Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

3 Catatan Tentang Jogja dari Pramoedya Ananta Toer, Pram Menyangkal Keaslian Sosok Nyi Roro Kidul

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Februari 2025
A A
3 catatan Pramoedya Ananta Toer tentang Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - 3 catatan Pramoedya Ananta Toer tentang Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setidaknya ada tiga hal yang Pramoedya Ananta Toer singgung perihal Jogja. Lewat seminar, karya sastra, bahkan pidato internasional.

***

Seabad Pramoedya Ananta Toer (Februari 2025) memang sedang dirayakan di mana-mana. Termasuk di Jogja sebagai kota yang akrab dengan label literasi.

Ada banyak titik di Jogja yang menggelar diskusi perihal Pram, sapaan akrab sastrawan Blora yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di tanah buangan Pulau Buru itu. Salah satunya adalah di Akademi Bahagia, Ngaglik Sleman, tempat saya tinggal selama ini.

Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Klub Buku Bahagia, melingkar selepas Asar. Masing-masing membawa buku-buku karya Pram. Mereka lalu saling melempar interpretasi atas karya-karya Pram.

Energi Perlawanan di Tiap Karya Pram

Karya sastra Pram memang tidak sebatas kisah-kisah imajinatif belaka. Tapi berangkat dari kritik sejarah yang tajam dan bahkan terus relevan hingga kini. Energi perlawanan begitu terasa dari setiap karyanya: dari Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) hingga Tetralogi Arok Dedes (Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, dan Mangir).

Tak heran jika karya-karyanya sangat ditakuti penguasa era rezim Orde Baru. Tak boleh ada yang membacanya. Pram diasingkan. Sementara karya-karyanya dibakar.

Namun, Pramoedya Ananta Toer bukan sembarang sastrawan. Sebelumnya, Mojok sudah memaparkan bagaimana cerdiknya Pram “mengamankan” karya-karyanya hingga akhirnya bisa dinikmati lintas generasi: karya-karya yang senantiasa mengusik kesadaran dan kewarasan.

“Pram itu seperti aktivis jalanan yang melempar bom molotov ke kepala pembaca. Dia konsisten membuat kepala pembaca berasap, membuat dada sesak seperti sehabis mengonsumsi gas air mata secara maksimum.” Begitu penilaian arsiparis, Muhidin M. Dahlan, tentang Pramoedya Ananta Toer dalam program Jasmerah di kanal YouTube Mojokdotco.

Lanjut Muhidin, Pram punya persinggungan serius terhadap Jogja, daerah yang saat ini massanya sedang riuh merayakan seabad sastrawan Blora itu:

1# Ke Jogja untuk merevolusionerkan Sastra Jawa

Pramoedya Ananta Toer atas nama Lekra masuk Jogja pada 1964, menghadiri seminar di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bertajuk “Membina Sastra Jawa Revolusioner sebagai Senjata Rakyat untuk Menyelesaikan Revolusi Agustus 1945 Sampai ke Akar-akarnya”.

Kedatangan Pram ke Jogja membawa satu misi akbar: membereskan Sastra Jawa.

Di hadapan peserta seminar yang dibuka oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X itu, Pram menyebut, walaupun Sastra Jawa mendayu-dayu, tapi sesungguhnya masih punya potensi untuk direvolusionerkan, bisa ditumbuhkan untuk melawan feodalisme-imperalisme. Singkatnya, tegas Pram, Sastra Jawa bisa dinaikkan kelasnya.

Iklan

“Dalam seminar di itu Pram menegaskan, bahwa sastra dalam tradisi Jawa sudah sangat akrab dan bahkan menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sudah mandarah daging di kalangan petani dan di desa-desa: (contohnya) ludruk, pembacaan puisi tembang di jagongan bayi dan seterusnya,” tutur Muhidin.

“Cuma, ada masalah di sana. Konten apa yang mereka lakonkan, yang mereka pantunkan, tembangkan? Tugas Lekra, disampaikan Pram, adalah membereskan kontennya, isinya. Misi Pram ke Jogja adalah kulo nuwun sastra progresif di gerbang Sastra Jawa,” sambungnya.

Sastra Jawa: titik bakar kesadaran progresif

Dalam makalah yang dibacakan di seminar UGM itu, Pramoedya Ananta Toer menyinggung lakon ketoprak yang isinya melulu mengenai kultur raja, melulu sanjungan pada kesatria yang berkorban untuk segelintir manusia.

Maka, kata Pram, perlu cara pandang yang progresif dan kritis terhadap unsur isi Sastra Jawa. Misalnya terhadap cerita Rara Mendut dan Pranacitra (gampangnya: Romeo-Juliet Jawa dengan latar belakang Mataram Islam di masa Sultan Agung (abad ke-17 M)).

“Cerita Rara Mendut dan Pranacitra bukan romansa belaka. Harus dilihat secara kritis dengan kesadaran kelas yang tajam. Karena ini cerita dua orang dari kalangan rakyat jelata yang tidak memiliki perlindungan hukum. Keduanya mati mempertahankan satu-satunya milik yang mereka impikan, yang mereka cita-citakan, mereka perjuangkan: diri mereka sendiri,” jelas Pram yang coba dibacakan ulang oleh Muhidin.

Dengan konten ini, masih kata Pram, pekerja Sastra Jawa wajib hukumnya menggunakan karya Rara Mendut dan Pranacitra sebagai standar, bukan Ramayana, Mahabharata, Arjuna Wiwaha, atau Dewaruci.

Singkatnya, Pram ke Jogja membawa misi, Sastra Jawa seharusnya bisa menjadi titik bakar bagi kesadaran progresif kaum tani-kaum tertindas di tanah sendiri.

Maka, yang harus pekerja Sastra Jawa lakukan adalah mengembangkan karya lama yang maju dengan diberi wajah baru. Seperti Rara Mendut yang tidak hanya disajikan sebagai kisah romansa, tapi juga sebagai kisah perlawanan kelas.

2# Menggugat kekerasan lewat “Mangir”

Mangir adalah kitab keempat dari Tetralogi Arok Dedes. Berlatar belakang pembangkangan Ki Ageng Mangir terhadap mertuanya sendiri, Raja Mataram Islam pertama, Panembahan Senopati.

“Di Mangir, menurut saya, adalah tafsir sangat keras Pram yang meninju watak buruk penguasa kraton. Dalam hal ini Panembahan Senopati,” ujar Muhidin.

Mangir, bagi Muhidin, adalah kritik keras Pram terhadap penguasa yang melanggengkan kekerasan.

3# Menyangkal mitos Nyi Roro Kidul di Jogja

Ada banyak versi cerita mengenai Nyi Roro Kidul. Kajian akademis-ilmiah pun banyak yang mengulasnya, sebagai sosok magis penguasa laut selatan yang konon memiliki hubungan istimewa dengan Kraton Mataram Islam hingga sekarang Kraton Jogja.

Pramoedya Ananta Toer turut ambil bagian dalam memberikan pandangannya soal Nyi Roro Kidul.

Dalam pidato penerimaan penghargaan Ramon Magsaysay 1988 di Filipina, Pram menyebut bahwa Nyi Roro Kidul tidak lebih dari sekadar mitos belaka.

Lewat pidato tertulis berjudul “Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?”, Pram mengatakan, sosok Nyi Roro Kidul adalah rekaan dari pujangga Kraton Mataram Islam. Sebagai penghibur atas dua kali kekalahan Sultan Agung saat menyerang VOC Batavia (1628 dan 1629).

Kekalahan itu memberi dampak serius. Selain gagal merebut Batavia dari VOC, kekalahan itu membuat Sultan Agung kehilangan jalur perdagangan di Pantai Utara Jawa.

“Untuk menutupi kehilangan tersebut, pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyi Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan. Mitos ini melahirkan anak-anak mitos yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut,” ungkap Pram dikutip ulang oleh Muhidin.

Tabu-tabu lain lantas lahir seiring dengan penciptaan sosok Nyi Roro Kidul oleh pujangga kraton. Misalnya, larangan mengenakan pakaian hijau di wilayah pantai selatan.

Bagi Pram, tabu tersebut tidak lebih dari bentuk kebencian para pujangga terhadap VOC. Hijau, kata Pram, adalah representasi warna pakaian serdadu Belanda.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Menggugat Perjanjian Giyanti dengan Metode Pramoedya Ananta Toer atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Februari 2025 oleh

Tags: Jogjakraton jogjaNyi Roro Kidulpilihan redaksipramPramoedya Ananta Toerseabad pram
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.