Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ibuku Penjual Kopi Pangku, Dicap Kotor dan Memalukan karena Layani Sopir Truk tapi Beri Kami Hidup

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 November 2025
A A
Ibuku penjual warung kopi pangku di pantura MOJOK.CO

Ilustrasi - Ibuku penjual warung kopi pangku di pantura. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Warung kopi remang, sopir-sopir truk, dan keriuahan malam di jalan raya pantura sudah saya akrabi sejak kecil. Ibu saya adalah seorang penjual kopi pangku yang belakangan jadi obrolan karena film “Pangku” garapan Reza Rahadian. Orang-orang boleh menyebutnya “pekerjaan kotor dan tidak terhormat”. Tapi dari sana lah ibu bisa menyekolahkan saya.

***

Kopi pangku tersebar di sepanjang pantura, dari barat (Indramayu dan sekitarnya) hingga timur (Gresik dan seterusnya). Sementara saya tumbuh di tengah-tengah geliat kopi pangku di jalanan Rembang, Jawa Tengah. Orang-orang sini lebih sering menyebutnya “kopi pangkon”.

Saat ini kopi pangkon di jalanan pantura Rembang memang tak sebergeliat dulu. Walaupun masih ada warung-warung berdinding kayu reyot dan berlampu remang yang buka di antara debu-debu dan deru kendaraan yang melintasi pantura.

Warung ibu saya menjadi satu di antara warung-warung yang masih bertahan. Bedanya, kini ibu—yang sudah berumur 50-an—hanya menjual kopi, gorengan, dan makanan sekadarnya untuk para sopir truk yang ngaso. Tidak ada servis “pangkon” lagi sebagaimana masa-masa silam.

Dandanan menor ibu di jam 5 sore

Ibu sudah membuka warung kopi pangku sejak saya SD. Ia harus mencari nafkah seorang diri usai berpisah dengan bapak.

Awalanya ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ia tak punya keterampilan lebih untuk bekerja. Di masa itu, Rembang juga belum kemasukan banyak industri seperti sekarang.

Akhirnya, ia mencoba membuka warung kopi pangku, mengikuti jejak seorang tetangga. Modalnya dari tanah simbah yang dijual.

Cerita yang saya dapat kemudian, tugas pelayan warung kopi pangku tidak sekadar menyeduh kopi. Tapi juga harus mau dipangku.

Bahkan, sering kali juga harus merelakan bagian-bagian tubuh tertentu dipegang-pegang oleh pelanggan—para sopir truk itu. Pantas saja, sejak kecil saya kerap melihat ibu berangkat dengan dandanan menor dan pakaian ketat. Setiap saya tanya mau ke mana, ibu selalu menjawab, “Ibu kerja dulu di warung.”

Ia akan mulai ke warung di jam lima sore. Lalu akan pulang selepas Subuh untuk mengurus rumah. Selama ia di warung, saya di rumah bersama simbah. Sejak ibu dan bapak berpisah, ibu memang tinggal ikut simbah, di sebuah rumah kecil berlantai tanah.

Bilik remang berkasur lusuh

Saya mulai tahu pekerjaan ibu ketika menginjak SMP. Saya pun tahu, kalau warung kopi pangku ternyata punya citra buruk bagi sebagian orang.

Misalnya, ketika perkenalan di kelas dan menyebut “penjaga warung” sebagai profesi ibu, seorang guru lantas mencecar penasaran.

“Warung apa?”

Iklan

“Warung di pinggir jalan raya.”

“Oh ibumu buka kopi pangkon?”

Saya terdiam. Menunduk. Sementara ruang kelas dipenuhi dengung dan bisik-bisik dari teman-teman sekelas. Sebelum akhirnya si guru tadi mencoba mengalihkan topik.

Di Rembang, setiap menyebut nama “pangkon”, pikiran orang-orang akan langsung terbayang: dandan menor, dipegang-pegang, bahkan juga hubungan terlarang. Sebab, ada juga warung yang menyediakan bilik khusus di belakang warung. Blik itu berlampu remang, berkasur lusuh.

Bilik itu menjadi ruang pemuas nafsu para sopir truk. Harga yang dipasang si pelayan kopi pangkon juga murah-murahan belaka. Hingga saat ini, dari yang saya tahu, uang Rp50 ribu pun sudah bisa mendapat layanan plus tersebut.

Operasi polisi di malam Ramadan

Saya sempat malu dengan profesi ibu. Jujur saja.

Ketika SD, saya malu karena ibu tak pernah ikut dalam kegiatan ibu-ibu pada umumnya. Pengajian misalnya. Apalagi di malam Ramadan.

Ibu tak pernah ikut salat tarawih di langgar, kala hampir setiap orang—dewasa dan anak-anak—berbondong-bondong ke langgar. Ibu lebih memilih membuka warung.

Pernah suatu kali di masa SD—sejauh yang saya ingat—saya bertanya dengan ketus: “Ibu kok nggak pernah ikut tarawih?”

“Cah cilik ngerti opo (Bocah kecil tahu apa)?” Jawab ibu galak. Dan sejak itu saya tidak pernah berani bertanya lagi.

Tapi memang tidak setiap malam di bulan Ramadan ibu membuka warung. Baru saya tahu kemudian, ia sedang berupaya menghindari operasi Polisi dan Satpol PP. Karena di setiap malam Ramadan, hingga saat ini, petugas memang pasti gencar melakukan operasi di setiap warung remang-remang.

Berkelahi tiap ibu direndahkan karena buka warung kopi pangku

Sejak SD hingga SMP, ibu melarang saya ke warung. Dengan alasan apa pun. Walaupun saya akhirnya tahu apa sebenarnya profesi ibu.

Ini lah titik malu saya yang berikutnya. Saya terbilang bengal di kelas. Tak terhitung berapa kali saya terlibat perkelahian dengan siswa lain.

Biasanya dimulai dari cekcok kecil. Lalu berubah menjadi baku hantam kalau ada anak yang menyinggung profesi ibu dengan nada merendahkan: “Ibumu loh kopi pangkon, diremes-remes sopir.”

Beberapa kali BK mengirim surat agar ibu datang ke sekolah. Tapi surat itu tak pernah saya berikan pada ibu. Saya kelewat malu. Jika ibu datang ke sekolah, pasti siswa-siswa lain akan tambah mengolok-olok.

Karena kelewat malu itu, pernah suatu kali saya marah besar pada ibu. Menyebut pekerjaan ibu sebagai pekerjaan kotor dan memalukan.

“Kowe iki ngerti opo?” Hanya itu jawaban ibu. Dari wajahnya, saya masih ingat betul, terpancar rasa sedih dan marah bercampur aduk.

Tinggalkan dandanan menor

Ibu membuka warung kopi pangku setidaknya hingga saya kelas 2 SMK pada 2016. Sepanjang itu pula saya memendam setiap cara pandang buruk tentang “pangku” tersebut.

Sampai akhirnya ibu memutuskan berhenti. Mengubah konsep warungnya dan dirinya sendiri.

Ibu sudah tidak berdandan menor dan berbaju ketat lagi. Tapi berhijab dan berpakaian tertutup khas ibu-ibu Muslimat kampung. Ia sendiri bahkan yang meminta saya bantu-bantu di warung. Jadi kalau malam saya bantu jualan, biasanya sampai jam 12 malam. Lalu pagi sampai sore saya sekolah.

Pelanggan ibu tak berubah, kebanyakan dari sopir-sopir truk yang rehat dari perjalanan. Beberapa kali ada sopir yang bertanya, “Nggak ada pangkon, Bu?”. Ibu saya memohon maaf, menjelaskan kalau warungnya adalah warung kopi biasa. Si sopir hanya mengangguk, duduk, lalu memesan segelas kopi sembari mencomot beberapa potong gorengan.

Syukurnya, perubahan itu tidak banyak berpengaruh pada pemasukan ibu waktu itu. Warung ibu tetap jadi jujukan karena menawarkan harga murah.

Pertanyaan yang tak pernah sampai pada ibu tentang warung kopi pangku

Selepas lulus SMK, saya langsung bekerja berpindah-pindah. Sementara ibu masih membuka warungnya di pinggiran jalan pantura.

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya seiring beranjak dewasa: “Apa yang ibu lakukan dulu ketika menjadi penjual kopi pangku di pinggiran jalan pantura?”

Tapi pertanyaan itu tak pernah bisa saya utarakan padanya. Meski saya tahu belaka, dari hasil menggali informasi sana-sini, bahwa aktivitas di kopi pangku lebih dari sekadar menyeduh kopi.

Tiap membayangkan ibu, kadang ada perasaan sesak yang aneh di dada. Namun, bersamaan dengan itu, juga muncul perasaan: Betapa dari pekerjaan yang dianggap kotor itu, ibu berupaya keras menghidupi dan menyekolahkan saya.

Liputan ini diolah dari hasil wawancara dengan Jaya (26), bukan nama sebenarnya, yang membagikan ingatan-ingatannya tentang sang ibu dan informasi masa kecil yang ia kumpulkan dari beberapa orang. Wawancara berlangsung pada Rabu (28/10/2025).

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suara Ibu di Telepon Selalu bikin Tenang usai Hadapi Hal-hal Buruk dan Menyakitkan di Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 November 2025 oleh

Tags: film pangkukopi pangkupanturapilihan redaksirembangwarung kopi pangku
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.