Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pengalaman Pria Jogja Pakai Hijra Taaruf, Tinder Versi Muslim: Bukan Dapat Jodoh Malah Kena Spam Slot

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 Maret 2024
A A
Pengalaman Pria Jogja Pakai Hijra Taaruf, Tinder Versi Muslim: Bukan Dapat Jodoh Malah Kena Spam Slot.mojok.coAplikasi Kencan Halal Jadi Solusi Kaum Jomblo Jogja Menjauhi Seks Bebas dan Ngebet Dapat Jodoh Seiman.mojok.co

Ilustrasi Aplikasi Kencan Halal Jadi Solusi Kaum Jomblo Jogja Menjauhi Seks Bebas dan Ngebet Dapat Jodoh Seiman (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Cari teman kencan melalui aplikasi semacam Tinder, itu sudah biasa! Pekerja asal Kota Jogja ini malah memilih aplikasi taaruf online buat mencari teman ngedate. Syukur-syukur bisa jadi jodoh.

Awalnya, Fariz (27), lelaki asal Jetis, Kota Jogja,  hanya coba-coba. Segala cara memang ia tempuh untuk mendapatkan jodoh. Kalau bukan jodoh, minimal pacar dulu tak apa-apa. Maklum, di usia 25 saat itu, ia belum punya pacar lagi setelah terakhir kali putus dengan kekasihnya pada 2020–waktu awal Covid-19 menyerang.

Demi mewujudkan keinginannya tersebut, banyak aplikasi kencan daring pun ia jajal. Boleh kita sebut, jam terbang Fariz di aplikasi dating online sudah tak bisa diragukan lagi.

Aplikasi kencan daring yang paling umum, macam Tinder dan Bumble, lama menetap di ponselnya. Bahkan, ia juga pernah coba main Minder, semacam Tinder tapi versi pengguna Muslim. 

Fariz mengaku juga pernah memakai aplikasi taaruf online. Hijra Taaruf, namanya. Sore itu, di salah satu sudut Kobessah Kopi Condongcatur, tempat dia sering nongkrong, Fariz dengan senang hati membagikan ceritanya berburu jodoh di aplikasi taaruf online.

Kalau menurut penjelasannya, sih, aplikasinya semacam Tinder. Jadi orang-orang bisa mencari pasangan dengan cara swipe up, terus cari yang match, gitu. Bedanya, kalau Tinder umumnya buat diajak kencan buta, Hijra Taaruf buat taarufan–sesuai namanya.

“Tapi kalau ada saru-sarunya, mohon disensor ya, Bro,” katanya pada saya malam itu, sambil tertawa lepas dengan sebatang rokok di jepitan jarinya.

Coba-coba taaruf karena muak dengan “pergaulan bebas” Kota Jogja

Pergaulan bebas di Kota Jogja, yang kalau kata Dinas Sosial “seks bebasnya tertinggi di Indonesia”, sudah pernah Fariz rasakan. Itu sudah jadi cerita lama, karena sejak masih kuliah (2015-2020) hal-hal yang begituan sudah jadi bagian dari kesehariannya.

“Apalagi sejak pandemi, putus sama pacar dan mulai kenal aplikasi dating online, makin menjadi-jadi lah,” kata akamsi Kota Jogja.

Namun, lambat laun ia mulai bosan gonta-ganti pasangan. Apalagi kalau sejak awal telah diniatkan tanpa komitmen. Usianya makin menua, pekerjaan sudah ada, keluarganya pun juga tak kekurangan. “Jadi mulai mikir gimana caranya cari pacar yang bisa aku ajak serius,” timpalnya.

Dalam pencariannya itu, Fariz mengaku kalau dia masih coba-coba cari pasangan di Tinder. Sayangnya tiap kali match dan mulai intens chatan, ketidakcocokan terus mereka temui. Alasannya beragam. Ada yang ternyata bilang cuma buat “hubungan singkat”, domisilinya jauh–di luar Jawa, dan tak sedikit yang cuma cari teman ngobrol.

“Tapi jujur, pas ada yang udah sreg ternyata beda agama. Nah ini repot, Mas.”

Kenal Hijra Taaruf gara-gara ceramah ustaz di TikTok

Bosan dengan aplikasi kencan biasa, Fariz mulai menginstall Minder, semacam Tinder tapi khusus pengguna Muslim. Alasannya jelas, kalau ada yang match, sudah pasti agamanya sama. Perkara pedekate, itu urusan belakangan.

Sayangnya, aplikasi Minder ternyata bapuk. Fariz kesusahan buat match. “Sekalinya ada yang cocok orang luar negeri. Kan gila.”

Iklan

Untungnya, di tengah keputusasaan itu, ceramah seorang ustaz melintas di FYP TikTok-nya. Isinya kurang lebih bilang kalau taaruf adalah metode paling mudah cari jodoh dan diridhai Allah.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Abdullah Hadad Assegaf (@abihaddadalwi)

“Aku langsung cari tuh jasa-jasa taaruf online. Ternyata di medsos banyak juga,” ujarnya. “Tapi di postingan medsos itu ada yang rekomendasiin buat pakai Hijra Taaruf, katanya ampuh buat cari jodoh.”

Langsung match dengan banyak ukhti-uhti di Jogja

Ternyata, aplikasi ini benar-benar ampuh. Baru beberapa hari install, Fariz sudah berhasil match dengan banyak perempuan. Dan, ya, sebagaimana penggunanya, kebanyakan yang match adalah ukhti-ukhti. Yang bikin ia lebih senang lagi, sebagian perempuan yang match ini berasal dari Kota Jogja, masih satu kota dengannya.

Melansir situs resmi Hijra Taaruf, aplikasi ini mengklaim jadi opsi terbaik bagi kaum muslim mencari jodoh. Menurut mereka, penggunannya sudah lebih dari 400 ribu. Tiap harinya saja berhasil “menjodohkan” 20 pasangan. Yang demikian, amat wajar kalau Fariz gampang banget match.

Kalau kata Fariz, yang unik dari aplikasi ini adalah biodata yang tersedia dari masing-masing calon jodoh amat lengkap. “Udah mirip CV lamaran pekerjaan”, katanya.

Bahkan, banyak foto dari para penggunannya juga blur. Melindungi privasi dan aurat, mungkin. Awalnya, sih, ia mikir kalau ini seperti beli kucing dalam karung. Tapi, toh, kalau sudah komitmen bakal ada kesempatan buat ketemu langsung.

Pernah komitmen, tapi gagal gara-gara enggak bisa nahan nafsu

Fariz berkisah, pada 2022 lalu, ia sempat match dengan salah satu pengguna. Kebetulan mereka sama-sama asli Jogja. Bergembiralah dia, karena sebentar lagi jodoh yang didambakan bakal segera datang.

Obrolan antara Fariz dan calon pasangan taarufnya itu bahkan sudah berlanjut ke Whatsapp. “Udah sama-sama kenal. Kerja di mana, dulu kuliah di mana, jurusan apa. Udah sejauh itu,” ujarnya.

Mereka pun juga sudah bersepakat untuk bertemu. Sesuai dengan aturan taaruf, pertemuan pun enggak boleh cuma berduaan saja. Maka, sepakatlah mereka untuk bertemu dengan orang tua calon pasangan.

“Itung-itung sekalian apel,” sambung pria asal Jogja ini.

Tanggal ketemu sudah mereka sepakati. Hubungan mereka pun juga semakin baik. Hingga tibalah “petaka” yang tidak ia inginkan. Lucunya, petaka ini datang karena Fariz tak bisa mengontrol nafsu dan ketikannya.

“Ada setan lewat kali, ya. Jadi malam itu tiba-tiba minta pap aneh-aneh,” kata Fariz mengingat penyesalannya itu. “Beberapa hari lost contact sampai akhirnya benar-benar enggak ada kabar lagi.”

Bukan dapat jodoh, malam kena spam slot!

Nestapa Fariz pun berlanjut. Gara-gara ketikan cabulnya itu, rencananya dapat jodoh jadi berantakan. Hal itu masih ia sesali hingga sekarang.

Apesnya lagi, Fariz malah dapat puluhan spam slot di Whatsapp-nya. Gara-garanya, setelah kegagalan tadi, ia terus melakukan pencarian dan berhasil match dengan beberapa perempuan lagi.

Sayangnya, yang mendarat di Whatsapp-nya bukan ajakan taaruf, tapi pesan-pesan ajakan buat “depo slot dengan jaminan maxwin”.

“Aku yakin sih bukan karena kebocoran data pribadi, tapi itu karma aja karena aku udah menyia-nyiakan perempuan,” kelakarnya.

Kini, Fariz masih melanjutkan hidupnya. Kerja delapan jam di siang hari, nongkrong di malam hari, dan healing di akhir pekan. Tak lupa, di sela-sela kesibukannya itu, pencarian jodoh di aplikasi kencan daring terus berlanjut. Enggak kapok-kapok!

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kencan Buta Online, Alternatif Mahasiswa Cari Jodoh

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2024 oleh

Tags: JogjaKota Jogja. tinderpilihan redaksitaaruftaaruf online
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO
Urban

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO
Sekolahan

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.