Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Menjadi Petani di Klaten hingga Temukan Padi dan Tembakau Premium, Bikin Doktor Pertanian Belanda Terkagum-kagum

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
28 Januari 2025
A A
Jagus, sosok petani Klaten yang temukan banyak tanaman unggulan MOJOK.CO

Ilustrasi - Jagus, sosok petani Klaten yang temukan banyak tanaman unggulan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Klaten sejak dulu seolah menjadi laboratium bagi petani untuk menemukan tanaman-tanaman unggulan. Salah satu nama petani yang tersohor adalah Jagus (cara bacanya: Yagus). Sosok petani yang memikat Presiden Soekarno. Jagus adalah petani yang melawan kemustahilan yang membuat para doktor Belanda angkat tangan.

***

Iklan

Dalam beberapa tahun terakhir, Klaten selalu mengalami surplus beras. Tidak heran jika kota kecil di Jawa Tengah tersebut kemudian mengukuhkan diri sebagai kabupaten penyangga pangan (lumbung pangan), baik di tingkat regional (Jawa Tengah) maupun nasional.

Merujuk data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten, pada 2020 Klaten mencatat surplus beras hingga 101.000 ton, 157.000 ton pada 2021, 200.085 ton pada 2022, dan 87.969 ton di tahun 2023.

Angka 87.000 di 2023 bisa dibilang masih angka yang tinggi. Sebab, pada 2023, petani di Klaten harus berjibaku di tengah El Nino, tapi masih bisa surplus sebesar itu.

Lantaran konsisten menghasilkan surplus beras, Pemerintah Kabupaten (Pemkab Klaten) pun menerima anugerah “Inovasi Pembangunan Terpuji” dalam Detik Jateng-Jogja Awards 2024 kategori Program Ketahanan Pangan se-Jawa Tengah-DIY.

Penemuan padi Rojolele Srinuk yang untungkan petani

Masih dari laporan DKPP Klaten, pada 2022, Pemkab bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melakukan rekayasa genetik, hingga menghasilkan varietas padi yang kemudian dinamai Rojolele Srinuk.

Jenis padi ini disebut memiliki keunggulan dari Rojolel induknya. Misalnya, masa tanam Rojolele induk bisa mencapai enam sampai tujuh bulan. Sedangkan masa tanam Rojolele Srinuk hanya 110 hari atau sekitar tiga bulan. Artinya, masa tanamnya lebih singkat ketimbang Rojolele  induk.

Tidak hanya itu, Rojolele Srinuk lebih aman ketimbang Rojolele induk. Ukuran Rojolele Srinuk lebih pendek, sehingga aman dari serangan burung atau terpaan angin yang dapat merobohkannya.

Tentu berbeda dengan Rojolele induk yang ukurannya tinggi (lebih dari 1 meter), sehingga rentan diserbu burung atau dihempas angin.

Petani Klaten pun disebut lebih untung ketika menanam varietas Rojolele Srinuk. Pasalnya, setiap kali panen Srinuk, petani bisa meraup pendapatan hingga Rp6 juta per hektare.

Sedangkan panen varietas lain atau Rojolele induk biasanya menghasilkan Rp4 juta sampai Rp5 juta per hektare. Itu pun harus bersiap dengan risiko yang cukup besar (seperti disinggung tadi).

Pada 2022 itu pula, Rojolele Srinuk mendapat hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Selada dan tembakau premium Klaten yang jadi nomor 1 di pasaran Belanda

Jauh sebelum hari ini, Klaten sempat menjadi “laboratorium” bagi seorang petani bernama Jagus.

Jagus sebenarnya asli Madiun, Jawa Timur. Lahir pada 6 September 1901. Sisa hidupnya kemudian dihabiskan di Klaten.

Pada 1932, Jagus bekerja di Proefstation Tembakau Klaten bagian seleksi. Jagus sama sekali tidak mengenyam pendidikan tinggi ilmu tani. Gurunya adalah pengalaman. Laboratoriumnya adalah sawah dan ladang.

Saat bekerja di pusat penelitian tembakau itu, Jagus berhasil menemukan satu jenis tembakau yang tahan serangan hama. Nama tembakaunya: Grote Broek.

“Pada masanya, tembakau itu jadi tembakau premium nomor satu di pasaran tembakau di Belanda,” ujar pengarsip, Muhidin M. Dahlan, dalam program Jasmerah di kanal YouTube Mojokdotco.

Iklan

“Saat itu ada doktor tani asal Belanda yang ditugasi memperbaiki kualitas tembakau di Belanda. Namanya, Dr. d’Angremoond. Dia sudah riset sepanjang 1915-1928 dan selalu gagal, menemui jalan buntu. Sampai akhirnya ketemu Jagus,” sambungnya.

Itu bukan yang pertama kali temuan Jagus membuat orang Belanda terkagum-kagum. Pada 1926—sebelum bekerja di pusat penelitian tembakau Klaten—Jagus sempat melakukan ikhtiar mengawinkan beragam jenis selada. Hasilnya, dia berhasil menciptakan selada raksasa yang dikagumi oleh orang-orang Belanda.

Baca halaman selanjutnya…

Temukan jenis padi besar-besar setelah diragukan sarjana pertanian Belanda 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2025 oleh

Tags: jagusklatenpertanian klatenpetani klatenpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.