Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

‘Tahun Berganti, Tapi Nasib Kami Nggak Kemana-mana’ – Kekecewaan Buruh Jogja yang Kena PHK Sepanjang 2024

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 Januari 2025
A A
phk, buruh jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - ‘Tahun Berganti, Tapi Nasib Kami Nggak Kemana-mana’ - Kekecewaan Buruh Jogja yang Kena PHK Sepanjang 2024 (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perasaan resah dan gelisah tak mampu Dani (24) sembunyikan ketika sudah membahas soal PHK. Saat banyak orang mulai memadati jalanan, menghitung mundur dan bersiap membakar kembang api di malam pergantian tahun, buruh Jogja ini memilih berdiam di rumahnya.

“Nggak ada yang spesial, 2024 ke 2025 artinya cuma mengganti angka terakhir di tahun kalender. Tahun ganti, tapi nasib kami para pengais nafkah ini nggak kemana-mana. Anjay, itu kata-kata hari ini,” ungkapnya, Selasa (31/12/2024) malam, sambil mengepulkan asap rokok dari belakang daun jendela kamarnya.

Dari kamar sempit berukuran 2×3 meter tersebut, Dani berusaha mengingat roller coaster kehidupan yang dialaminya setahun ke belakang. Tentu, yang paling menyisakan duka, adalah PHK yang menimpanya pertengahan 2024 lalu.

“PHK itu nggak sesimpel kerjaan ilang terus kita nemu kerjaan baru. Nggak kayak begitu, sumpah,” jelas Dani, masih dengan raut muka penuh kekecewaan.

80 ribu buruh di-PHK sepanjang 2024

Dani tidak sendiri. Nyatanya, ada banyak buruh lain di Indonesia yang harus kehilangan pekerjaan mereka karena PHK sepanjang 2024.

Berdasarkan catatan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer, setidaknya ada 80.000 kasus pemutusan hubungan kerja sejak Januari hingga Desember tahun lalu.

Adapun  menurut data dari Satudata Kemnaker, tenaga kerja yang mengalami PHK selama periode Januari hingga November 2024 mencapai 67 ribu orang. Jakarta menempati posisi pertama dengan jumlah PHK mencapai 14 ribu buruh. Disusul Jawa Tengah dengan 13 ribu kasus dan Banten dengan 10 ribu buruh yang ter-PHK.

Sementara Jogja, tempat Dani mengais rezeki, menempati urutan 6. Hingga November 2024, jumlahnya hampir menyentuh 10 ribu buruh (per Desember 2024, diperkirakan ada 14 ribu buruh Jogja yang di-PHK).

Dani sendiri mengalami PHK pada pertengahan tahun lalu oleh sebuah perusahaan tekstil. Kala itu, bersama ratusan buruh Jogja lain, Dani mengalami pemutusan hubungan kerja “atas dalih efisiensi”. 

Mereka sempat tak mendapatkan haknya. Namun, karena Dani dan kawan-kawannya terus berisik menuntut apa yang mereka harusnya peroleh, beberapa bulan kemudian hak mereka didapatkan.

“Tapi bukan persoalan pesangon, ya. Lebih dari itu. Pertama, PHK itu kan upaya terakhir. Kedua, PHK itu amat mendadak tanpa pemberitahuan. Dan ketiga, cari kerja setelah PHK itu susah,” tukas buruh Jogja ini.

Buruh Jogja ini hidupi tiga adik dengan kerja serabutan

Saat masih bekerja di pabrik, Dani mendapatkan penghasilan tetap. Meskipun upahnya pas-pasan (sedikit di atas UMR Sleman: Rp2,3 juta), setidaknya hasilnya pasti. 

Sementara setelah kena PHK, semua menjadi tidak jelas. Mau cari kerja lagi susah, dan ketika sudah dapat, upahnya tak masuk akal. Jangankan tembus UMR, kadang mencapai Rp2 juta pun tidak.

“Ijazahku cuma SMA, jadi memang struggle mau cari kerja. Sementara kalau mau merantau, yang jelas aku ada keinginan, sulit buat aku ninggalin adik-adikku di sini,” ungkap Dani.

Iklan

Dani punya tiga adik. Satu masih balita serta dua lainnya sudah masuk SD dan SMP. Ayahnya, kata Dani, minggat saat ibunya mengandung adik terakhirnya. Sementara ibunya, di sela-sela kesibukannya mengurus adik kecilnya, membantu tetangga yang punya usaha laundry.

“Tapi (penghasilan ibu) nggak seberapa juga, ‘akadnya’ aja bantu-bantu. Cuma cukup buat makan hari itu,” katanya. “Jadi ya mau nggak mau, aku yang jadi kepala keluarga.”

Semenjak kena PHK, buruh Jogja ini belum menemukan pekerjaan tetap. Makanya, untuk menghidupi ibu dan tiga adiknya, dia bekerja serabutan. Baginya, “selama ada duitnya, bakal dilakuin”. Termasuk dia pernah part time kerja di toko sayur sampai menjadi petugas kebersihan sebuah SD selama dua bulan.

“Jadi kebon (petugas kebersihan) gajinya nggak ngotak. Jangan ngomongin UMR, sejuta aja nggak nyampai,” kesalnya malam itu, bersamaan dengan dentuman petasan dan kembang api yang bikin bising kota Jogja.

Rela jadi sobat KRL, laju Jogja-Solo

Wulan (27) juga merupakan buruh Jogja yang kena PHK sepanjang 2024 lalu. Bedanya, nasibnya boleh dibilang lebih beruntung ketimbang Dani. 

Sejak mengalami pemutusan hubungan kerja massal dari salah satu start up ternama, Wulan sudah mendapatkan pekerjaan pengganti. Secara upah, tidak beda jauh. Dia pun juga cukup menikmati suasana kerja yang baru.

Namun, dia harus rela menjadi “sobat KRL” karena tempat kerja barunya berada di Solo. Tiap Senin-Sabtu pagi, Wulan sudah harus berada di Stasiun Maguwo setidaknya pukul 7. 

Biasanya, ibunya akan mengantar pagi-pagi sekali dan kembali menjemputnya pada sore hari setelah Maghrib. Rutinitas itu sudah dia lakukan paling tidak 4 bulan ke belakang.

“Kalau ngekos, ortu nggak nyaranin. Kalau mau motoran, pasti capek di jalan, takut kenapa-kenapa. Makanya, pakai KRL lebih safety,” ungkapnya, Selasa (31/12/2024).

“Nikmatnya jadi sandwich generation gini ya. Demi bayarin token listrik rumah, harus rela kehilangan waktu nongkrong dan melakukan hal lain yang disuka,” ucapnya, dengan amat satir.

Bagi Ketua Umum Serikat Merdeka Sejahtera (SEMESTA) Faisal Makruf, fenomena PHK–yang angkanya amat masif ini–adalah hal yang tragis. 

Kepada Mojok, dia menduga bahwa fenomena PHK tak lepas kaitannya dengan impor, daya beli masyarakat yang menurun, serta kemampuan pemerintah dalam mendapatkan dan menjaga investasi. Dia pun menegaskan bahwa pemerintah harus bertanggung jawab dengan mencegah PHK sebisa mungkin. 

“Jika PHK memang tidak dapat dicegah, maka dampaknya bisa dikelola dengan mengencangkan program jaminan kehilangan pekerjaan (JKP),” tegasnya, saat Mojok hubungi pada Kamis (2/1/2025).

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Solusi untuk Maraknya PHK di Sleman dari Pakar Ekonomi UGM, Agar Ekonomi Tak Terpuruk atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2025 oleh

Tags: Buruh JogjaJogjapekerja jogjaPHKphk buruh jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja
Urban

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja
Urban

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.