Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sensasi Ngekos 300 Ribu di Jakarta Barat: Rela Tidur Bareng Tikus dan Bertetangga dengan Pengedar Narkoba Demi Bertahan Hidup di Perantauan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Juli 2024
A A
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO

Ilustrasi - Derita Lulusan S1 (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada beberapa kawasan di ibu kota yang terkenal menyediakan kos murah. Di antaranya adalah Kebon Jeruk dan Tambora, dua kecamatan di Jakarta Barat. Sayangnya, kondisinya memang sangat memprihatinkan.

Bagaimana tidak, di Jakarta semua serba mahal. Kalaupun ada yang murah, kualitasnya pasti jauh dari harapan, termasuk soal urusan kos-kosan.

Iklan

Di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, memang ada kos-kosan seharga Rp300 ribu sebulan. Namun, seperti halnya di daerah-daerah lain, penghuni tak bisa berekspektasi lebih terhadap kos murah.

“Ada harga, ada rupa dong, Bang. Apalagi ini di Jakarta,” ungkap Febrian (23), Rabu (24/7/2024) malam. Ia merupakan perantau asal Jawa Barat yang sudah tiga tahun tinggal di Jakarta.

Tiba di Jakarta Barat pada 2021 lalu, Febrian ngekos bersama lima teman dari kampung halamannya. Ia mendapatkan kos di salah satu gang yang terkenal kumuh di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dengan mahar Rp300 ribu, ia mendapatkan tempat tinggal seluas cuma 2×3 meter.

Mirisnya, kos itu masih berdinding asbes dan alasnya berupa plesteran semen–bukan keramik. Belum lagi daerah situ juga langganan banjir, sehingga air masuk kamar saat tengah tidur lelap sudah bukan cerita baru.

“Kecoa masuk celana. Tikus gigitin jempol kaki. Macem-macem lah, Bang, kejadiannya kalau udah malam. Tapi ya kita syukuri aja, yang penting bisa hidup,” kata Febrian.

Ngekos di Kebon Jeruk Jakarta Barat, salah pergaulan bisa terjerat “lendir” dan “narkoboy”

Lingkungan tempat Febrian ngekos didominasi oleh para perantau. Umumnya mereka datang ke Jakarta buat berdagang. Namun, tak sedikit juga yang modal nekat tanpa rencana.

Sehingga, kata Febrian, tak sedikit yang hidupnya malah luntang-lantung di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kalau tidak serabutan, mereka berakhir di “dunia gelap”.

“Maaf kalau kurang sopan, tapi di kawasan kosku kalau mau bisa makan yang perempuan pada punya ‘bisnis sampingan’, Bang. Nggak semua, tapi banyak yang open BO,” ungkap Febrian.

Ia sendiri bekerja sebagai penjaga toko pakaian di sebuah pasar. Upahnya dibayar mingguan dengan nominal tak menentu. Kalau omzet sedang ramai, ia bisa digaji sampai sejuta. Tapi kalau lagi sepi, paling mentok hanya dapat duit setengahnya saja.

“Makanya, kalau nggak pinter-pinter pakai duit bisa berakhir ke dunia gelap, Bang. Yang cewek-cewek ke lendir, kalau cowok-cowok biasanya sih narkoboy,” jelasnya.

Febrian mengakui, di lingkungan kosnya memang banyak dijumpai pengedar barang haram tersebut. Sasaran tembaknya biasanya ke para perantau.

Iklan

Tak sedikit kenalannya yang mengikuti jejak sebagai penjual narkoba juga. Tapi memang kebanyakan mereka berakhir sebagai pengguna saja.

“Bolak-balik pada ditangkepin. Belum lama ada yang kena grebek, Bang. Tapi ya itu, mati satu tumbuh seribu,” katanya.

7 tahun ngekos 350 ribu di Tambora Jakarta Barat, tidur dengan ASMR suara kereta dan orang bercinta

Sebelumya, Mojok juga mengobrol dengan Oki (26), perantau asal Cirebon yang sudah tujuh tahun ngekos di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Sejak kuliah sampai kerja, ia masih setia tinggal di kos kumuh berukuran 2×3 itu karena memang sangat murah. Harganya cuma Rp350 ribu sebulan.

Tempat tinggal Oki sendiri ada di sebuah gang yang terkenal jadi tempat para perantau asal Sunda. Lokasinya tak jauh dari rel kereta api. Sehingga, suara dan getaran si ular besi itu ia bisa rasakan saat sedang terlelap.

Lebih membangongkan lagi, antarkamar kos di kawasan itu cuma dibatasi dinding asbes–bukan tembok. Sehingga, tak jarang saat malam hari ia bisa mendengarkan suara tetangga yangs sedang bercinta.

“Lingkungan sini kan nggak cuma mahasiswa, tapi orang-orang berkeluarga juga. Makanya kalau lagi ‘nganu’ sering kedengaran,” kata Oki, Minggu (22/7/2024).

“Jadi kalau tidur, ASMR-nya itu suara kereta sama orang bercinta,” kelakarnya.

Sejak periode 1990, banyak perantau memang berbondong-bondong menetap di Tambora, Jawa Barat. Alhasil, memasuki awal 2000-an, tingkat kepadatan penduduk di kawasan ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, yakni 495 jiwa per hektar.

Tempat yang awalnya masih sepi mendadak ramai dan tak teratur. Bangunan mulai banyak berdiri, lebar jalan juga menyempit, dan parahnya lagi, sanitasi makin memburuk. Puncaknya, dua dekade lalu, tepatnya pada 2002, Dirjen Cipta Karya menetapkan Tambora sebagai salah satu kawasan berkategori kumuh di Jakarta.

Makanya, menurut penutuan Oki, tak cuma ASMR suara kereta dan orang bercinta. Kalau sedang tidur, ia sering “digauli” tikus dan kecoa saking kumuhnya kos yang ia tinggali.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Kerasnya Hidup di Tambora Jakarta Barat, Perantau Berbagi Ruang dengan Tikus dan Kecoa di Kos Kumuh

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2024 oleh

Tags: Jakarta Baratkebon jerukkebon jeruk jakarta baratkos di jakartakos kumuhtamboratambora jakarta barat
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO
Urban

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co
Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Pasar Petamburan di Jakarta Barat jadi siksu perjuangan gen Z lulusan SMA. MOJOK.CO
Ragam

Pasar Petamburan Jadi Saksi Bisu Perjuangan Saya Jualan Sejak Usia 8 Tahun demi Bertahan Hidup di Jakarta usai Orang Tua Berpisah

19 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.