Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sulit Cari Kerja di Jogja, Milenial Asal Pati Ini Putuskan Buka Bisnis Sendiri dan Hasilkan Rp15 Juta per Bulan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
28 April 2025
A A
Mangut kepala manyung Pantura di Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - Mangut kepala manyung. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sulitnya mencari kerja setelah lulus kuliah di Jogja dirasakan oleh Feri (29). Pemuda asal Pati, Jawa Tengah itu sempat bekerja di suatu lembaga swadaya masyarakat (LSM) setelah lulus. Namun baru satu bulan di sana, ia berhenti karena kebutuhan ekonomi yang mendesak di masa Covid-19.

Tak hilang akal, Feri justru membuat peluang dengan mendirikan warung makan. Ia terinspirasi dari pengalamannya sendiri yang resah mencari makanan yang cocok di lidah. Sebagai warga asli Pati, kadang-kadang ia rindu dengan masakan khas daerah Pantura (khususnya Pati-Rembang) seperti kepala manyung dan mangut.

Feri yang juga suka kuliner dan berkeliling di sekitaran Jogja mengaku belum menemukan warung yang menyajikan masakan khas tersebut. Biasanya hanya warung umum seperti burjo atau warung khas Semarang dan Wonogiri.

“Sebetulnya aku pernah makan di Jalan Wonosari. (kepala manyung) itu ada dan ternyata karyawannya temanku sendiri tapi nggak tahu kenapa sekarang sudah tutup. Jadi ya saat itu bisa dibilang warungku ini satu-satunya di Jogja,” ujar Feri.  

Buka Warung Makan Khas Pantura di Jogja

Warung Sambel Panggang Cak Naryo milik Feri berdiri sejak 2020 di Jogja. Naryo sendiri berasal dari nama ayahnya yang pernah bekerja di Warung Makan Pak Hadi, Jakarta. Banyak dari teman ayahnya di sana yang berasal dari Jawa Timur sehingga ayahnya sering dipanggil “Cak”.

Mangut Kepala Manyung. MOJOK.CO
Mangut Kepala Manyung. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain itu, keluarga Feri memang memiliki warung di Pati. Sehingga, sedikit banyak Feri sudah memiliki bekal untuk berbisnis kuliner sekaligus memasak makanan yang pedas dan bumbu yang kuat.

“Tapi itu warung-warung kopi biasa. Pelanggannya ya para sopir truk atau bus yang singgah,” kata Feri. Sementara, warung miliknya di Jogja menjadi jujugan para perantau untuk melepas rindu. “Banyak perantau dari Pantura kangen juga dengan olahan ikan asap ala Pantura,” lanjutnya.

Selain itu, kebanyakan pembelinya adalah santri karena lokasinya di kawasan Krapyak, Yogyakarta. Oleh karena itu, selain menyuguhkan kepala manyung Feri juga menyajikan hidangan “biasa” khusus untuk santri.

Sempat tak balik modal, kini penghasilan meningkat

Di awal bisnisnya, Feri tak lepas menemui hambatan. Dua minggu setelah dibuka, warungnya masih sepi pengunjung bahkan penghasilannya hanya Rp150 ribu hingga Rp200 ribu dalam sehari. Kadang-kadang malah tak ada pembeli sama sekali. 

Ia sampai mengalami defisit alias nggak balik modal karena rugi. Namun, Feri tak mau berhenti. Ia pun mempertahankan warungnya tetap buka di Jogja dengan terpaksa meminta “subsidi” dari keluarganya di Pati. 

“Jadi aku pesan ikan asap dari Pati to, terus aku bilang ke ibuku, ‘Bu, bayar sek ya’. Kira-kira begitu,” ujar Feri.

Mangut Kepala Manyung 2. MOJOK.CO
Mangut Kepala Manyung 2. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tak habis akal, ia kemudian memanfaatkan aplikasi online untuk menjual masakannya. Gara-gara itu, omsetnya langsung naik drastis. Pesananannya bisa sampai 80 hingga 90 porsi dalam sehari. 

“Saya bisa dapat penghasilan Rp600 sampai Rp1,2 juta per hari,” kata Feri. Jika dihitung dengan jadwal libur, Feri bisa menghasilkan Rp15 juta dalam sebulan.

Kedermawanan pemilik warung makan khas Pantura di Jogja

Saya sudah dua kali ini ke Warung Sambel Panggang Cak Naryo milik Feri di Jogja, sebab kunjungan pertama serta pengalaman pertama saya mencicipi mangut kepala manyung bikin nagih. 

Iklan

Kali ini, saya bersama satu orang dari divisi video Mojok untuk mencicipi menu khas Pantura tersebut yang ternyata juga mengacungi jempol masakan Feri. Tak lama setelah kami tiba, Feri langsung memamerkan desain brosur barunya berisi menu warung miliknya.

Karena bertepatan di hari Jumat, ia ingin memberikan diskon untuk pelanggannya. Terutama para santri yang menjadi langganan pembeli nasi plus telur. Biasanya, menu favorit santri tersebut dipatok dengan harga Rp9 ribu.

“Nah, ini saya diskon Rp8 ribu. Nasinya bisa tambah sendiri,” kata Feri.

Jelas saja warungnya tak pernah sepi karena jamuannya yang ramah dan harganya yang murah. Saat kami hendak membayar kepala manyung ukuran L seharga Rp50 ribu, Feri meminta kami cukup membayar Rp30 ribu. Beberapa kali menolak diskon tersebut, tapi Feri tak mau kalah bersikukuh.

“Nggak apa-apa, harga teman,” kata dia.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Menjadi Petani di Klaten hingga Temukan Padi dan Tembakau Premium, Bikin Doktor Pertanian Belanda Terkagum-kagum atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2025 oleh

Tags: bisnis kulinerkerja di jogjakuliner panturamangut kepala manyungPati
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living
Urban

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

2 Maret 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.