Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Tapera Cuma Akal-Akalan: Buruh Jogja Tetap Sulit Beli Rumah, Malah Nyunat Penghasilan yang Tak Seberapa

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
28 Mei 2024
A A
Tapera Cuma Akal-Akalan: Buruh Jogja Tetap Sulit Beli Rumah, Malah Nyunat Penghasilan yang Tak Seberapa.MOJOK.CO

Ilustrasi Tapera Cuma Akal-Akalan: Buruh Jogja Tetap Sulit Beli Rumah, Malah Nyunat Penghasilan yang Tak Seberapa (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemerintah, melalui kebijakan Tapera, seolah hadir buat menjawab permasalahan para pekerja yang kesulitan membeli rumah. Sayangnya, bukan jadi solusi, ia malah tambah menyusahkan para pekerja saja. Iming-iming “rumah terbeli” pun cuma jadi omong kosong belaka.

***

Iklan

Yanuar Yudhistira (25) sudah tiga tahun bekerja di Jogja. Sejak lulus dari UGM pada 2021 lalu, ia memutuskan menetap di Kota Gudeg untuk mencari mata pencaharian.

Selama kurun tiga tahun juga, lelaki asal Palembang ini bergelut dengan kecilnya gaji, mentok di UMR Jogja yang hanya sebesar Rp2,4 juta. Namun, apa boleh buat, ia seolah tak bisa meninggalkan kota ini.

“Relasi, calon istri, semua ada di sini. Nggak mungkin aku tinggalin. Malah kalau bisa, sampai tua hidup di sini,” ujarnya kepada Mojok, Selasa (27/4/2024).

Bahkan, tahun depan, Yanuar dan kekasihnya sudah merencanakan pernikahan. Meskipun hari dan tanggal sudah mereka tentukan, ada banyak hal yang bikin mereka overthinking: bisakah mereka mencukupi kebutuhan sehari-hari, atau bahkan sanggupkah mereka membeli rumah buat keluarga kecilnya?

“Soalnya nggak mungkin tinggal bareng mertua. Di sana udah ada keluarga ipar, jadi kami ingin ada privasi lebih,” sambungnya, menjelaskan alasannya ngotot kudu beli rumah sendiri di Jogja.

Tapera Cuma Akal-Akalan: Buruh Jogja Tetap Sulit Beli Rumah, Malah Nyunat Penghasilan yang Tak Seberapa.MOJOK.CO
Aksi MayDay di Titik Nol Kilometer, Jogja, Rabu (1/5/2024). Ilustrasi lipuatn “Tapera Cuma Akal-Akalan: Buruh Jogja Tetap Sulit Beli Rumah, Malah Nyunat Penghasilan yang Tak Seberapa” (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Sayangnya, keinginannya buat punya rumah sendiri cukup sulit diwujudkan. Gajinya terlalu kecil, tabungan pun tak seberapa, dan kalaupun harus ambil KPR ia tak terlalu yakin sanggup melunasi cicilan.

Program akal-akalan negara berkedok “tabungan”

Keresahan Yanuar tak cuma dirasakan satu atau dua orang saja. Nyatanya, ada banyak buruh di Kota Jogja yang kesulitan buat beli rumah.

Belakangan, keresahan tersebut coba direspons pemerintah melalui PP Nomor 21 Tahun 2024 yang mengatur tentang Perubahan atas PP Nomor 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

Dalam PP tersebut, gaji pekerja di Indonesia seperti PNS, karyawan swasta dan pekerja lepas (freelancer), nantinya akan dipotong untuk dimasukkan ke dalam rekening dana Tapera. Adapun besaran simpanan dana Tapera yang akan ditarik tiap bulannya sebesar 3 persen dari gaji atau upah untuk peserta pekerja dan penghasilan untuk peserta pekerja mandiri.

Anggota Serikat Merdeka Sejahtera (SEMESTA) Jogja, Bagas Damarjati, menyebut kalau Tapera ini sebenarnya cuma akal-akalan pemerintah.

Ia berpandangan, melalui Tapera, pemerintah justru tak memberikan solusi apa-apa terkait polemik pekerja yang kesulitan dapat hunian. Lebih dari itu, Tapera malah bikin pemerintah lepas tangan dari inti masalah, karena menyerahkan semua realisasinya kebijakan kepada pekerja dan perusahaan saja.

“Hal ini menegaskan nihilnya peran strategis negara dalam Tapera ini; hanya membebankan Tapera pada pekerja dan pemberi kerja,” kata Bagas saat dihubungi Mojok, Selasa (28/5/2024).

Iklan

Orang Jogja mustahil beli rumah dengan Tapera

Kalau dari deskripsi program, Bagas menilai Tapera tidak akan memberikan solusi bagi para pekerja terkait masalah hunian. Apalagi bagi para pekerja di Jogja dengan gaji UMR Rp2,4 juta.

Jika dihitung, saat pekerja di Jogja mengikuti program tersebut, mereka hanya akan mendapat “tabungan” kurang dari Rp5 juta selama periode keikutsertaan (maksimal lima tahun). Ini merupakan hasil rata-rata Tapera pekerja Jogja per bulan sebesar Rp72.000 (asumsi gaji Rp2,4 juta) dikali lima tahun.

Kata Bagas, memang nanti bakal ada bunga investasi, mengingat 3 persen dari gaji yang terpotong akan diinvestasikan di korporasi, obligasi SBN, dan deposit. Namun, tetap saja hasil akhirnya tak mungkin lebih dari dua kali lipat perhitungan tadi. Nominalnya pun masih jauh buat beli rumah di Jogja yang harga termurahnya saja berkisar di angka Rp250 juta.

“Nggak mungkin juga pekerja bisa beli rumah kalau perhitungannya seperti itu kan? Jadi ini cuma akal-akalan saja,” tegasnya. 

Senada dengan Bagas, Ketua Umum SEMESTA Faisal Makruf juga pesimis kalau Tapera bakal menjadi solusi masalah sulitnya hunian bagi para pekerja. Hemat Faisal, yang menjadi masalah saat ini bukan pada tabungan pekerja, tapi di harga tanah yang memang semakin tinggi.

“Ada memang yang sedikit terjangkau. Kalau dalam konteks Jogja, biasanya yang murah itu jauh dari pusat kota, nggak strategis. Jadi para pekerja yang pengen punya rumah, mau nggak mau ambil KPR yang berpuluh-puluh tahun baru bisa dilunasi,” ungkapnya kepada Mojok.

Faisal juga berpandangan, jika pemerintah memang serius memberikan hunian bagi pekerja, idealnya harus ada “barangnya” dulu. Artinya, pemerintah kudu menyiapkan hunian, baik perumahan maupun rusun. Kemudian saat hunian telah ditempati, barulah cicilan dibebankan pada potongan gaji pekerja.

“Kalau gaji dipotong dulu tapi barangnya belum ada, jadinya malah timbul spekulasi liar. Masyarakat jadi suudzon apakah uangnya buat membiayai proyek tertentu, buat menutup utang pemerintah atau bagaimana. Karena kita pernah punya pengalaman serupa dengan Jiwasraya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Kenapa Gen Z dan Milenial Tak Beli Rumah? Karena Memang Tak Bisa. Gaji Sekecil Itu Berkelahi dengan Bunga KPR, ya Rungkad!

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2024 oleh

Tags: Buruh JogjaJogjapekerja jogjaprogram taperatabungan perumahan rakyattapera
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.