Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nasib Introvert KKN di Desa Sendiri, Malah Merasa Paling Asing Karena Selama Ini Kurang Srawung

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Agustus 2024
A A
mahasiswa KKN.MOJOK.CO

Ilustrasi Warga Desa Sebenarnya Kasihan dengan Mahasiswa KKN: Duit Tipis, Hidup Susah, tapi Dituntut untuk “Mengentaskan Kemiskinan” (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konon, KKN di desa sendiri adalah berkah. Alasannya, kita sudah paham medan dan kultur, sehingga lebih mudah buat memetakan program kerja yang tepat. Namun, hal itu tak berlaku bagi introvert yang jarang bergaul. Mereka tetap merasa asing meski ada di desa sendiri.

Salah satu pengalaman unik tersebut dialami Resti (23), mahasiswa salah satu PTN Jogja yang tahun lalu menyelesaikan KKN. Saat pembagian kelompok dan penetapan lokasi diumumkan, ia terkejut lantaran diterjunkan ke desanya sendiri di wilayah Gunungkidul.

Iklan

“Awalnya mastiin, bener nggak, jangan-jangan cuma namanya yang sama. Eh, ternyata benar, aku KKN di tempat sendiri,” ungkap Resti, yang baru-baru ini ditemui Mojok pada Jumat (2/8/2024).

Pada awalnya, Resti merahasiakan hal tersebut dari teman-teman satu kelompok. Ia mengaku tak mau kelompoknya berekspektasi lebih kepadanya. Lebih-lebih, dia juga takut ditunjuk jadi ketua kelompok karena merasa tak terlalu pandai bergaul.

Namun, lambat laun “rahasia” tadi terbongkar. Alhasil, ketakutannya tadi pun kejadian. Teman satu kelompoknya menaruh harapan besar padanya. Pendeknya, meski tak jadi ketua, Resti seperti ujung tombak di kelompoknya.

“Mampus!,” ungkapnya, mengingat perasaannya kala itu. “Pada mikir aku paham seluk beluk desaku. Padahal aku ini introvert yang pulkam cuma sebulan sekali. Itu pun di desa aku juga jarang srawung.” imbuhnya.

Bingung, tak tak tahu caranya berkomunikasi dengan kepala desa

Sebenarnya, Resti sudah coba berkomunikasi ke teman-temannya kalau dia tak bisa diandalkan untuk urusan KKN. Meskipun KKN di desa sendiri, sifatnya yang introvert dan jarang bergaul justru bakal menyulitkan kelompoknya.

Namun, teman-teman kelompoknya malah ngayem-ayemi. Mereka tetap percaya kalau Resti adalah ujung tombak karena dianggap paham seluk beluk desa.

“Udah nggak bisa berkata-kata lagi waktu itu. Rasanya pengen jadi buah-buahan aja biar nggak perlu pusing-pusing mikir,” kata Resti.

Cobaan pertama ia rasakan saat survei lokasi. Kalau boleh jujur, Resti hanya mampu membantu menunjukkan arah ke desanya saja. Kalau urusannya sudah berkomunikasi ke kepala desa atau tokoh masyarakat setempat, ia nol besar.

Masalahnya, teman-temannya keukeuh menyerahkan urusan tersebut ke Resti. Kata mereka, “itu mandat dari ketua kelompok”.

Alhasil, apa yang ia takutkan kembali kejadian. Sesampainya di desa sendiri, Resti sempat memampirkan teman-teman ke rumahnya. Sambil istirahat, Resti tanya-tanya ke ayahnya terkait kepala desa yang akan mereka jumpai.

“Ya gimana, aku aja nggak tahu kepala desa siapa, rumahnya di mana, orangnya seperti. Karena aku memang se-introvert itu, nggak pernah bergaul,” ujarnya.

Saat mereka mulai beranjak ke rumah kepala desa, Resti sangat overthinking. Ketakutan-ketakutan ia rasakan. Keringat dingin juga membasahi wajahnya. Ia panik, karena selama ini belum pernah berkomunikasi dengan kepala desa.

Iklan

Dan, sesampainya di tujuan, terjadilah hal yang bikin Resti mau pingsan. Ternyata kepala desa juga tak tahu kalau Resti adalah warga desa tersebut.

“Sumpah rasanya malu banget sama teman-teman kelompok KKN. 20 tahun lebih hidup di sini, aku merasa nggak tahu apa-apa dengan daerah sini. Merasa asing banget,” ucap Resti, dengan getir.

Boro-boro sejahterakan warga, sama tetangga sendiri saja asing

Nyaris tiga bulan KKN Resti jalani dengan penuh kengenesan. Satu-satunya kontribusinya di kelompok adalah penginapan gratis. Kebetulan, Resti punya satu rumah kosong milik pamannya yang ditinggal merantau ke kota. Selama KKN, teman-temannya diinapkan di sana.

Selebihnya, Resti malah seperti beban. Bagaimana tidak: berkomunikasi dengan tokoh masyarakat tidak pandai, bersosialisasi pun kikuk. Bahkan, program kerja individu yang “cuma” sosialisasi ke ibu-ibu PKK pun terasa sangat berat.

“KKN yang cuma dua bulanan itu rasanya kayak lama banget. Nggak selesai-selesai saking aku nggak betahnya,” ujar perempuan asal Gunungkidul ini.

Pengalaman penuh adrenalin sebagai introvert yang KKN di desa sendiri juga dialami Fiko (24). Alumnus UGM yang pernah KKN di Gunungkidul ini mengaku, dirinya serasa menjadi orang paling asing–saking jarang bergaul dengan pemuda sekitar.

Fiko bahkan mengaku, tak jarang ia mendapat cacian dan sindiran dari tetangga-tetangganya. Dari yang ia dengar, beberapa warga desa menganggap Fiko selama ini tak pernah andil di kegiatan-kegiatan desa. Sementara giliran KKN, dia sok bikin kontribusi.

“Aslinya sakit hati dengarnya. Tapi apa boleh buat, memang aslinya aku jarang srawung. Sah-sah aja mereka nuduh macem-macem,” ungkapnya, Rabu (7/8/2024).

Mahasiswa KKN ini tak menyukai kultur pemuda desa yang suka mabuk-mabukan

Fiko punya alasan mengapa ia seolah jaga jarak dengan para tetangganya. Kalau Resti memang aslinya sulit bersosialisasi, Fiko mengaku memang tak terlalu suka dengan kultur pemuda desanya.

Berdasarkan cerita Fiko, alumnus UGM ini merupakan satu-satunya pemuda yang “well educated”. Dalam artian bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.  Sementara banyak pemuda di desanya yang lulus SMA langsung kerja.

“Nggak tahu kenapa, aku udah berusaha nongkrong bareng tapi memang nggak bisa nyambung obrolannya,” ujar mahasiswa yang pernah KKN di desa sendiri ini.

“Jujur, aku berusaha membumi. Tapi mereka yang kerap jaga jarak, dibilangnya omonganku ndakik-ndakik, nggak cocok bagi mereka,” imbuhnya, menegaskan rasa sakit hatinya.

Ditambah lagi, Fiko juga tak terlalu menyukai kultur pemuda desa yang menurutnya doyan mabuk-mabukan. Menurutnya, mau sedekat apa dia dengan seseorang, kalau sudah mabuk maka rasa ilfeel yang ia rasakan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Mahasiswa KKN: Nggak Bantu Atasi Masalah Desa, Cuma Bisa bikin Les dan Acara 17 Agustusan

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2024 oleh

Tags: introvertKKNKKN di Desa Sendirimahasiswa kknproker kkn
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Catatan

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO
Kampus

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Mahasiswa penerima KIP-K Unair korupsi iuran AUBMO. MOJOK.CO

Kasus Mahasiswa KIP-K Unair Korupsi Rp103 Juta: Dari Salah Transfer, Terlilit Pinjol, hingga Janji Mengganti dengan Jaminan Sertifikat Rumah

20 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.