Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Stasiun Gambir, Cinta dan Sakit Hati Pertama Seorang Perantau di Jakarta yang Kini Sudah “Purna Tugas”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 April 2025
A A
Stasiun Gambir Jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi - KA Bengawan Harusnya Ditulis dalam Lembar Ucapan Terima Kasih Skripsi. Seorang anak dengan tekad kuat memutuskan kuliah di Jakarta dengan segala keterbatasannya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak perantau, Stasiun Gambir, Jakarta, menjadi cinta sekaligus sakit hati pertama mereka di ibu kota. Ia adalah ikon. Banyak kisah bermula dari sini.

***

Berbekal uang Rp250 ribu, Muhammad Taufik berangkat ke Jakarta. Tahun 2014, uang segitu memang sudah cukup besar, apalagi di tempat asalnya, Tulungagung. Namun, ia juga beberapa kali diperingatkan kalau di Jakarta, uang tadi tak seberapa.

Tapi apa boleh buat, hasrat merantaunya sudah meronta-ronta. Dua tahun menganggur sejak lulus SMA pada 2012 membuatnya bakal melakukan apa saja untuk bisa berangkat ke Jakarta.

“Aku relain pinjam duit ke saudara, nggak bisa janjiin kapan mau balik, karena memang rasanya sudah pusing di rumah. Pengen segera kerja,” kisahnya kepada Mojok, Sabtu (12/4/2025).

Sebenarnya, Taufik belum tahu mau kerja apa di Jakarta. Lowongan kerja yang dilamar belum apa jawaban. Ia cuma ingat cerita dari teman-temannya yang pernah merantau ke ibu kota: “datang saja dulu, pasti nanti ada aja kerjaan.”

Kata-kata itulah yang bikin hati Taufik keukeuh buat berangkat. Ia pun berangkat via kereta api dari Stasiun Tulungagung, berganti kereta di Stasiun Balapan, hingga akhirnya menginjakan kaki untuk pertama kalinya di Stasiun Gambir, Jakarta.

Baru satu jam di Stasiun Gambir, sudah merasakan rasanya dipalak preman

Taufik tiba di Jakarta pada malam hari. Ia langsung menghubungi temannya di Jakarta, meminta untuk dijemput. Di kos-kosan temannya itulah ia akan menumpang sampai akhirnya mendapat pekerjaan.

Karena belum tahu seluk beluk ibu kota, Taufik tak berani kemana-mana. Selama menunggu, ia hanya berada di sekitaran Stasiun Gambir.

“Takjub aja sama Jakarta. Hidup banget, beda sama kotaku,” kata dia. “Dari Stasiun Gambir juga bisa nonton Monas, padahal selama ini cuma bisa lihat di HP sama TV.”

Sambil menunggu, Taufik pun menghabiskan waktunya dengan menyeruput kopi di warung kecil dekat stasiun. Rasanya masih seperti mimpi bisa tiba di Jakarta.

Sayangnya kekagumannya atas ibu kota tak bertahan lama. Beberapa saat kemudian, dua orang mendatanginya, meminta dibayarin kopi. Meskipun kaget, Taufik mengiyakan saja; itung-itung nambah teman, pikirnya.

Orang tadi juga menanyai Taufik banyak hal. Termasuk asalnya dari mana, mau ke mana, mau kerja apa kuliah, dan sebagainya. Sampai akhirnya, dua orang tadi memintainya uang.

“Kata mereka, ‘ingin selamat, kasih jatah yang lu punya’. Aku ditanya pegang uang berapa, aku jawab cuma 250. Eh, yang 200 diminta saat itu juga,” kata dia.

Iklan

Taufik pun sangat shock. Bagaimana tidak, di tengah keramaian ada orang dengan terang-terangan memalaknya. Lebih nggak habis pikir lagi, orang-orang yang melihat itu cuma diam, tak ada yang membelanya.

Saat temannya tiba, Taufik menjelaskan apa yang dia alami. Temannya hanya tertawa sambil menjawab: “selamat datang di Jakarta!”.

Jakarta memang indah, tapi juga keras

Kejadian di Stasiun Gambir barusan menyadarkan Taufik. Jakarta memang indah, tapi ternyata juga sangat keras. Kerasnya Jakarta bukan cuma isapan jempol, malah melebihi apa yang pernah diceritakan orang-orang.

“Bagaimana nggak trauma, belum sejam di Jakarta udah dikasih selamat datang kayak begituan,” kata Taufik.

Untungnya, temannya bilang untuk tidak khawatir. Teman dia, yang lebih berpengalaman di Jakarta, bercerita kalau hal seperti tadi sudah biasa. “Bukan Jakarta kalau nggak keras,” ujarnya, menirukan petuah temannya itu.

Untungnya lagi, teman Taufik sangat baik. Selama di Jakarta, ia diperbolehkan menginap secara gratis. Sementara karena tidak memiliki uang lagi, Taufik terpaksa minta ditransfer orang tuanya.

Selama masih menganggur pula, kegiatannya amat monoton. Tidur, makan, jalan-jalan sekitar kos. Ada kalanya saat temannya pulang kerja, ia bakal diajak berkeliling ke beberapa tempat di Jakarta–termasuk mendatangi beberapa tempat yang sedang membuka lowongan kerja.

Sepanjang proses itu, Taufik kembali belajar hal lain. Peristiwa pemalakan di Stasiun Gambir nyatanya cuma satu dari sekian banyak sisi gelap Jakarta. Sebab, ia telah menyaksikan hal lain: tawuran, adu jotos antarpreman, seks bebas, sampai adu mulut di jalanan yang terjadi tiap saat.

Mudik terakhir

Meskipun keras, nyatanya Jakarta memang berjodoh dengan Taufik. Setelah hampir dua bulan nganggur, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik. Sejak saat itu, ia sah jadi perantau di ibu kota.

Tak terhitung berapa lama dan berapa kali ia pindah pekerjaan. Ia bahkan juga pernah pindah pekerjaan ke Surabaya dan Jogja. Namun, karena hatinya sudah “terjebak” dengan Jakarta, akhirnya dia balik lagi dan bekerja di sana sampai hari ini.

“Jadi kalau boleh dibilang udah telanjur cinta sama Jakarta. Dan kisahku itu semua berawal dari Stasiun Gambir,” ungkapnya.

Sayangnya, tugas Stasiun Gambir sebagai titik start dan finish perjalanan kereta api jarak jauh di Jakarta akan purna. Melansir sejumlah pemberitaan, per 2025 rute jarak jauh di stasiun ini akan dihentikan.

Rencananya Stasiun Gambir akan dijadikan opsi naik turun KRL Jabodetabek. Sementara tugas melayani kereta jarak jauh akan diberikan kepada Stasiun Manggarai.

Pada lebaran kemarin, Stasiun Gambir menjadi stasiun paling sibuk kedua setelah Stasiun Pasarsenen. Ia melayani 216 ribu keberangkatan ke berbagai kota. Di media sosial pun, banyak netizen mengaku terharu karena lebaran kemarin bakal menjadi mudik terakhir di Stasiun Gambir.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Susahnya Merantau ke Glodok Jakarta Barat: Strategis buat Bisnis, tapi Omzet Ludes buat Ngasih Makan Preman dan Ormas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2025 oleh

Tags: gambirjakartakerja di jakartaStasiun di JakartaStasiun Gambir
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta
Catatan

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.