Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita Gen Z Bisa Beli Rumah di Usia 24 Tahun, Modal Jualan Parfum

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
24 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sosok Kaluna di film Home Sweet Loan menginspirasi sebagian orang dewasa saat ini yang ingin membeli rumah. Ada yang merasa relate dengan kehidupan Kaluna karena bergaji UMR. Salah satu penonton film tersebut adalah Fikri Haiqal (24) atau yang akrab dipanggil Iqal.

Iqal mengaku biasa saja saat menonton film tersebut, walaupun ada nilai-nilai kehidupan yang bisa diambil. Salah satunya, sosok Kaluna yang digambarkan pekerja keras. Tapi rasa-rasanya, kehidupan dia lebih miris dibandingkan Kaluna yang lahir di keluarga menengah dan punya gaji UMR sejak dewasa.

Hidup sebagai kalangan kelas bawah dan punya mimpi beli rumah

Tumbuh dari kondisi keluarga yang kurang berada membuat Iqal terbiasa mencari uang. Dia merasa kebutuhan hidupnya selalu tidak terpenuhi sedari kecil. Ibu dan ayah Iqal pisah ketika dia masih kelas 3 SD. 

“Rumahku pernah mati listrik hampir 3 bulan, karena keluaragaku nggak sanggup bayar ke PLN. Ada juga cerita, telur satu itu, kami bagi untuk tujuh orang, saat sekolah aku juga jalan kaki, padahal jaraknya cukup jauh,” ucap Iqal kepada Mojok pada Rabu (23/2/2024).

Iqal bersama empat orang kakaknya tinggal dengan ibunya yang hanya pekerja rumah tangga. Sedangkan, ayahnya sempat menjual hasil lukisan dan sangkar burung, hingga dia kelas 1 SMP. Kini, ayahnya bisa dikatakan pengangguran dan tidak tinggal bersama mereka.

Pemuda asal Surabaya itu merasa masih beruntung karena kakak-kakaknya mau membiayai pendidikannya hingga SD. Begitu masuk SMP, dia sudah mulai memikirkan biaya sekolahnya sendiri. Itu juga yang dilakukan oleh kakak-kakaknya saat itu. 

Iqal merasa tak terlalu pandai di bidang akademik. Dia akhirnya mencari beasiswa lewat prestasi di bidang olahraga seperti futsal, basket, dan pencak silat. Dengan begitu, dia bisa mendapatkan potongan SPP di salah satu sekolah swasta yang cukup elit di Surabaya.

Banting tulang demi cuan

Setelah mencoba beragam bidang olahraga, Iqal merasa paling cocok di silat. Dia berlatih setiap hari, meski belum membuahkan hasil. Orang-orang sekitar menganggap fisik Iqal kurang sebagai atlet. Jika dibandingkan anak laki-laki seusianya, dia terbilang pendek dan kurus.

Namun, Iqal tetap fokus melatih fisiknya hingga berhasil juara saat SMA. Dalam tingkat pertandingan yang lebih tinggi, seperti pertandingan mewakili provinsi sampai nasional, Iqal biasanya mendapatkan bonus cuan dengan nominal yang cukup besar, jika berhasil menyabet medali.

Dia sendiri belum punya keinginan beli rumah saat itu. Yang penting, kebutuhan hidupnya tercukupi.

“Aku hanya fokus pada diriku sendiri. Fokus melakukan hal-hal yang memang harus dan perlu aku lakukan untuk mencapai tujuanku,” ucap Iqal.

Ketika SMA, dia kerja sebagai driver ojol sembari menjadi pelatih silat di sekolah-sekolah. Penghasilan itu kemudian dia gunakan untuk kuliah jurusan Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Genap empat tahun, Iqal berhasil meraih gelar sarjana.

“Aku nggak mau dipandang remeh hanya karena aku lulusan SMA. Kakak-kakakku sendiri tergolong orang-orang yang jago di bidang akademik. Aku enggak mau kalah,” kata Iqal.

Ketika zaman kuliah, Iqal tetap meneruskan latihannya sebagai atlet. Dia juga bekerja di salah satu tempat saji. Masih belum cukup, dia ikut bisnis temannya sebagai reseller parfum dan menjualnya di pinggir jalan saat malam.

Iklan

Seluruh kegiatan itu menguras jam tidurnya. Dalam sehari dia hanya tidur 3 sampai 4 jam. Sebagai manusia dia tentu pernah merasa lelah. Sebisa mungkin, dia memaksimalkan waktu istirahatnya di hari minggu.

Modal Rp500 ribu menjual parfum

Iqal mengenal bisnis parfum ketika dia SMA. Dia sering main ke rumahnya temannya yang juga atlet. Kebetulan, kakak temannya itu sibuk memproduksi parfum di rumah. Mulanya, dia hanya coba-coba menjual lima botol parfum sweet baby seharga Rp20 ribu.

“Aku buat meja sendiri untuk ditaruh di atas motor biar nanti pas jualan enggak makan tempat. Selesai latihan malam, aku jual di Pasar Malam Dupak, terus kalau Minggu pagi di Tugu Pahlawan,” ucapnya.

Namun, bisnis parfum temannya tak berjalan lancar. Ada oknum yang merusak harga pasar bisnis tersebut. Tak patah arang, Iqal memutuskan untuk membeli tester sendiri dengan modal Rp500 ribu.

“Aku dapat 36 tester dengan botol ukuran 10 mili liter yang aroma. Dari situ aku jualan dengan brand-ku sendiri. Walaupun parfumnya tetap dari temanku,” ucap Iqal.

Proses itu tentu tidak mudah. Dia mulai membuat kemasan sendiri, belajar menjadi seles, berkeliling ke pasar atau mall untuk menawarkan barang dagangannya. Perasaan gengsi pasti ada, tapi Iqal lebih memilih bodoh amat demi melancarkan bisnisnya.

Usaha parfum terasa menjanjikan, bisa nabung beli rumah

Iqal terus belajar secara otodidak, mulai dari membangun bisnis, mengembangkan produk parfumnya, sampai mempekerjakan tiga orang karyawan. Brand dia yang mulanya hanya 36 aroma, kini sudah berkembang jadi 85 aroma. Bisnis itu menjadi penghasilan utamanya. 

“Ini sudah masuk tahun ke tiga, dari yang tadinya aku masih belajar, sampai sekarang ya alhamdulillah masih jalan,” kata dia.

Jika ditotal dari seluruh pekerjaan yang dia geluti, Iqal bisa mendapatkan penghasilan Rp8-9 juta perbulan. Jika untung, omsetnya bisa sampai dua digit, tapi dia tak mau menyebutkan angka pastinya. 

Dalam kurun waktu satu bulan ke depan, dia punya target untuk menjual 500 hingga seribu botol parfum. Syukur-syukur jika bisa menambah jumlah sales keliling. 

Impian beli rumah dari sang kakak

Bisnis parfum Iqal berkembang pesat. Kakak perempuan Iqal yang ketiga akhirnya ikut membantu di bagian administrasi. Nah, keinginan membeli rumah itu sebetulnya berangkat dari kakaknya ini. 

Kakaknya sendiri sudah berkeluarga. Suaminya seorang PNS. Sebetulnya, penghasilan keduanya lebih dari cukup untuk mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) di bank. 

Namun, proses pengajuan itu mengalami kendala di berkas. Sehingga, KPR dilakukan menggunakan berkas milik Iqal yang gajinya saat itu masih Rp4 juta per bulan.

“Harga rumahku saat itu Rp274 juta. Dari bank acc Rp200 juta untuk pinjaman. Otomatis, mau nggak mau sisa Rp74 juta, itu aku harus bayar tunai,” kata Iqal.

Sedangkan saat itu, kakaknya belum mampu melunasi. Kebetulan Iqal juga baru menang dari kejuaraan PON. Meski bonus tersebut tak bisa membayar cicilan sepenuhnya, tapi tabungan Iqal dari penghasilan parfum bisa menutupi kekurangan tersebut. Rumah itu, kini dia tinggali bersama ibunya sebab kakak-kakaknya sudah punya kehidupan masing-masing.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tapera Cuma Akal-Akalan: Buruh Jogja Tetap Sulit Beli Rumah, Malah Nyunat Penghasilan yang Tak Seberapa

Ikuti artikel dan berita MOJOK lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2024 oleh

Tags: beli rumahGen Zgenerasi zharga rumahkprMenabungpinjaman bank
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.