Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Impian Membangun Jalan Raya di Udara

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Desember 2024
A A
Pustral UGM kaji pengembangan taksi terbang di Indonesia MOJOK.CO

Ilustrasi - Pustral UGM kaji pengembangan taksi terbang di Indonesia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membangun jalan raya di udara. Itulah cita-cita banyak negara untuk mengembangkan transportasi baru berupa taksi terbang. Indonesia pun tak mau ketinggalan. Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba mengkajinya.

***

China, Dubai, Amerika Serikat, dan Inggris, adalah negara-negara maju yang kini secara serius mengkaji pengembangan moda transportasi udara baru berupa taksi terbang.

Loh, bukannya sudah ada pesawat, yang bisa mengantar orang secara ringkas berpindah dari satu tempat ke tempat lain lewat jalur udara? Ini beda soal.

Yang sedang para peneliti dan pengembang teknologi bayangkan adalah, bagaimana mobilitas dalam kota bisa lebih efektif jika melintasi udara. Tanpa bermacet-macetan di jalan raya (darat). Maka, bagi mereka, perlu “membangun jalan raya” di udara.

Jalan raya makin padat

Kepala Pustral UGM, Ikaputra menyebut, keberadaan taksi terbang nantinya bisa menjadi solusi mengurai kemacetan. Terutama di jalan-jalan raya kota besar.

Mengingat, kota-kota besar makin ke sini semakin padat. Jumlah kendaraan bermotor pun makin banyak.

Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2024, Indonesia memilii jumlah populasi kendaraan bermotor sebanyak 164 juta unit. 83% di antarnya adalah kendaraan jenis sepeda motor.

Jika dirinci lagi, Pulau Jawa—sebagai pulau terpadat di Indonesia dengan 151 juta penduduk—memiliki total kendaraan bermotor sebanyak 97,2 juta unit (59,2%). Meliputi 80,1 juta sepeda motor dan 13,7 juta mobil pribadi. Lalu diikuti pulau-pulau lain dengan rincian sebagai berikut:

1. Sumatera 33,8 juta unit (20,61%)
2. Kalimantan 12 juta unit (7,36%)
3. Sulawesi 10,2 juta unit (6,22%)
4. Bali 5,1 juta unit (3,15%)
5. Nusa Tenggara 3,4 juta unit (2,08%)
6. Papua 1,38 juta unit (0,84%)
7. Maluku dan Maluku Utara 790 ribu unit (0,48%)

Taksi terbang untuk mengurai kemacetan

Ikaputra selaku Kepala Pustral UGM menyebut impian untuk mengembangkan taksi terbang tidak lain untuk menjawab persoalan kepadatan jalan raya tersebut.

Selain itu, taksi terbang juga dinilai akan mampu membuka akses ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.

“Taksi terbang tidak hanya menawarkan solusi kemacetan di kota-kota besar, tetapi juga membuka peluang besar untuk transportasi yang efisien, ramah lingkungan, dan mendukung pengembangan wilayah terpencil, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN),” ujarnya dalam webinar bertajuk “Langit Sebagai Jalan Raya Baru” belum lama ini.

Pustral UGM kaji pengembangan taksi terbang di Indonesia MOJOK.CO
Ilustrasi – Pustral UGM kaji pengembangan taksi terbang di Indonesia. (Dok. UGM)

IKN memang dibidik menjadi titik operasi pertama dalam pengembangan proyek besar tersebut.

Iklan

Menyambung Ikaputra, dosen Departemen Teknik Mesin dan Taknik Industri UGM, Gesang Nugroho, mengatakan bahwa keberadaan taksi terbang nantinya bisa juga untuk penanganan darurat. Menggantikan posisi ambulans yang sering terjebak kemacetan di jalan (darat). `

“Taksi terbang atau AAV (Autonomous Aerial Vehicle) merujuk pada kendaraan udara yang sepenuhnya otonom, tidak memerlukan pengemudi (tanpa awak), dan dapat digunakan untuk berbagai aplikasi, termasuk mengangkut penumpang, pengiriman barang, serta pemantauan udara,” beber Gesang.

Tantangan regulasi dan penerimaan pada taksi terbang

Hanya saja, impian “membangun jalan raya di udara” tersebut tentu memiliki sejumlah tantangan jika dikembangkan di Indonesia. Meliputi teknologi, infrastruktur, dan penerimaan masyarakat.

Oleh karena itu, kata Ikaputra, Pemerintah Indoensia harus menjalin kolaborasi dengan perusahaan luar negeri, seperti Volocopter, sebagai langkah penting dalam memastikan implementasi teknologi taksi terbang sesuai standar internasional.

“Di samping itu, pemerintah juga harus memastikan bahwa pengoperasian taksi terbang ini dapat diakses secara inklusif oleh masyarakat luas, bukan hanya oleh kalangan tertentu,” ucap Ikaputra.

“(Tantangan lain) adalah penyediaan landasan vertikal (vertiport) di kawasan urban yang padat,” sambung Kepala Pustral UGM tersebut.

Belum lagi persoalan regulasi. Gesang sependapat dengan Ikaputra bahwa infastruktur pendarataan AAV atau taksi terbang tanpa awak di kota-kota besar dan padat gedung masih terbatas. Sementara biaya pengembangannya juga terbilang tinggi.

“Lalu regulasi pengoperasian AAV untuk pengangkutan penumpang di Indonesia belum diatur secara khusus. Regulasi terkait penerbangan otonom dan pengaturan ruang udara perkotaan nampaknya perlu dikembangkan agar AAV dapat beroperasi secara aman di Indonesia,” kata Gesang.

“Perhatian juga perlu diberikan pada potensi ancaman terhadap sistem kontrol drone dan peretasan sistem otonom,” imbuh akademisi UGM itu.

Menunggu uji coba

Sementara M. Rizal Lubis selaku Inspektur Navigasi Penerbangan Direktorat Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan menjelaskan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJPU) saat ini sedang menyusun regulasi yang sesuai dengan kemajuan teknologi taksi terbang.

Termasuk di dalamnya adalah pedoman operasional dan standar keselamatan untuk memastikan integrasi kendaraan udara tanpa awak dalam sistem penerbangan nasional.

Untuk mendukung pengembangannya, DJPU fokus pada beberapa aspek kunci, seperti kerangka regulasi, manajemen keselamatan, dan pengembangan infrastruktur.

“Salah satu inisiatif yang diusulkan adalah pembentukan lingkungan uji coba (sandbox) untuk proyek percontohan yang dapat menguji teknologi baru,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.

DJPU, jelas Rizal, juga berupaya menjalin kerja sama dengan kelompok kerja internasional untuk menyelaraskan standar dan praktik dalam pengoperasian taksi terbang. Sehingga, Indonesia dapat memanfaatkan potensinya secara efektif sambil menjaga keselamatan dan integritas operasional di ruang udara.

Sejak Agustus 2024 telah dilakukan berbagai kegiatan untuk pengembangan taksi terbang. Diantaranya identifikasi dan seleksi lokasi pilot project pada 26 Agustus 2024, focus group discussion (FGD) dengan stakeholder pada 30 Agustus 2024, survei lokasi pilot project oleh tim pada 7 September 2024, penyusunan peraturan untuk pembentukan sandbox pada 26 September 2024), dan public hearing & kunjungan proyek percontohan pada 25 Oktober 2024. Berbagai kegiatan lain masih akan terus dikembangkan di masa-masa berikutnya demi mewujudkan impian “membangun jalan raya di udara” tersebut.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pengalaman Naik Pesawat ke Aceh Cuma Rp2 Juta dari Tiket Asli Rp5 Juta, “Bonus” Kunjungi 2 Negara meski Harus Tidur di Lantai Bandara

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 20 Desember 2024 oleh

Tags: pustral ugmsolusi kemacetantaksi terbangUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM MOJOK.CO
Sekolahan

Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

22 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus Usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.