ADVERTISEMENT

Wisata Kota Lama Surabaya Kelewat Diromantisasi, Bisa Berakhir kayak Jalan Tunjungan yang Makin Nggak Menarik

Wisata Kota Lama Surabaya, Cuma Jadi Tempat Romantisasi Minim Edukasi MOJOK.CO

Wujud Kebhinekaan

Beberapa hari sebelum soft launching, persisnya pada Minggu (23/6/2024), Irvan Wahyudrajad selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya sebenarnya sempat menjelaskan perihal pembagian zona di kawasan wisata Kota Lama Surabaya.

Konsep segregasi tersebut bertujuan agar kawasan tersebut bukan sekadar menjadi jujukan wisata saja. Akan tetapi juga sebagai tempat untuk mengingat kembali sejarah terbentuknya Kota Pahlawan, yang mana melibatkan berbagai etnis: Eropa, Arab, Tionghoa, Melayu, Jawa, dan Madura.

Dengan begitu, maka rasa gotong royong, toleransi, saling menghargai sesama, dan nilai Kebhinekaan warga Kota Surabaya akan semakin erat.

“Di sini, perbedaan bukan menjadi pemisah, melainkan kekuatan pemersatu yang melahirkan kekayaan budaya tak ternilai,” jelas Irvan dalam keterangan tertulisnya.

Khawatir berakhir seperti Jalan Tunjungan

Sebenarnya saat mendengar wacana pembuatan kawasan sejarah tersebut, Dipta (26) yang asli Kota Pahlawan cukup antusias. Karena selain Tugu Pahlawan, setidaknya ada satu kawasan lagi yang menggambarkan kuatnya nilai historisitas Kota Pahlawan.

Namun, dengan konsep yang Eri Cahyadi tawarkan, Dipta malah pesimis. Ia mulai khawatir kalau kawasan tersebut bakal menjadi kawasan romantisasi belaka.

“Yang datang ke sana nantinya bisa jadi hanya untuk foto-foto dan nongkrong-nongkrong saja. Nilai edukasinya nggak ada,” ungkap Dipta saat dihubungi, Minggu (30/6/2024).

Wisata Kota Lama Surabaya, Cuma Jadi Tempat Romantisasi Minim Edukasi MOJOK.CO
Kawasan wisata Kota Lama Surabaya. (Dok. Pemkot Kota Pahlawan)

“Lebih buruk, bisa jadi cuma jadi ajang eksistensialis orang-orang Fomo. Dengan begitu, akan berakhir seperti Jalan Tunjungan yang kini semrawutnya bukan main,” sambungnya.

Dalam benak Dipta, sebenarnya ada sekian ekspektasi terhadap wisata baru tersebut. Namun, kata Dipta, kita tunggu saja nanti bakal berakhir seperti apa. Apakah menjadi wisata yang menawarkan aspek heritage sebagai medium edukasi, atus justru hanya romantisasi.

Intinya, jika kelak berakhir seperti Jalan Tunjungan, bukan tidak mungkin jika kawasan wisata tersebut malah menjadi tak menarik.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bertahun-tahun Tinggal di Surabaya tapi Saya Ogah Naik Suroboyo Bus Karena Ribet dan Nggak Nyaman Blas

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2024 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.