Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Manga dan Manhwa Semakin Populer di Kalangan Anak Muda, ke Mana Komik Karya Indonesia?

Mohamadeus Mikail oleh Mohamadeus Mikail
20 September 2025
A A
Komik Indonesia di tengah popularitas Manga dan Manhwa MOJOK.CO

Ilustrasi - Komik Indonesia di tengah popularitas Manga dan Manhwa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rak komik di toko buku yang saya jumpai sehari-hari sering kali terisi penuh dengan Manga dan Manhwa. Jika ada komik lain pun, biasanya komik asal Barat seperti komik pahlawan-super. Indonesia sebenarnya memiliki karya-karya komiknya sendiri. Namun, kenapa pamornya seperti tertelan dengan popularitas komik-komik luar negeri?

***

Iklan

Ketika mengunjungi Gramedia atau Periplus dan melewati rak komik, Manga-Manga populer terkini seperti Jujutsu Kaisen, Demon Slayer, ataupun yang klasik seperti One-Piece berderet mencolok.

Komik-komik luar ini memang memiliki pasar pembaca yang relatif stabil atau bahkan masih bertumbuh hingga kini. Berangkat dari fenomena tersebut, muncul lah pertanyaan di dalam benak saya, “Ke mana komik-komik karya Indonesia?”

Komik Indonesia sebenarnya pernah berjaya. Pada 1960-an sampai 1970-an, terbit komik-komik populer seperti Mahabharata dan Gundala Putra Petir. Kini, selain komik Si Juki, komik-komik karya lain jarang terlihat.

Ketiadaan industri mengaburkan komik Indonesia

Indonesia memang pernah memiliki industri komik yang besar di sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an. Namun, di bawah pemerintahan Orde Baru, banyak dari industri tersebut gulung tikar.

“Ketika komik dicap sebagai bacaan buruk di tahun 80-an, orang tua mendorong anak untuk membeli buku saja. Sehingga itu mengubah pola belanja anak. Mereka tidak lagi ke rental komik,” jelas pengamat budaya komik Indonesia, Hikmat Darmawan, saat saya temui pada Senin (25/8/2025)

Oleh karena itu, komik di era kontemporer kini tidak memiliki industri atau ekosistem yang jelas. Ketiadaan industri komik inilah yang menjadi permasalahan struktural dan menjadi penyebab utama mengapa komik karya Indonesia di saat ini tidak begitu nampak. Belum lagi ditambah dengan berkembang pesatnya komik-komik asing di Indonesia.

“Tumbuh lah dua atau tiga generasi yang bacaan pertama mereka tentang komik adalah bukan komik Indonesia. Pun komik Indonesia yang mereka jumpai di-Manga-Mangakan atau di-Marvel-Marvelkan,” ucap Hikmat.

Ketiadaan industri yang terstruktur ini menyebabkan komik-komik Indonesia menjangkau masyarakat lewat sektor informal. Tetapi itupun tidak sustainable.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Secara cetak kita sudah kalah, dan kalau bicara Gramedia kan monopolistik. Kan dia punya toko buku dan distributor, secara rasional lebih masuk akal untuk ngambil terjemahan. Ya tergusur lah komik Indonesia” sambung Hikmat.

Kecemasan menghidupi diri sebagai komikus

Ketika membicarakan tantangan membuat komik saat ini, sebenarnya banyak dimensi yang patut disoroti. Nihilnya pendistribusian komik di Indonesia tidak hanya menyebabkan ketiadaan pasar untuk komik Indonesia, tetapi juga ilmu untuk membuat komik itu sendiri. Alhasil banyak komikus Indonesia pada saat ini belajar membuat komik secara otodidak.

Saya juga sempat berbincang dengan penulis komik Ricky R. Setiyawan, yang pernah menulis komik Roh Garuda. Ia bercerita, salah satu kekhawatiran sebagai komikus sekarang adalah bagaimana cara mencari nafkah jika hanya membuat komik saja.

“Secara realistis kan kita selalu membayangkan masa depannya ke mana sebagai individu. Sebagai komikus itu apakah bisa hidup dari pekerjaan itu, belum lagi yang sandwich generation,” cerita Ricky dengan keprihatinan.

Iklan

“Sulit juga untuk membuat komik ketika dihajar dengan adanya opsi-opsi lain, seperti hiburan gawai ataupun komik-komik luar yang industrinya kuat,” sambung Ricky. Akhirnya motivasi sebagai komikus pun tidak begitu menarik bagi anak-anak muda.

Mungkinkah menciptakan pasar komik Indonesia (lagi)?

Pasar pada dasarnya dapat diciptakan, begitu juga dengan perkomikan di Indonesia. Hanya saja, enurut Ricky, menciptakan perubahan besar seperti menciptakan pasar komik Indoneisa (lagi) bukan tanggung jawab satu orang.

Untuk memancing perputaran uang yang sehat, butuh adanya kolaborasi antar-berbagai pihak industri multimedia.

Untuk para komikus, menurut Ricky, yang perlu ditekankan pada masa kini adalah pemahaman tentang pengembangan Intellectual Property (I.P.). Ketika sudah menjadi I.P., baru memungkinkan untuk mengadaptasi komik ke berbagai medium lainnya. Contohnya dengan mengadaptasi komik-komik menjadi film ataupun animasi.

“Saranku untuk para komikus, mereka harus berpikir bahwa karya mereka ini bisa menjadi milik orang lain juga, sehingga bisa dirayakan oleh orang lain juga. Ketika orang-orang juga dapat membangun karya itu bersama, karya itu akan menjadi besar,” tutur Ricky.

Namun, kembali lagi, agar sebuah I.P. bisa berkembang dengan baik, wadah dalam industrinya harus sudah diciptakan terlebih dahulu: membangun sebuah industri tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja, melainkan bareng-bareng antar-sektor industri. Misalnya antara industri komik berbarengan dengan industri animasi, dan industri film. Sehingga bisa tumbuh secara bersamaan.

Tantangan dalam membangun industri ini pun memiliki risiko yang sangat tinggi. Investasinya juga tidak murah.

“Harus ada yang cukup gila dan cukup berani. Sekalinya berhasil, itu akan menciptakan jalan bagi yang lain,” pungkas komikus Roh Garuda tersebut.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Mojok periode Juli-September 2025. 

Penulis: Mohamadeus Mikail
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Membantah Stigma Buruk tentang Wibu: Dari Waifu, Nolep, hingga Nggak Intelek atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 September 2025 oleh

Tags: komikkomik indonesiakomikusmangasejarah komik indonesia
Mohamadeus Mikail

Mohamadeus Mikail

Artikel Terkait

Pameran buku anak termasuk komik. MOJOK.CO
Ragam

Komikus Era 80-an Akui Sulitnya Membuat Karya di Masa Kini, bahkan Harus Mengamati Lewat Drakor untuk Kembangkan Cerita Anak

15 November 2025
Keruntuhan komik di Indonesia disebut gara-gara Manga, padahal pemerintah sendiri MOJOK.CO
Ragam

Komik Jadi Bacaan Populer di Indonesia Sejak 50-an, Diruntuhkan karena Cap “Dewasa”

17 September 2025
Menjadi Wibu Itu Tidak Selalu Anti Sosial
Video

Menjadi Wibu Itu Tidak Selalu Anti Sosial

11 Januari 2025
Membantah Stigma Buruk Tentang Penyuka Anime alias Wibu MOJOK.CO
Catatan

Membantah Stigma Buruk tentang Wibu: Dari Waifu, Nolep, hingga Nggak Intelek

25 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026

6 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.