Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Bagi Orang Rembang Jadi TKI di Malaysia Lebih Terhormat ketimbang Sarjana, Gara-Gara Sarjana Banyak yang Nganggur dan Jadi Beban Orang Tua Padahal Kuliah sampai Jual Sawah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 April 2024
A A
Di Rembang TKI Lebih Bermartabat ketimbang Sarjana MOJOK.CO

Ilustrasi - Di Rembang TKI Lebih Bermartabat ketimbang Sarjana. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, anak-anak muda yang memilih jadi tenaga kerja Indonesia (TKI) dipandang lebih bermartabat ketimbang para mahasiswa atau sarjana. Pasalnya, para TKI yang pulang dari luar negeri pasti sudah bisa membeli mobil, membangun rumah, hingga membeli tanah. Uang banyak yang mereka bawa pulang pun bisa untuk membantu keuangan orang tua di rumah.

Berbeda dengan beberapa mahasiswa atau sarjana di sebuah desa di Sluke, Rembang ini. Usai lulus kuliah, mereka malah nganggur lama. Alih-alih memberi, para sarjana itu malah terus-terusan menjadi beban orang tua.

***

Desa M (nama desa harus disamarkan) memang menjadi salah satu desa di Rembang yang mayoritas laki-lakinya bekerja sebagai TKI. Baik laki-laki dewasa, umur 20-an, bahkan di bawah umur 20 tahun pun ada yang ikut menjadi TKI. Umumnya mereka menjadi TKI di Malaysia.

Entah sejak kapan bermula, tapi menjadi TKI di Malaysia seolah menjadi profesi turun-temurun di desa ini. Di samping itu, di Desa M, Rembang, seorang laki-laki dianggap tidak benar-benar bekerja kalau belum sampai merantau ke Malaysia.

“Karena uang Malaysia besar. Upah kuli di sana setara dengan gaji pegawai negeri (PNS) di Indonesia,” ujar Yandi* (26), bukan nama sebenarnya, saat kami bertemu, Minggu (7/4/2024) malam WIB.

“Beda misalnya kalau jadi kuli di Surabaya. Gajinya cuma cukup buat makan. Nggak bisa beli lain-lain seperti mobil atau tanah,” sambung pemuda yang baru saja mudik di hari ke 20 Ramadan tersebut.

TKI di Rembang berani sesumbar di hadapan sarjana

Mau diakui atau tidak, kata Yandi, masyarakat Desa M, Rembang tak begitu menganggap penting pendidikan tinggi. Paling umum lulus SMA sudah cukup. Setelah itu ya harus langsung cari kerja kalau laki-laki. Kalau perempuan, antara bekerja atau nunggu ada yang melamar.

Termasuk Yandi sendiri, ia lulus SMA pada 2017 silam. Setelah itu ia langsung mengurus berkas-berkas untuk berangkat menjadi TKI di Malaysia bersama dengan beberapa pemuda seangkatannya yang lain.

“Mikirnya orang tua sini kalau nguliahkan anak bakal habis-habisin ragat. Kuliah itu kan nggak cukup setahun, dua tahun. Belum nanti ngirim uang bulanan. Malah bebani orang tua,” ucap Yandi. Apalagi setelah lulus pun belum tentu dapat kerjaan yang gajinya segede para lulusan SMA yang memilih jadi TKI di Malaysia.

Pada tahun 2017, di Desa M, Rembang sebenarnya mulai ada beberapa orang tua yang mengupayakan agar anak-anaknya yang lulus SMA bisa lanjut kuliah. Yandi sempat merasa iri.

Di mata Yandi, pemuda-pemuda yang jadi mahasiswa itu terlihat keren. Ia juga beranggapan bahwa kelak mereka akan jadi orang besar. Karena konon para sarjana akan lebih mudah dalam mencari pekerjaan yang mentereng, dengan gaji yang mentereng pula.

“Sekarang loh banyak yang nganggur. Iya nggak? Kalau pun ada yang kerja, alah gajinya ternyata nggak segede kami yang kuli,” beber Yandi.

Yandi berani sesumbar demikian karena sejak berangkat menjadi TKI di Malaysia pada 2017 itu, ia sudah berhasil membeli beberapa hal yang dalam tolok ulur masyarakat Desa M, Rembang sangat prestisius: mobil, motor Ninja, membangun rumah, dan bahkan di tahun 2024 ini berencana akan menikah, di mana 80 persen biayanya akan Yandi tanggung sendiri.

Iklan

Orang tua di Rembang lebih bangga anak jadi TKI

Pagi sebelumnya saya sempat berbincang tanpa sengaja dengan Munadi* (50), salah satu orang tua di Desa M, Rembang yang anaknya menjadi TKI di Malaysia.

“Katanya kok nggak pulang lebaran ini. Ya sudah, wong nyari duit kok,” ujar Munadi menjawab pertanyaan saya apakah anaknya pulang atau tidak lebaran tahun ini, saat kami tanpa sengaja bertemu di Pasar Sluke, Rembang.

“Tapi tiga hari lalu ngirim uang buat belanja kebutuhan lebaran,” imbuh laki-laki yang berprofesi sebagai polang sapi tersebut.

Anak Munadi berangkat menjadi TKI di Malaysia pada 2023 lalu, saat usianya persis menginjak 20 tahun. Sebenarnya Munadi menghendaki anaknya nyantri di pondok pesantren di Sarang, Rembang.

Di Rembang TKI Lebih Bermartabat ketimbang Sarjana MOJOK.CO
Ilustrasi – Di Rembang, TKI lebih bermartabat ketimbang sarjana. (SAMS Solutions/Unsplash)

Namun, karena sang anak bersikukuh untuk berangkat menjadi TKI di Malaysia, Munadi pun tak bisa mencegah. Munadi malah bangga. Karena dengan menjadi TKI di Malaysia, itu artinya sang anak telah memiliki pikiran yang matang: berusaha mencari uang sendiri biar nggak terus membebani orang tua. Syukur-syukur malah ngasih (uang) orang tua.

“Kalau ada lebih, pasti ngirimin orang tuanya. Itu kan meringankan beban orang tua. Apalagi kami masih punya anak (kedua) yang masih sekolah (SD),” ungkap Munadi.

Sejak awal, Munadi memang tidak punya bayangan untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Dalam benaknya, kuliah hanya untuk anak-anak orang kaya kota. Anak-anak orang desa jangan muluk-muluk, fokus cari kerja untuk menyambung hidup.

Baca halaman selanjutnya…

Sarjana menyesal orang tua jual sawah untuk biaya kuliah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 18 April 2024 oleh

Tags: jawa tengahkulipilihan redaksirembangsarjanasarjana nganggurTKItki di malaysia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan

10 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO
Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Edumojok

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.