Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mitos Kerukunan dan Hidup Ayem di Desa: Aslinya Penuh Kepalsuan, Baik di Depan tapi Busuk di Belakang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Desember 2025
A A
Mitos kerukunan di desa bikin warga desa ingin merantau jauh dan hidup individualistik di perantauan demi hidup tenang MOJOK.CO

Ilustrasi - Mitos kerukunan di desa bikin warga desa ingin merantau jauh dan hidup individualistik di perantauan demi hidup tenang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa orang merasa menemukan ketenangan di desa. Selain suasana serba hijau, di antara faktornya adalah lantaran budaya guyub rukun warganya. Namun, ada juga yang justru menganggap kerukunan tersebut hanya mitos belaka. Ada fakta-fakta pahit yang membuat berpikir, rasa-rasanya merantau ke kota jauh, hidup individualistik di perantauan jauh lebih baik.

***

Setiap pulang ke kampung halaman, beberapa teman dan saudara sering bertanya rencana saya di masa mendatang: Menua di perantauan atau pulang dan kembali hidup di desa?

Sialnya, saya belum punya gambaran jelas. Saya hanya mencoba menjalani apa yang bisa saya jalani hari ini. Rezeki saya saat ini lewat jalur merantau, ya sudah saya nikmati dulu.

Namun, saya tidak bisa menampik, di hati kecil saya terbersit keinginan untuk pulang ke desa suatu hari nanti. Menjalani hidup dengan lamban, sak madya, dan yang paling penting adalah tidak jauh-jauh dari keluarga.

Sementara beberapa teman berpikir sebaliknya: Mereka sangat ingin meninggalkan desa. Bukan semata karena kondisi ekonomi. Tapi karena fakta-fakta pahit tentang desa yang selama ini kerap tertutup oleh narasi “Betapa ayem hidup di desa”.

Lebih baik hidup individualistik daripada hidup sama tetangga dan saudara julid

“Kamu pengin hidup ayem di desa? Jangan harap. Kamu selama ini merasa ayem tiap pulang karena kamu di rumah hanya tiga hari. Kalau sudah bertahun-tahun, mentalmu pasti akan kacau,” ujar seorang teman saat berbincang di sela nonton pertandingan SEA Games 2025 antara timnas sepak bola putra Indonesia vs Filipina, Senin (8/12/2025) malam.

Hingga sekarang berumur 25 tahun, ia memang tidak pernah merantau ke kota jauh. Hanya nyantri lama di pondok pesantren di dalam kabupaten sendiri. Beda dengan saya yang lebih banyak menghabiskan waktu di kota orang.

Makin ke sini, teman saya itu berpikir untuk meninggalkan desa. Bekerja apa saja di luar kota. Kalau harus merantau ke luar negeri pun tak masalah. Mengingat, kebanyakan laki-laki desa kami memang merantau bekerja sebagai kuli bangunan di Malaysia.

“Pasti kamu akan bilang, hidup di perantauan, apalagi di kota besar seperti Surabaya atau bahkan Jakarta itu nggak enak. Sendirian, jauh dari keluarga, budayanya individualistik. Tapi mending hidup nafsi nafsi (sendiri-sendiri), tak ada gangguan dari orang lain,” katanya.

Di desa, lanjutnya, ia harus tahan-tahanan mental hidup dekat dengan tetangga dan saudara julid. Sedikit-sedikit dibandingkan-bandingkan. Sedikit-sedikit dijulidin. Umur segini belum nikah kena sindir. Umur segini belum jadi “orang”, kena cibir. Serba salah.

Mitos kerukunan dan keramahan warga desa: baik di depan, busuk di belakang

Berangkat dari keresahan teman saya sendiri, saya kemudian menemukan fakta-fakta lain perihal kehidupan di desa dari cerita tiga orang lain. Dua orang merupakan pemuda usia 29 tahun dan 33 tahun yang berasal dari desa yang sama di Jawa Tengah. Sementara satu narasumber lain adalah pemuda desa berumur 29 asal Jawa Timur.

Meraka merasa, kerukunan dan keramahan di desa sebenarnya hanya mitos belaka. Pasalnya, banyak orang yang mereka dapati bisa berwajah dua. Bisa tampak sangat baik di depan, tapi bisa menjadi sangat busuk di belakang. Kerukunan dan keramahan tidak lebih dari sekadar basa-basi amat basi.

Mereka menyaksikan, misalnya ada orang punya acara dan mengundang tetangga dan saudara. Di depan pemilik hajat, para tetangga dan saudara itu menunjukkan wajah antusias. Memberi kesan guyub satu sama lain.

Iklan

Namun, di belakangnya, oknum tetangga dan saudara itu bisa nyinyir habis-habisan misalnya hanya karena acara yang digelar terlampau sederhana.

Jika bertemu di jalan, di masjid, atau di mana pun, antar-warga bisa tampak saling peduli dan saling mendukung. Tapi kalau sudah di belakang, yang terjadi bisa saling menjatuhkan dan menjelakkan-jelekkan. Tiga narasumber say aitu sampai menyebut, “Wajah asli desa itu bukan kerukunan, tapi saling makan bangkai sesama.”

Tak ada gotong royong atau saling tolong secara cuma-cuma di desa

Satu hal yang saya sukai setiap pulang dari perantauan adalah: Melihat bagaimana warga desa bisa saling gotong royong atau saling tolong.

Di desa saya ada istilah “sambatan”. Yakni ketika tetangga akan membantu memberikan waktu dan tenaga untuk hajat tertentu. Misalnya, saya baru saja menyembelih kambing untuk akikah anak pertama saya. Tanpa diminta, tetangga-tetangga dekat ikut turun membantu.

Tapi tiga narasumber saya memberi pengakuan berbeda. Dalam kasus di desa mereka, sejatinya tidak ada saling tolong yang diberikan secara cuma-cuma. Ada tuntutan untuk membalas dengan sepadan.

Misalnya, jika Si A membantu Si B hari ini, maka kelak Si B harus membantu balik. Kalau suatu saat ternyata Si B absen membantu karena situasi tertentu, Si B bisa habis jadi omongan di belakang.

Dalam tradisi “buwuh/buwoh/bowoh” (Menyumbang orang menikah, kematian, kelahiran bayi, khitanan, dan hajatan-hajatan lain) lebih ngeri. Jika Si A menyumbang uang Rp100 ribu dan beras Rp3 kilogram, itu harus Si B catat untuk dikembalikan dengan angka yang sama ketika Si A giliran menggelar acara.

Kalau tidak sama, bahkan jika sumbangan beras yang diberikan Si B kualitasnya berbeda dengan yang pernah Si A kasih, benih-benih permusuhan bisa lahir dari sini. Tak ada pemberian cuma-cuma, yang berlaku adalah utang-piutang.

Padahal, bagi tiga narasumber saya, harusnya membalas bantuan atau sumbangan orang lain harusnya tidak perlu sepadan. Semampunya saja. Bahkan jika tidak membalas bantuan harusnya tak jadi soal.

Perkara warisan bisa jadi fitnah brutal

Tiga narasumber saya menyaksikan sendiri, baik di keluarga mereka maupun warga desa lain, betapa perkara warisan bisa menjadi fitnah yang begitu mengerikan.

Kata mereka, tak terhitung berapa hubungan kekeluargaan putus begitu saja gara-gara berebut warisan. Warisan dari orang tua sudah coba dibagi seadil-adilnya sesuai syariat. Namun, ada saja yang tidak puas: Berhasrat mendapat jatah lebih banyak.

Saling fitnah pun tak terhindarkan. Pihak Si A membuka aib-aib Si B kepada warga lain. Pihak Si B menebar fitnah brutal tentang Si A: Menuding Si A punya pasangan simpanan, Si A suka menilap uang keluarga, tak pernah salat, dan seterusnya.

Bahkan, ada juga kakak-beradik yang sudah mengavling warisan masing-masing. Bapak mereka memang sudah tua, tapi sebenarnya masih sangat bugar. Akan tetapi, di hadapan sang bapak, kakak-beradik itu saling gontok-gontokan untuk membagi jatah warisan masing-masing. Mengerikan sekali.

***

“Yakin suatu saat kamu akan pulang ke desa, meninggalkan perantauan?” Pertanyaan itu ditujukan kepada saya. Saya masih belum bisa menjawab.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pertama Kali Punya Mobil Pribadi buat Pamer ke Tetangga, Malah Berujung Repot Sendiri hingga Dijual Lagi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2025 oleh

Tags: Desakehidupan desakerukunan desamerantauperantauanpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Hari Valentine, “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks?.MOJOK.CO
Lipsus

“Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?

13 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan
Ragam

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Gojek, gocar instant.CO

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Layung Senja: meditasi melepas kepenatan di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang MOJOK.CO

Layung Senja: Meditasi Lepas Penat di Kawasan Candi Borobudur, Mendengar Suara Alam yang Kerap Terabaikan

15 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

12 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.