Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Buka Grup WA KKN usai Lulus Kuliah Terasa Geli Sekaligus Menyesekkan, Isinya Drama Cinlok Nostalgia

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
15 Agustus 2025
A A
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO

ilustrasi - Mahasiswa KKN. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah tiga tahun berlalu, tapi grup WhatsApp (WA) KKN saya masih aktif. Walaupun tidak selalu ramai, tapi kadang-kadang ada saja anak yang mengirim sebuah pesan rindu atau basa-basi semata. Terutama di bulan-bulan mahasiswa KKN.

“Kalian semua apa kabar? Lama banget kita nggak berkabar,” tulis Angle (24) pada Rabu (16/8/2025).

Angle adalah salah satu anggota mahasiswa KKN kami yang cerdas dan suka menyendiri, tapi dia selalu aktif menimpali pembahasan acak kami di grup WA KKN. Perempuan asal Semarang itu kini hampir menyelesaikan tesisnya.

“Gimana kabar Semarang malam ini Njel?” tanya Rizky (24) yang baru saja membaca berita soal demo mahasiswa di Semarang yang berlangsung ricuh.

“Yang demo itu kah? Parah sih, mana di mall lagi. Kan kasihan yang enak-enak pingin belanja.” ujar Angel.

Lalu, berlanjut lah perbincangan itu di grup hingga larut malam. Saya sendiri kadang baru muncul kalau ditandai di grup. Namun, sebisa mungkin akan saya jawab meski terkesan ala kadarnya. 

Setidaknya, saya menghargai teman-teman yang sudah berusaha menjalin komunikasi dengan baik. Meski pengalaman KKN kami di Maliku Baru, Kalimantan Tengah tidak terlalu indah, tapi tetap saja momen itu tetap kami rindukan.

Cinlok dengan anggota KKN

Sejak menginjakkan kaki di desa KKN kami, Maliku Baru, saya sudah memperkirakan pasti ada “gesekan-gesekan” yang terjadi. Bahkan gelut di grup WA KKN karena masalah persiapan program yang terlalu mepet.

Untungnya, saya merasa para anggota KKN saya adalah orang yang baik. Setidaknya mereka tidak pernah marah berlebihan. Jika ada sesuatu yang membuat mereka kesal atau tidak nyaman, kami selalu bijaksana menyikapinya. Alih-alih membahas di grup WA KKN, kami memilih membahasnya langsung secara tatap muka.

Saya rasa saat itu kami semua sedang belajar menjadi orang dewasa. Dan tentu saja, tinggal di tempat baru selama satu bulan penuh tidaklah mudah. Jadi, kami merasa saling bergantung sama lain. Tapi ada saja yang kebablasan, sampai cinta lokasi (cinlok) saat KKN. Sebut saja namanya Tuan untuk si laki-laki dan Putri untuk si perempuan.

Ceritanya begini, Tuan adalah pemuda asal Kepulauan Riau sedangkan Putri adalah perempuan dari keturunan Suku Dayak, Kalimantan. Dari segi silsilah, saya maupun anggota KKN kami saat itu sudah tidak sepakat saat melihat benih-benih cinta tumbuh dari interaksi mereka. Tapi siapa lah kami yang bisa melarang mereka.

“Aku juga nggak yakin sih, apalagi kami LDR saat ini, tapi kalau ngomongin perasaan memang susah,” ujar Putri, anggota KKN kami itu.

Drama dua sejoli di grup WA KKN

Hingga hari ini, dua sejoli mahasiswa KKN itu masih sering bernostalgia di grup WA KKN, meski akhir hubungan mereka tak berakhir indah. Melihat interaksi mereka berdua di grup, kami jadi gatal menggodanya.

“Padahal lebih dari 4 tahun aku nggak pernah lepas gelang ini dari tangan,” ucap salah satu anggota mahasiswa KKN di grup WA saya, sembari mengirim sebuah bukti foto tangannya yang memakai gelang.

Iklan

Bagi teman laki-laki saya, gelang kayu berwarna cokelat itu sangat berarti, karena merupakan pemberian dari anggota tim KKN kami.

“Ah bohong, foto lama ya itu?” tanya saya jahil.

“Ih. Kan aku pernah bilang ke dia ‘nggak bakal hilang, aku pakai terus’ soalnya dia udah ingetin jangan sampai hilang,” ucapnya.

“Sesi curhat nih?” timpal anggota KKN yang lain.

Namun, dari banyaknya respons yang ada di grup WA KKN kami, orang yang diberi kode justru tidak menjawab. Seketika itu kami langsung terbagi dua kabu, tim laki-laki yang merasa kasihan dengan teman kami yang mengirim foto gelang tadi, dan kami tim perempuan yang justru mendukung sikap chill si teman perempuan kami.

Grup WA KKN yang masih aktif

Namun, di luar cerita tadi, masih banyak yang kami bahas di grup WhatsApp KKN. Soal kegusaran akan masa depan, mengapresiasi pencapaian-pencapaian anggota yang sudah lulus, bernostalgia tentang pengalaman KKN di Maliku Baru, hingga masalah pelik sebagai WNI.

Bahkan saya merasa, grup WhatsApp KKN ini lebih hidup dibandingkan dengan grup angkatan jurusan kuliah saya. Suatu kali, teman kuliah saya pernah memergoki saya yang sedang cengar-cengir sendiri membalas obrolan di grup WA KKN.

Teman saya itu langsung kaget karena grup WA KKN-nya sudah tidak aktif. Bahkan terancam dia hapus saking sepinya tak ada obrolan.

“Kamu masih kontakan ya sama teman-teman KKN-mu, kalau grupku sih sudah nggak aktif. Nggak ramai juga. Takut dikacangin,” ujar Ritsu.

Dari sana, saya jadi sadar bahwa hubungan tim anggota KKN kami termasuk istimewa dan patut disyukuri. Meski banyak pengalaman buruk juga yang sering kami alami saat di desa KKN, tapi hubungan kami masih baik dan sehat. Dari situlah kami benar-benar belajar menjadi orang dewasa. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Perpisahan Mahasiswa KKN Bukannya Mengharukan malah Menyebalkan Gara-gara Sikap Warga, Ekspektasinya Terlalu Berlebihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2025 oleh

Tags: Cinlok KKNGrup WA KKNGrup WA kuliahKKNmahasiswa kkn
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic
Sehari-hari

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO
Kampus

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Warga Bogor Kelaparan sampai Tak Mampu Beli Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.