Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
28 Januari 2026
A A
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Terutama di Surabaya, orang Madura kerap menerima stigma tidak menyenangkan. Apalagi di Surabaya utara. 

Komunitas masyarakat Madura memang lebih banyak tersentralisasi di wilayah utara. Karena stigma negatif yang dilekatkan ke mereka, sejumlah warganet Surabaya di media sosial bahkan menyebut kalau Surabaya Utara sudah bukan bagian dari Kota Pahlawan. 

Ada tiga orang Madura yang saya wawancara. Dua di Surabaya (laki-laki berusia 26 dan 30 tahun), satu di Jogja (perempuan berusia 40-an tahun penjaga sebuah warung Madura di dekat indekos saya). 

Mereka kerap nelangsa ketika mendapati, di media sosial, betapa banyak cacian bahkan ujian kebencian bernada rasialisme ditujukan pada masyarakat dari Pulau Garam. Walaupun sebenarnya, bagi mereka, tidak semestinya dipukul rata. 

Robohkan saja jembatan Suramadu

Saking buruknya stigma buruk yang disematkan pada orang-orang di pulau seberang jembatan Suramadu itu, sampai muncul narasi seperti ini di media massa: 

  1. Udah bener biarkan mereka (orang Madura) terisolasi di pulau, eh malah dibangun jembatan (Suramadu). 
  2. Robohkan/hancurkan jembatan Suramadu udah paling bener sih.
  3. Bisa nggak sih mereka dipulangkan aja ke pulau asal, terus akses Suramadu ditutup. 
  4. Ah, tapi nggak lama lagi paling jembatan Suramadu bakal ambruk, besinya dicuri terus. 

Ketiga narasumber saya mengakui, keresahan itu pun tidak berangkat dari ruang kosong. Tapi dipicu oleh sejumlah situasi yang, sialnya, kerap kali melibatkan orang Madura di dalamnya. Antara lain: 

#1 Stigma Madura tukang maling besi

Maling besi bisa dibilang menjadi stigma terkuat terhadap Madura. Di tanah rantau, terutama di kota-kota besar, salah satu lini bisnis yang ditekuni oleh orang Madura adalah bisnis besi tua. 

Pada akhirnya itu membuat orang berplat M lekat dengan candaan berkonotasi buruk, sebagaimana yang pernah dialami tiga narasumber saya tadi. Misalnya dalam sebuah percakapan: 

“Kamu asli mana?”

“Madura.”

“Eh di sebelah sono banyak besi tuh.”

Sejumlah kasus pencurian besi di Surabaya, merujuk laporan kepolisian dan sejumlah berita yang beredar, kerap kali melibatkan sekelompok orang berplat motor M sebagai tersangka. Itu kemudian membuat orang Madura mendapat stigma sebagai “maling besi”. 

Bahkan, kini, seturut pengakuan tiga narasumber saya, tiap ada video atau berita viral soal hilangnya material besi dan sejenisnya–terutama di fasilitas umum–beberapa warganet akan langsung menyinggung: Ah pelakunya paling plat M/blok M. 

#2 Stigma penadah motor curian

Berdasarkan penelusuran di internet, dari data kepolisian dan berita yang pernah naik, kasus pencurian motor di Surabaya kerap mengarah pada satu titik di Madura: Bangkalan. 

Iklan

Alhasil, di Surabaya, muncul stigma bahwa Pulau Garam jadi markasnya penadah motor curian. Bahkan, Polres Bangkalan menyebut, 80% motor curian di luar Madura larinya ya ke Madura. Seringnya di Bangkalan.

Jelas itu sangat mengganggu tiga narasumber saya, juga orang-orang di sekitar mereka. Sebab, imbas dari oknum tak bertanggung jawab itu, akhirnya orang Madura harus menerima label kriminal. Sementara masih sangat banyak orang asli Pulau Garam yang jauh dari perbuatan tidak terpuji itu. 

#3 Stigma sebagai tukang pungli dan ormas nggak jelas

Masih dalam konteks Surabaya, pengusiran paksa Nenek Eliana beberapa waktu lalu oleh sekelompok orang yang mengaku dari ormas Madas (Madura Asli) makin membuat cara pandang terhadap orang Madura memburuk. 

Tiga narasumber saya merasa sedih saat melihat berita soal kasus Nenek Eliana dan ormas Madas di media sosial. Sebab, warganet sampai mengecam agar orang Madura (sekalipun tidak berhubungan dengan Madas) diusir saja dari Surabaya: “Di tanah orang malah sok jagoan, nggak tahu diri. Begitu kecaman warganet.”

Apalagi, masih di Surabaya, orang Madura sudah terlanjur lama dikaitkan dengan pungli. Karena ada oknum-oknum yang menjadi tukang parkir liar di sejumlah titik dan dianggap meresahkan. 

***

Di tengah gempuran stigma tidak menyenangkan itu, bagi tiga narasumber saya, untung saja ada dua hal baik yang menyelamatkan wajah suku mereka. 

#1 Bebek goreng dan penyetan

Berdasarkan penuturan tiga narasumber saya, mereka kerap mendengar banyak orang (bukan Madura) yang mengakui bahwa kenikmatan bebek goreng bumbu hitam dan penyetan yang diolah orang Madura tidak ada duanya. 

Bumbu hitamnya medok. Olahan bebeknya empuk. Juga sambalnya yang terasa pedas nan gurih. Kenikmatan itu bahkan kerap bisa ditebus dengan harga murah. Karena di Jogja maupun Surabaya, amat gampang menemui warung bebek goreng atau penyetan Madura pinggir jalan dengan harga ramah kantong pekerja urban. 

Saya juga mendengar pengakuan serupa dari beberapa teman saya yang bukan orang Madura. Orang-orang plat M memang kena banyak stempel miring. Namun, bagi teman-teman saya, untuk urusan masakan, benar-benar tanpa cela. 

#2 Warung Madura 24 jam

Madura juga punya “waralaba” toko kelontong yang sangat ikonik: warung/toko Madura. Di tengah gemerlap kota, di antara gang-gang perkampungan, bahkan hingga di sebuah tempat yang terkesan jauh dari hiruk-pikuk manusia, toko kelontong dengan ciri khas pom mini dan barisan rokok di etalase itu menyala terang 24 jam non-stop. 

Banyak orang mengakui kalau keberadaan warung/toko Madura benar-benar menjadi penyelamat. 

Pertama, karena buka 24 jam, orang bisa kapan pun mampir untuk membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Misalnya, tiba-tiba bensin habis sementara SPBU masih jauh, maka bisa langsung beli di pom mini warung/toko Madura. 

Kedua, karena nyaris menyediakan apa saja–dari camilan, minuman, rokok, alat mandi, sembako, hingga obat-obatan, orang tidak perlu susah-susah kalau mau belanja tanpa harus ke minimarket. 

Di warung madura dekat kos saya, bahkan menyediakan jas hujan dan pompa ban konvensional. Jadi jika ada orang yang kehujanan bisa berteduh sekaligus beli jas hujan plastik tersebut. Kalau mau nambah angin bisa pinjam pompa ban. Bayar Rp2 ribu per-ban. 

Ketiga, warung/toko kelontong tersebut benar-benar menjadi jawaban untuk masalah seretnya masalah kerja. Minimal bagi orang Madura. Pasalnya, warung/toko kelontong tersebut memang umumnya mempekerjakan saudara-saudara terdekat atau paling tidak ya sama-sama berasal dari Madura. 

***

Kalau di Jakarta, orang Madura yang jualan kopi keliling (starling) pun jadi penyelamat. Menjadi oase bagi para pekerja urban yang ingin ngopi dengan harga murah, di tengah harga mahal kafe-kafe di Ibu Kota.

Untungnya, bagi tiga narasumber saya, hal-hal tersebut menjadi wajah lain dan tak kalah kentara dari orang Madura yang semestinya menjadi alasan kuat: bahwa orang Madura punya sisi “penyelamat”, tidak melulu tentang stigma buruk yang seperti dipupuk terus-menerus. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 5 Amalan Baik Warung Madura ke Pembeli yang Membuat Penjualnya Layak Masuk Surga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2026 oleh

Tags: bebek maduraJogjaMaduramadura di jogjamadura di surabayamaling besipenyetan madurapilihan redaksistigma maduraSurabayatoko madurawarung madura
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

mabar game online.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO
Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.