Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Calo Terminal Terboyo Semarang Lebih Kejam dari Calo Bungurasih, Mau ke Jogja Malah Dinaikkan Bus ke Pekalongan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Februari 2024
A A
Calo Terminal Terboyo Lebih Gila dari Bungurasih MOJOK.CO

Ilustrasi bus dari Terminal Terboyo Semarang (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengalaman pertama berhadapan dengan calo Terminal Terboyo, Semarang benar-benar menguras emosi. Kelakuan mereka bener-bener lebih kejam dan ‘pisuhable’ ketimbang calo di Terminal Bungurasih, Surabaya yang konon malah menjadi salah satu terminal paling keras di Jawa.

***

Karena informasi dari teman saya kurang valid, saya terpaksa harus melalui pengalaman pertama naik bus Semarang-Jogja dengan sangat buruk pada Minggu, (25/2/2024) sore WIB.

Teman saya tak bilang kalau dari arah Surabaya, bus jurusan Surabaya-Semarang tak akan masuk ke dalam Terminal Terboyo. Melainkan bus akan menurunkan penumpang di pangkalan kargo yang ada di sebelah timur RSI Sultan Agung, Semarang.

Sontak saja saya kebingungan harus mencari bus arah Jogja ke mana. Sementara teman saya tak bisa dihubungi.

Beberapa lama kemudian ia akhirnya mengirim WA kalau saya salah turun. Ia lalu menunjukkan di mana seharusnya saya menunggu bus karena sudah terlanjur salah turun.

“Daerah situ rawan calo, awas!,” pesannya.

Sayang sekali, pesan itu terkirim setelah saya jadi korban calo Terminal Terboyo, yang ternyata lebih gila dari Terminal Bungurasih, Surabaya.

Kejamnya Calo Terminal Terboyo 

Sebenarnya, saya sendiri sengaja “menyerahkan diri” pada calo. Saya butuh segera menemukan bus ke Jogja, sementara teman yang saya hubungi tak lekas membalas.

Maka, tidak ada pilihan lain. Saya harus tanya ke orang secara random, yang konsekuensinya adalah besar kemungkinan akan ditangkap oleh calo.

Tapi tak masalah. Kalau toh harus bayar lebih mahal, yang penting saya dapat bus dulu. Toh ini pengalaman pertama, buat belajar.

Akan tetapi, calo di Terminal Terboyo benar-benar di luar dugaan.

Setelah membayar sesuai yang si calo inginkan, ia memang mengantarkan saya ke pos tempat orang-orang nunggu bus.

Namun, bukannya memastikan saya mendapat bus ke arah Jogja, si calo malah menyerahkan saya ke calo lain. Ah sayang sekali saya tak sebodoh itu!

Iklan

“Tambah, Mas, Rp25 ribu,” ujar calo kedua yang menerima saya.

“Asu! Aku nggak goblok. Ini bus arah Pekalongan. Edan po!,” umpat saya pada si calo kedua tersebut.

Si calo pun tergeragap. Mungkin tak menduga kalau saya bisa membaca kebohongannya.

“Ya sudah naik ini aja, Mas,” ujar calo pertama sembari menghentikan bus Safari, jurusan Solo, yang sontak saya jawab dengan tawa mengejek.

“Jancuk! Aku paham ya bus apa saja yang ke arah Jogja, Ramayana, Hariyanto, aku tahu, nggak goblok. Aku cuma nggak tahu titik tunggu,” ujar saya dengan nada tinggi karena emosi yang memuncak.

Calo Terminal Terboyo Lebih Gila dari Bungurasih MOJOK.CO
Ilustrasi suasana di terminal yang rawan calo. (Steven Lewis/Unsplash)

Si calo pertama mencoba beragumen, tapi saya terus mendebat sembari sesekali misuh.

Dari raut wajahnya, si calo pertama sepertinya mulai tersulut emosi juga dengan pisuhan-pisuhan yang saya lontarkan. Tapi ia menyerah untuk berdebat lagi. Mungkin tak mau ribet.

Ia pun memilih mengembalikan uang saya, 80 persen dari yang saya beri sebelumnya. 20 persennya anggap saja sebagai upah karena kemudian ia menunjukkan titik penjemputan yang benar.

Kumpulan orang-orang tega

Si calo lantas meninggalkan saya di titik tunggu untuk bus arah Jogja: Hariyanto dan Ramayana.

“Cah-cah kae ncen awuran, Mas (Anak-anak (calo) itu memang ngawur, Mas),” ujar seorang calo lain yang baru saja mengantarkan penumpang ke bus. Duh, rasa dongkol membuat saya waktu itu tak sempat menanyai namanya.

Sedari tadi ternyata calo tersebut mengawasi saya yang berdebat hebat dengan dua calo nakal sebelumnya. Kepada saya, ia mengaku juga sebagai sesama calo liar.

Hanya saja, ia memang mengaku benar-benar konsekuen. Kalau ada penumpang yang sudah membayar padanya, maka ia akan benar-benar mencarikan bus ke tujuan yang tepat. Tak melakukan kebohongan dan tak melempar-lempar.

“Orang-orang sini tega-tega. Pokoknya asal dapat duit. Setelah itu, nggak urusan penumpang dapet bus yang bener atau nggak,” ujarnya.

“Mereka ini yang akhirnya ngerusak, Mas. Orang-orang jadi benci ke calo. Imbasnya, calo-calo seperti saya, yang bener-bener kerja, jadi dapat pandangan negatif, penumpang sudah nggak percaya,” sambungnya.

Ia kemudian memberi petunjuk pada saya perihal jam berapa bus Ramayana untuk ke Jogja akan melintas. Setelah itu, ia kembali masuk area penurunan bus, mungkin untuk berburu calon penumpang baru.

Tak luput ia berpesan agar kejadian hari itu saya jadikan pelajaran, agar kedepan tak berurusan dengan calo-calo nakal lagi.

Ia juga menunjukkan, di mana ia dan teman-teman calo—yang katanya lebih jujur—beroperasi. Barangkali saya tertarik menggunakan jasa mereka suatu waktu nanti. Saya mengangguk semabil mengarahkan jempol padanya, sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan saya sendirian.

Sementara di dalam bus, kondektur bus Ramayana yang saya naiki sekitar pukul 16.06 WIB tertawa ketika mendengar cerita saya.

Kondisi bus agak sepi. Saya sempat cerita dengan si kondektur, sembari memastikan, di mana baiknya saya harus menunggu bus jika hendak ke Jogja lagi.

“Emang gendheng (gila) calo-calo Terboyo. Kalau asal percaya, ngasal aja, sampean bisa diangkut sampai Pekalongan tadi,” ujar si kondektur.

“Pakai agen saja lebih aman. Mereka pasti pakai seragam atau kalau nggak tiketnya ada tulisan PO bus resminya,” lanjutnya.

Calo Terminal Bungurasih Surabaya tak separah itu

Selama enam tahun di Surabaya, saya memang tak pernah pakai jasa calo.

Pasalnya, alur keberangkatan di Terminal Bungurasih, menurut saya, jauh lebih rapi dan tertata. Hal itu memudahkan saya mencari bus berdasarkan jurusan yang saya tuju.

Bahwa ada testimoni yang menyebut calo Bungurasih galak dan keras-keras, memang betul. Ini Jawa Timur, Je.

Bahwa calo-calo di Terminal Bungurasih pun memasang harga tak masuk akal, memang betul. Namun, berdasarkan pengakuan dari seorang kawan yang pernah kena calo Terminal Bungurasih, Azhar (25), setidaknya mereka konsekuen.

Azhar pernah hendak ke Jogja dari Surabaya. Karena masih bingung, di Terminal Bungurasih ia jadi santapan calo. Harganya mencekik memamg, tapi si calo tetap mengantarkannya ke bus yang benar-bener untuk tujuan Jogja.

“Nggak kelempar-lempar kayak kamu, sih,” ujarnya saat saya hubungi.

“Ini sepengelamanku ya. Aku tetap diantar ke bus jurusan Jogja, Patas. Kalau kamu sampai mau dititipin bus ke Cilacap, wah, edan itu,” tukasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Sudah Saatnya Menjauhi Bus Sinar Mandiri, Penumpang di Jalur Pantura Surabaya-Semarang Mending Naik Jaya Utama

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2024 oleh

Tags: calopilihan redaksiSemarangSurabayaTerminal Bungurasihterminal terboyo
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan

10 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO
Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.