satpam saling bersahut-sahutan di halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (23/7/2024) malam WIB. Pukul 19.00 WIB, orang-orang yang berdatangan makin banyak.

Jika membaca dari poster yang beredar, konser lagu anak-anak “Kumandang Kidung Bocah” memang tak dipungut biaya untuk tiket, alias gratis. Oleh karena itu, pihak penyelenggara menyarankan agar datang jauh sebelum acara dimulai.

Sebab jika Concert Hall TBY (lokasi konser) sudah penuh, maka ruangan akan ditutup. Tidak ada yang bisa masuk lagi. Tapi saya tidak berekspektasi kalau penonton yang datang benar-benar semembludak malam tadi.

Pantauan langsung di lapangan, dua tangga menuju ruangan Concert Hall penuh sesak oleh antrean. Padahal sudah dipastikan mereka tidak akan bisa masuk.

Lagu Anak-anak alias Lagu Dolanan Kumandang Kidung Bocah di Jogja Jadi Ajang Nostalgia MOJOK.CO
Dua tangga menuju Concert Hall TBY penuh antrean. (Aly Reza/Mojok.co)

Di area luar pun banyak calon penonton yang memilih pasrah. Mungkin sama seperti saya, mereka tidak berekspektasi kalau konser lagu anak-anak alias lagu dolanan Kumandang Kidung Bocah malam itu bakal membeludak.

Mengenalkan anak dengan lagu anak-anak tempo dulu

Satu per satu calon penonton “berguguran”: memilih tak lanjut mangantre karena sudah putus asa di tengah puluhan orang yang berdesak-desakan.

Satu di antaranya adalah Supana (40). Ia datang dengan istri dan dua anaknya.

“Lagu-lagu dolanan zaman dulu itu punya nilai. Sekarang kan sudah nggak ada. Ngajak anak-anak ke sini sebenarnya ya untuk edukasi juga,” ujarnya saat saya ajak berbincang di area luar gedung Concert Hall.

Pria asli Jogja itu tentu agak kaget melihat kondisi TBY malam tadi. Pasalnya, karena bertema lagu ana-anak, dalam bayangannya yang hadir adalah orang-orang berkeluarga sepertinya.

Ternyata ia keliru. Sebab yang memadati TBY malam tadi hampir separuhnya justru dari kalangan anak-anak muda.

    Lagu Anak-anak alias Lagu Dolanan Kumandang Kidung Bocah di Jogja Jadi Ajang Nostalgia MOJOK.CO
Suasana penuh sesak jelang konser Kumandang Kidung Bocah. (Aly Reza/Mojok.co)

“Bahkan ada yang datang sama pacarnya. Tapi itu bagus. Biasanya ajak pacar konser koplo atau band, tapi ini ngajak konser lagu-lagu dolanan,” sambung pria ramah tersebut.

Kecewa tentu iya, karena Supana tak bisa mengajak anak dan istrinya untuk menyaksikan kemeriahan konser lagu anak-anak Kumandang Kidung Bocah. Tapi mau bagaimana lagi, kondisinya tidak memungkinkan. Maka ia memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya pulang.

Iklan

Ajang nostalgia orang-orang tua

Selain Supana, saya sempat berbincang pula dengan Widyati (60). Ia datang bersama anak, menantu dan cucunya.

Sebenarnya Widyati—yang juga asli Jogja—tak tahu kalau ada konser lagu anak-anak alias lagu dolanan tersebut. Ia baru tahu beberapa menit sebelum anak, menantu, dan cucunya berangkat.

“Lagu-lagu dolanan itu di zaman saya kecil kan sudah ada. Ikut nonton buat jadi obat kangen (nostalgia),” beber Widyati sembari tertawa kecil.

Hal senada juga diungkapkan oleh anak dan menantu Widyati. Selain mengenalkan lagu dolanan tempo dulu pada sang anak, mereka juga berniat untuk nostalgia ke masa kecil.

Sebab, lagu-lagu dolanan tersebut lah yang menemani mereka bertumbuh, yang semakin ke sini semakin lenyap lantaran dominasi lagu-lagu dangdut koplo.

“Ini pasti nggak bisa masuk ya, Buk?” tanya saya pada Widyati.

“Sepertinya begitu e, Mas. Tapi katanya bisa lihat di YouTube,” jawabnya.

Anak laki-laki Widyati lalu menunjukkan kanal YouTube Taman Budaya Yogyakarta. Ah iya, ternyata masih bisa dinikmati dari YouTube.

Kabar tersebut lalu menyebar di tengah calon penonton yang masih “memaksakan diri” mengantre untuk masuk. Lalu satu per satu mulai putar balik.

“Nonton YouTube wae wis, pada wae (Nonton YouTube udah, sama aja),” samar-samar begitu yang saya dengar.

Konser lagu anak-anak untuk menentang dominasi konten dewasa

Konser lagu anak-anak alias lagu dolanan Kumandang Kidung Bocah di Jogja diinisasi oleh komposer Guntur Nur Puspito dan Bagas Arga.

Guntur sendiri merupakan arranger dan orchestrator music director, serta associate arranger dan konduktor Ahmad Dhani Philharmonic Orchestra DEWA19-A Night At The Orchestra.

Dalam Kumandang Kidung Bocah, ia mengaransemen ulang 19 lagu anak-anak tempo dulu agar bisa dinikmati lintas zaman. Di antara 19 lagu tersebut antara lain, Padang Bulan, Cublak-cublak Suweng, Sluku-sluku Bathok, Gambang Suling, Gregeting Murid, E Dayohe Teka, Aja Rame-rame, Dhondhong Apa Salak, Lir-ilir, Pitik Walik Jambul, Kidang Talun, Menthok-menthok, Jaranan, Kodhok Ngorek, Kembang Jagung, Prahu Layar, Buto-buto Galak, dan Tak Lela Lela Ledhung.

Konser Lagu Anak-anak alias Lagu Dolanan di Jogja bikin Nangis MOJOK.CO
Suasana konser orkestra Kumandang Kidung Bocah di Concert Hall Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Ide ini berawal dari kegelisahan saya melihat anak-anak mengonsumsi konten dewasa hampir setiap hari melalui ponsel mereka,” ujar Guntur dalam konferensi pers yang berlangsung Jumat (19/7/2024). Oleh karena itu, bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2024, Guntur mempersembahkan orkestra bertajuk “Kumandang Kidung Bocah”.

Turut memeriahkan konser tersebut di antaranya Doni Saputro, Okky Kumala, Paksi Raras Alit, Pandika Kamajaya, Silir Wangi, Asita Kaladewa, Kinanti Sekar Rahina, dan melibatkan 30 anak dari Art for Children (AFC) binaan TBY.

“Dengan gelaran ini, setidaknya ada upaya untuk revitalisasi lagu anak yang unik dan tak kalah menarik untuk disajikan di masa kini,” sementata begitulah ujar Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati.

Saya berkesempatan nonton secara langsung dari awal hingga konser berakhir. Benar-benar konser yang memukau dan tak mengecewakan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Tersenyum dan Menangis Sendiri di Tengah Konser Lagu Anak-anak “Kumandang Kidung Bocah” Jogja, Hanyut dalam Kenangan Bersama Ibu

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2024 oleh

Tags: Jogjakonser di jogjakumandang kidung bocahlagu anak-anaklagu dolanan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Lima daerah di Jawa Tengah jadi pilot project BPOM Pusat untuk produk jamu aman demi menjaga citra obat tanaman herbal warisan UNESCO MOJOK.CO

Merawat Citra Jamu di Jateng sebagai Warisan Sehat dan Aman, Campuran Bahan Kimia Bisa Merusaknya

9 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.