Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Bukan Demit, Catcalling Adalah Horor Tanpa Hantu Bagi Perempuan yang Melintas di Jembatan Merah Gejayan Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Maret 2024
A A
Bukan Demit, Catcalling Adalah Horor Tanpa Hantu Bagi Perempuan yang Melintas di Jembatan Merah Gejayan Jogja,mojok.co

Ilustrasi Bukan Demit, Catcalling Adalah Horor Tanpa Hantu Bagi Perempuan yang Melintas di Jembatan Merah Gejayan Jogja (Mojok.co/Ega)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada banyak cerita seram mengenai Jembatan Merah Gejayan yang pernah saya dengar selama tinggal di Kota Jogja. Lio (25), alumnus Universitas Negeri Yogyakarta, menceritakan kejadian mistis yang ia alami beberapa tahun lalu di jembatan ikonik Kota Jogja tersebut.

Ceritanya, pada 2018 lalu, Lio dan beberapa teman kelasnya berencana nongkrong di Kendi, sebuah warung kopi yang letaknya dekat Pakuwon Mall. Pukul 11 malam, ia memacu motornya dari Mrican menuju lokasi.

Lio hanya sendirian. Teman-temannya sudah menunggu di Kendi. Malam itu, semua tampak baik-baik saja sebelum ia melintas di atas Jembatan Merah.

“Waktu lewat, di tengah jembatan ada ramai-ramai. Katanya sih orang kecelakaan dan meninggal di tempat,” kata Lio saat saya hubungi, Jumat (1/3/2024). Ia ingat betul, saat itu ada banyak orang yang berkerubung melingkar menutupi objek yang disebut korban kecelakaan tadi.

Merasa kepo, Lio pun turun dari motornya. Entah mengapa, ia malah ingin menyaksikan korban kecelakaan yang sudah meninggal tadi. Dan, benar saja, di tengah jalan tampak jasad penuh darah yang tertutup koran dan daun pisang. Lio seketika shock, rasanya ingin muntah.

Kena prank demit di Jembatan Merah

Saat kembali ke motornya dalam keadaan mual, ada pengendara berboncengan yang mendatangi Lio. “Mereka bertanya ‘ada apa?’, bilangnya kok aku kelihatan ketakutan, gitu,” ujar Lio, menirukan pertanyaan pengendara yang menanyainya. “Aku jawab abis liat korban kecelakaan yang tubuhnya hancur,” sambungnya, yang waktu itu sambil menunjuk ke arah tengah jembatan, tempat mayat berbaring.

Dua orang tadi malah kebingungan. Sebab, mereka tak melihat siapa-siapa. Lio yang kaget langsung kembali nengok ke arah jalan. Dan, benar saja, mayat berserta orang-orang yang mengerubunginya tadi, lenyap. “Enggak ada apa-apa,” ujar Lio.

Bulu kuduknya langsung merinding. Motornya langsung ia pacu menuju Kendi meninggalkan Jembatan Merah. Saat bersua teman-temannya, Lio menceritakan semua yang dia alami. Horornya lagi, teman-temannya cerita kalau Jembatan Merah terkenal angker. 

Bukan Demit, Catcalling Adalah Horor Tanpa Hantu Bagi Perempuan yang Melintas di Jembatan Merah Gejayan.mojok.co
Potret Jembatan Merah Gejayan di Kota Jogja sebelum ada perbaikan (Mojok.co)

“Ada yang cerita, penunggu aslinya itu ada kuntilanak, pocong, sering juga bayi nangis. Pokoknya serem.”

Ada juga horor tanpa hantu

Siang itu, Sabtu (2/3/2024), setelah menghabiskan suapan terakhir mie ayam bakso di sebuah kedai depan kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), saya berjalan menuju Jembatan Merah. 

Awalnya, kedatangan saya di siang yang tengah gerimis itu adalah untuk mengulik sisi lain dari cerita-cerita misteri yang selama ini beredar. Meski tak berfungsi lagi karena sudah berdiri jembatan baru yang menghubungkan Soropadan dengan Jalan Gejayan, bangunan legend ini masih utuh. Ia tak dibongkar.

Bangunannya terlihat amat terbengkalai. Lumut dan rerumputan tumbuh subur. Pohon bambu juga tampak rimbun di sekelilingnya. Meski aura horor masih terasa, kata beberapa warga, tiap malam lokasi ini jadi tempat nongkrong para pemuda. Sebab, di sampingnya ada warung makan yang buka hampir 24 jam.

Sayangnya, karena hujan tiba-tiba menjadi deras, saya terpaksa melipir ke kampus UMBY. Berteduh. Sambil menunggu hujan reda, saya mewawancarai beberapa mahasiswa secara random. 

Kebanyakan mahasiswa yang wawancarai berasal dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris, yang memang berkampus di UMBY Gejayan. Lokasinya tepat berada di sebelah barat Jembatan Merah Gejayan yang katanya angker itu. 

Iklan

Yang mengejutkan saya, beberapa mahasiswa perempuan justru mengaku kalau pengalaman horor yang mereka alami di Jembatan Merah tak berhubungan dengan hantu. Tak sedikit dari mereka mengaku kalau siulan dan ucapan-ucapan tak senonoh dari para pemuda yang nongkrong, jauh lebih bikin bulu kuduk merinding bahkan menyisakan rasa traumatis bagi mereka.

Tiga kali dapat catcalling di Jembatan Merah dari orang yang sama

Diandra (20), salah satu narasumber yang saya wawancarai, mengaku pernah mendapat pelecehan verbal sebanyak tiga kali di Jembatan Merah.

“Paling aku inget yang terkahir, belum lama ini. Tuh, sama abang-abangan yang suka nongkrong di situ,” ujar mahasiswa Jogja ini kepada saya.

Yang bikin heran Diandra, setiap malam jembatan itu selalu ramai. Sebab, di samping jembatan kini berdiri warung makan yang tak pernah sepi pengunjung, bahkan sempat viral di media sosial. “Tapi kok masih ada aja orang-orang yang sempet-sempetnya catcalling,” sambungnya.

Mahasiswa Jogja ini mengaku tak tahu apakah para pemuda yang sering nongkrong di tepian Jembatan Merah adalah akamsi sana, atau malah mahasiswa UMBY. Namun, yang jelas ia ingat betul salah satu orang yang melecehkannya. 

“Ingat banget soalnya pas pertama kena catcalling aku berani negur, soalnya sama dua orang temenku. Eh, kok malah keulang lagi dan dia-dia juga orangnya.”

Pernah adu mulut dengan pelaku catcalling

Pengalaman serupa juga diceritakan Diah (20), mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris lain yang saya wawancara. Bedanya, Diah berani melawan balik. Bahkan sampai adu mulut dengan pelaku.

“Waktu itu sedang ada acara kampus. Kebetulan aku salah satu anggota panitia,” kata Diah, membuka kisahnya.

Karena sibuk mempersiapkan banyak hal untuk menyongsong acara, Diah dan panitia lain berada di kampus hingga pukul 9 malam. Ia dan teman-temannya pun berinisiatif memesan makanan via ojek online.

Sial bagi Diah, saat dia mengambil makanan dari driver di dekat jembatan, beberapa orang menyiulinya. Beberapa kata tak pantas juga keluar dari mulut mereka. Merasa dilecehkan, Diah mendatangi mereka dan mengancam akan melaporkan ke satpam kampus.

“Apa coba yang mereka bilang? Katanya ‘bercanda, nggak usah baper, gausah kegeeran deh’,” kata mahasiswa asli Jogja ini, menirukan kata-kata pelaku.

Adu mulut pun terjadi. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. “Dan apa coba yang terjadi, mereka malah ngata-ngatain aku macem-macem gara-gara aku mengumpat ke mereka. Kan gila, mereka yang salah mereka juga merasa tersakiti.”

Diah bilang, ia sudah melaporkan kejadian itu ke beberapa dosen dan satpam kampusnya. Harapannya, pihak berwenang bisa lebih menertibkan abang-abangan kuran ajar yang suka nongkrong dan catcalling ke perempuan di Jembatan Merah.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sinden di Toilet dan Kisah Horor Lain yang Menyelimuti Lingkungan UNY

Ikuti berita dan artikel Mojok lain di Google News.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2024 oleh

Tags: cerita horor JogjaHororjembatan merahjembatan merah gejayankota jogjapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO
Catatan

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO
Tajuk

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co
Sehari-hari

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.