Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Anak Muda Butuh Olimpiade Indonesia Cerdas, Acara Kuis Edukatif yang Kini Tinggal Nama

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Januari 2025
A A
Anak Muda Butuh Olimpiade Indonesia Cerdas, Acara Kuis Edukatif yang Kini Tinggal Nama.MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak Muda Butuh Olimpiade Indonesia Cerdas, Acara Kuis Edukatif yang Kini Tinggal Nama (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemerintah wajib menghidupkan lagi acara TV Olimpiade Indonesia Cerdas (OIC). Kalau tidak bisa, setidaknya perbanyak acara serupa. Ia menjadi alasan banyak anak muda tertarik dengan ilmu pengetahuan.

***

Belakangan, acara Clash of Champions (COC) yang dipelopori oleh Ruangguru menyita perhatian masyarakat. Serial Youtube yang mengadu kecerdasan puluhan mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia ini dianggap menjadi oase di tengah keringnya tontonan edukatif.

Dalam COC, sebanyak 50 mahasiswa dari 21 universitas beradu kemampuan dalam bidang logika, hitungan, spasial, problem solving, dan hafalan. Masing-masing peserta akan menghadapi tantangan yang berbeda di tiap episode. Kemampuan menghadapi tantangan inilah yang menentukan sejauh mana laju mereka di kompetisi.

Sebelum ada COC, sebenarnya kita punya Olimpiade Indonesia Cerdas (OIC). Bedanya, OIC mengadu kemampuan dari para siswa di level SMA. Formatnya pun tak berbeda dengan konsep cerdas cermat pada umumnya.

Olimpiade Indonesia Cerdas tontonan wajib di sore hari

Yang saya ingat, Olimpiade Indonesia Cerdas tayang di RTV. Acara ini pertama kali mengudara pada 22 September 2014, tepat satu dekade lalu. Nyaris tiap sore, setiap Senin-Kamis, saya menyaksikan acara ini. Penasaran SMA mana yang akan melaju lebih jauh, atau malah gugur di hari itu.

Sayangnya, OIC cuma bertahan empat musim. Pada 2017 lalu, tepat di tahun pertama saya kuliah, acara ini bungkus.

Meski sudah tidak tayang lagi, kalian masih bisa menyaksikan keseruannya. Di Youtube, ada banyak akun yang mengunggah ulang tayangan ini di masing-masing season.

Ketika menonton ulang untuk bernostalgia, wajah-wajah peserta dari MAN Insan Cendekia Serpong, SMA Kristen 7 BPK Penabur Jakarta, atau SMA Kesatuan Bangsa Jogja masih saya ingat secara jelas. Kebetulan, tiga sekolah ini dahulu menjadi jagoan saya.

Jadi juara di sekolah gara-gara nonton OIC

Kenangan Olimpiade Indonesia Cerdas ternyata tak cuma saya rasakan. Alvian (27), salah seorang kawan saya yang baru saja menyelesaikan studi S2 di luar negeri, bercerita peran besar OIC dalam karier pendidikannya.

Dia bercerita, selama SD sampai SMP, sulit rasanya buat mengangkat minat belajar. Terutama sekali di mata pelajaran yang mengharuskan menghafal.

“Sialnya, kurikulum sekolah kan begitu. Siswa dipaksa buat lebih banyak menghafal daripada memahami,” jelasnya ketika dihubungi Mojok pada Kamis (9/1/2024) sore.

Karena lahir dari keluarga berpendidikan–bapak dan ibunya adalah guru, tuntutan akan prestasi begitu besar. Untungnya, sejak SD sampai SMP dia tak pernah keluar dari peringkat tiga besar sekolah.

“Tapi nggak menikmati apa-apa, karena sekolah isinya cuma menghafal.”

Setelah SMA, minat belajarnya mulai menurun. Untungnya, dia menyaksikan program bernama Olimpiade Indonesia Cerdas di TV. Pada awalnya, Alvian merasa ini tak berbeda dengan acara kuis pada umumnya.

Iklan

Namun, setelah mengikuti beberapa episode, dia semakin tertarik bahkan punya SMA jagoan di acara tersebut. Uniknya lagi, Alvian bercerita selama SMA dia nyaris tak belajar dengan tekun, bahkan sampai menjelang Ujian Nasional (UN). Dia tahu banyak hal dari acara OIC.

“Percaya atau tidak, pengetahuanku terbentuk gara-gara trivia di OIC. Tiap ada jawaban kira-kira aku tak mengerti, aku langsung googling penjelasannya. Ada banyak hal yang awalnya aku tak paham, dan jadi mengerti gara-gara acara itu,” jelasnya.

“Itu sangat berguna. Waktu UN, nyaris semua hal yang diujikan itu aku tahunya dari OIC,” kata lelaki asal Jawa Barat yang meraih peringkat satu Ujian Nasional di sekolahnya itu.

Anak muda butuh acara serupa

Secara konsep acara, Olimpiade Indonesia Cerdas jelas mengajarkan kompetisi. Tapi bagi Alvian, bukan itu poinnya. Menurutnya, OIC bisa menjadi cara belajar yang efektif, terutama bagi generasi muda.

“Indonesia punya banyak acara kuis, tapi mari hitung berapa yang substansial? Pertanyaan-pertanyaan trivia, kebanyakan tak berbobot. Beda dengan OIC, yang mengajarkan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dia juga tak mau sepenuhnya menyalahkan generasi muda hari ini yang terlihat jauh dari pengetahuan. Bagi dia, itu karena imbas minimnya–atau ketidakadaan–acara TV berbobot macam Olimpiade Indonesia Cerdas.

Berkaca dari suksesnya acara COC Ruangguru, Alvian pun berharap OIC bakal dihidupkan lagi. Atau setidaknya, jika tidak bisa, acara serupa bisa lahir. Apalagi, dia meyakini, di level SMA, pride akan “lambang OSIS di dada” bakal jauh lebih membara. Minat menonton pun tak akan kalah banyak jika dibanding COC.

“Anak SMA kan pride-nya gede banget. Kalau SMA mereka bertanding, dalam kompetisi apa aja, selalu semarak. Nah, aku bayangin kalau OIC kembali dihidupkan, kondisi akan demikian,” ujarnya.

“Sambil menyelam minum air. Hype ada, transfer pengetahuan pun juga ada.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: One Stop Football, Acara Bola Legend Andalan Milenial Sebelum Demam JustTalk Melanda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: cerdas cermatclash of championscockuisoicolimpiade indonesia cerdas
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

game clash of champions ala ruangguru. MOJOK.CO
Sehari-hari

Rakyat Jelata Tak Bisa Gembira dengan Pertunjukkan Clash of Champions, Cuman bikin Kesal Anak Broken Home yang Suka Adu Nasib

10 Juli 2025
Bagi Anak Desa Clash of Champions Ruangguru Tak Semengancam Hafiz Indonesia MOJOK.CO
Ragam

Bagi Anak Desa Clash of Champions Tak “Semengancam” Hafiz Indonesia, Orang Tua Tak Bisa Banding-bandingin karena Sadar Diri

21 Juli 2024
Esai

Berhasil Menang Giveaway Itu Juga Butuh Perjuangan, Sayang!

3 Mei 2019
Pojokan

Kalau Debat Capres Pakai Bahasa Inggris, Bagaimana Literally Nasib Kami?

14 September 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.