Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Naik Bus Ladju Ekonomi Surabaya-Jember: Takjub sama Jenis Penumpangnya, Bikin Waswas karena Banyak Hal Tak Terduga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 Juli 2025
A A
Naik Bus Ladju ekonomi Surabaya Jember: takjub dengan jenis penumpangnya, bersiap dengan banyak hal tak terduga MOJOK.CO

Ilustrasi - Naik Bus Ladju ekonomi Surabaya Jember: takjub dengan jenis penumpangnya, bersiap dengan banyak hal tak terduga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Demi mendapat harga murah untuk menempuh Surabaya-Jember, bus Ladju ekonomi menjadi satu jenis bus yang dipilih. Akan tetapi, naik bus satu ini memang penuh tantangan dan bersiap dengan kemungkinan buruk yang mengancam di sepanjang jalan.

Asli Sidoarjo, kuliah di Surabaya. Kehidupan Akbar (23) awalnya berkutat di sekitar Surabaya Raya saja. Hingga akhirnya, demi mengejar cinta, Akbar untuk pertama kalinya menjajal naik bus Ladju ekonomi pada 2023 silam.

Bus Ladju Surabaya-Jember, pilihan murah di antara gempuran bus mewah

Akbar bukan mahasiswa berduit. Maka, ketika hendak berangkat ke Terminal Bungurasih, Akbar sudah menetapkan pilihan bahwa dia harus mencari bus yang semurah mungkin.

Berbekal informasi seadanya, Akbar mengantongi satu nama: bus Ladju ekonomi. Sebenarnya ada banyak pilihan bus mewah untuk rute Surabaya-Jember. Bus Ladju patas—dengan jaminaan lebih nyaman dari ekonomi—pun sebenarnya ada.

“Tapi aku bawa uang pas-pasan. Jadi ambil bus Ladju ekonomi lah. Tarifnya waktu itu Rp60 ribu,” ujar Akbar saat kami betemu di sebuah kedai kopi di Ngaglik, Sleman, Sabtu (5/7/2025) malam WIB.

Ketika bus itu berhenti di pintu keberangkatan, Akbar agak ragu dengan penampilan luar bus berkelir biru-putih tersebut. Merujuk informasi yang Akbar dapat, kendati ekonomi, sebenarnya ada bus Ladju yang ber-ac tapi dengan tarif biasa.

Akan tetapi, karena siang itu yang dia dapati adalah tanpa ac, mau tidak mau bus itulah yang dia naiki. Selain itu, kondisi fisik bus juga kusam dan lawas sekali.

Takjub dengan ragam penumpang bus Ladju

Akbar langsung kaget ketika naik di dalam bus Ladju ekonomi yang dia tumpangi tersebut. Pertama, kondisi kursinya banyak yang sudah rusak. Tapi ya bagaimana lagi, nyaman tak nyaman, yang penting bisa duduk lah.

Kedua, selama perjalanan, Akbar yang memang minim pengalaman naik bus agak “takjub” dengan ragam jenis penumpang di bus tersebut.

“Ada yang rokok kebal-kebul. Jadi asapnya mengepul. Pengamen keluar-masuk sangat intens sekali,” kata Akbar. Masalahnya, ada jenis pengamen dengan tipikal maksa: enggan beranjak sebelum dikasih recehan, meski sedari awal penumpang sudah menunjukkan penolakan.

Tapi pengalaman paling sial hari itu adalah ketika tiba-tiba ada penumpang membawa keranjang ayam. Sialnya lagi, penumpang itu duduk di kursi sebelah Akbar.

“Awalnya ya nggak ada masalah. Kutinggal tidur aja. Ya walaupun suara ayamnya agak mengganggu. Tapi nggak apa-apa, itu seninya naik bus Ladju,” pikir Akbar.

Hingga akhirnya, tiba-tiba Akbar mencium bau tak sedap yang sangat menyengat. Akbar tentu saja langsung melirik arah si penumpang yang bawa ayam tadi. Aromanya memang dari sana.

“Pas aku ngelirik ke bawah, Cok, ternyata ayamnya buang kotoran di celanaku. Encer lagi. Wah jan tenan,” keluh Akbar. Tragedi itu pada akhirnya membuat upaya Akbar mengejar cintanya di Jember berakhir pupus.

Iklan

Waswas ketika memasuki “jalur gerandong”

Masih berbekal informasi yang Akbar dapat dari kenalannya yang asli Jember, ada satu jalur di Lumajang yang dinamai “jalur gerandong” oleh kenalan Akbar.

Jalur tersebut harus melewati hutan yang agak panjang. Kalau sore dan malam hari pasti gelap. Konon, jalur tersebut rawan gerandong alias rampok.

“Misalnya, kalau ada motor atau truk muatan yang lewat malam, bisa jadi sasaran rampok,” kata Akbar.

Sementara kalau untuk bus, biasanya ada pencuri yang naik dan menyamar sebagai penumpang. Si pencuri—yang disebut gerandong—akan mencari-cari celah untuk mengambil barang dari penumpang.

“Jadi setiap kali lewat situ masuk sore atau malam hari, aku waswas sendiri. Sengantuk-ngantuknya harus berusaha melek dan siaga. Takut kalau jadi korban,” tutur Akbar.

Walaupun akhirnya, setelah berkali-kali naik bus Ladju ekonomi Surabaya-Jember dan masuk daerah di Lumajang itu malam hari, Akbar mengaku belum pernah mengalami ada “gerandong” masuk di tengah-tengah penumpang. Atau jangan-jangan Akbar sendiri tidak menyadari.

Mengingat, di grup-grup busmania di Facebook, keberadaan gerandong di dalam bus Ladju ekonomi Surabaya-Jember menjadi topik yang banyak diperbincangkan.

Itulah kenapa banyak orang lebih merekomendasikan naik bus Ladju patas sekalian. Selain lebih nyaman, juga lebih aman. Toh selisih tiketnya tidak jauh-jauh amat.

Batu melayang ke dalam bus

Tingkat kecelakaan lalu lintas (laka lantas) bus Ladju ekonomi terbilang sangat rendah. Tidak semasif misalnya bus Sumber Selamet. Meski beberapa bus Ladju dikemudikan oleh sopir ugal-ugalan.

Hanya saja, kata Darko (32), seorang busmania yang aktif di Facebook dan beberapa kali naik bus Ladju ekonomi menyebut, ketakutan penumpang memang bukan karena potensi laka lantasnya. Tapi hambatan-hambatan tak terduga di jalan raya.

“Saya sendiri pernah. Pada 2014 dulu, pas di bus sampai di Probolinggo tiba-tiba ada yang melempar batu. Pecah lah kacanya. Batunya masuk bus. Penumpang panik,” kata Darko.

Itulah kenapa, jangan heran kalau mendapati beberapa bus Ladju ekonomi memasang semacam ring besi di tiap-tiap jendela. Sebagai antisipasi jika ada lemparan batu, batunya tidak masuk.

“Sekarang juga masih jadi kewaspadaan hal semacam itu. Kapan lalu baru saja terjadi, pengamen nggak boleh masuk, eh busnya dilempari batu dan kayu,” jelas Darko.

Tak hanya itu, Darko juga pernah mengalami ketika sopir bus Ladju ekonomi yang dia naiki terlibat adu jotos dengan sopir bus lain. Persoalannya ya karena berebut penumpang di jalan saja.

Jika bus Sumber Selamet atau bus-bus di pantura merespons rebutan penumpang itu dengan “balapan”, kalau di rute Surabaya-Jember, si sopir bisa saling hadang, lalu terlibat cekcok pinggir jalan bahkan bisa sampai adu pukul.

Pilihan ekonomis orang-orang kelas bawah

Kendati begitu, kata Darko, bus Ladju ekonomi memang masih menjadi pilihan banyak orang dengan rute Surabaya-Jember. Meski sebenarnya ada pilihan lain yang lebih nyaman seperti bus Ladju patas.

“Bagi orang kelas bawah, selisih harga ya tetap selisih. Jadi tetap cari yang lebih murah. Maka, Ladju ekonomi tetap jadi pilihan,” ucap Darko.

Baginya, nyaris tidak ada bedanya antara yang ac tarif biasa atau yang non-ac. Sebab, kadang yang ber-ac pun ada saja yang ac-nya mati dan kursinya rusak. Malah ada saja yang nekat merokok meski busnya ber-ac.

“Orang kelas bawah itu sudah nggak sempat mikir nyaman nggak nyaman, Mas. Pokoknya murah, terus sampai tujuan,” ucap Darko.

Mereka pun cenderung lebih kebal dengan hambatan-hambatan atau banyak hal tak terduga di jalan, yang mungkin akan membuat kaget orang-orang yang baru pertama kali naik bus Ladju ekonomi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Coba-coba Boker di Toilet Bus Patas, Niat Legakan Perut Malah Dibikin Waswas hingga Repot saat Cebok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 9 Juli 2025 oleh

Tags: bus ekonomibus ladjubus ladju ekonomibus surabaya jemberJemberSurabayatiket bus ladju
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO
Catatan

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO
Otomojok

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja MOJOK.CO

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

16 Februari 2026
pertamina bikin mudik lewat jalan tol semakin mudah.MOJOK.CO

Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access

20 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.