Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Hanya karena Nggak Ada Mie Gacoan Bukan Berarti Daerah Saya Tertinggal, Ukuran Maju Tak Sereceh Itu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Januari 2025
A A
Ketika daerah kecil seperti Rembang baru dianggap maju kalau punya Mie Gacoan MOJOK.CO

Ilustrasi - Ketika daerah kecil seperti Rembang baru dianggap maju kalau punya Mie Gacoan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kota kecil seperti Rembang kerap dianggap tertinggal hanya karena tidak punya outlet Mie Gacoan. Padahal ukuran maju tidak sereceh itu.

***

Mie Gacoan saat ini seolah menjadi indikator kemajuan suatu daerah. Suatu daerah dianggap tertinggal jika di sana tidak ada Mie Gacoan. Setidaknya begitulah cara pandang kasar yang berkembang saat ini.

Ambil contoh di daerah saya di Rembang, Jawa Tengah. Saya kerap diledek oleh teman-teman luar daerah: menyebut Rembang sebagai daerah yang jauh dari peradaban. Sebab, di Rembang tidak ada Mie Gacoan, KFC, McD, Richeese, bioskop, dan hal-hal lain yang diidentikkan dengan modernitas.

Bahkan, saya sempat menemukan akun Instagram tentang Rembang yang isinya adalah keluhan karena Rembang kerap menjadi sasaran ledekan orang-orang luar daerah.

Merasa tertinggal dengan daerah-daerah tetangga

Februari 2024 lalu, saya juga sempat wawancara dengan beberapa anak muda di Rembang. Mereka punya anggapan yang sama: iri dengan daerah tetangga yang mulai dan makin gemerlap.

Misalnya, Tuban dan Kudus sudah jauh lebih dulu menjadi gemerlap. Ada bioskop, Mie Gacoan, dan retail-retail modern lain. Kemudian seiring waktu menyusul Pati dan Blora yang mengumumkan bakal memiliki Mie Gacoan.

Alhasil, anak-anak muda di Rembang itu jika ingin menikmati bioskop atau Mie Gacoan harus rela menempuh waktu satu sampai dua jam ke daerah tetangga.

Situasi itu membuat Kabupaten Rembang akhirnya merasa tidak mau tertinggal. Alhasil, per Desember 2024 lalu mulai dilakukan pembangunan bioskop yang di dalamnya nanti juga akan dilengkapi restoran waralaba dengan nama-nama besar seperti Mie Gacoan.

“Banyak sekali karyawan, anak-anak, teman-teman, yang harus pergi ke Pati-Semarang atau Solo kalau ingin nonton bioskop. Kami ingin agar Rembang tidak peteng (gelap), saya ingin membuat Rembang padhang (cerah),” ujar Siswanto, CEO 515 Grup selaku inisiator proyek ssperti Mojok kutip dari Jawa Pos Radar Kudus.

Harapan Siswanto, hasil proyek tersebut nantinya akan membuat Rembang setara dengan daerah/kota-kota lain. Sehingga tidak selalu dianggap kabupaten tertinggal.

Rembang tidak cocok kemasukan retail modern?

Saat berita itu mencuat, masyarakat Rembang terbagi dua kubu. Ada yang antusias karena akhirnya, selain tidak perlu lagi jauh-jauh untuk makan Mie Gacoan, Rembang tak akan lagi jadi bahah ledekan.

Sisanya adalah orang-orang yang pesimis. Rasa-rasanya kelangsungan bioskop dan Mie Gacoan itu hanya akan bertahan sesaat. Berkaca dari kasus Mixue. Awalnya ramai, lalu kukut.

Karena memang, bagi kubu kedua ini, kondisi sosial-ekonomi mayoritas orang Rembang tidak cocok kemasukan retail-retail modern. Ketika uang Rp10 ribu lebih berharga jika dibelikan telur yang bisa digunakan untuk makan seharian, ketimbang untuk beli mie yang hanya sekali makan saja, kenyang pun belum tentu.

Iklan

Atau sepanjang masih bisa nonton di TV, ya untuk apa membuang uang Rp40 ribu sampai Rp50 ribu untuk nonton di bioskop?

Dilema keberadaan Mie Gacoan

Kecenderungan orang-orang menjadikan Mie Gacoan sebagai indikator kemajuan daerah cukup mengusik saya. Saya pun menghubungi Yusuf Rendy Manilet, pakar ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) pada Jumat (27/12/2024).

Bagi Yusuf, cara pandang di atas (menjadikan “aspek gemerlap” seperti keberadaan Mie Gacoan sebagai indikator kemajuan daerah) adalah konsekuensi bagaimana modernisasi mengubah sudut pandang masyarakat dalam memandang kemajuan suatu daerah.

“Padahal kita juga harus lihat, modernisasi itu tidak selalu mencerminkan pembangunan yang subtantif dan sustain,” ucap Yusuf.

Kehadiran Mie Gacoan, bioskop, dan sejenisnya mungkin saja memiliki dampak positif. Misalnya dalam bentuk investasi pihak swasta atau terbukanya lapangan kerja baru. Artinya, memang punya potensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Tapi tetap harus diakui bahwa hal ini juga menimbulkan dilema. Retail modern ini usahanya bisa mengancam kelangsungan UMKM lokal yang sebelumnya telah lama menjadi tulang punggung ekonomi daerah,” beber Yusuf.

Mie Gacoan jadi indikator kemajuan daerah itu nggak relevan

“Indikator kemajuan daerah jika hanya dari adanya Mie Gacoan misalnya, itu nggak relevan dan nggak subtantif. Banyak hal yang seharusnya lebih subtantif untuk dilihat,” tegas Yusuf.

Menurut Yusuf, suatu daerah bisa dikatakan maju itu kalau pondasi dasarnya, seperti kesejahteraan masyarakat, sudah terjamin.

Jadi jangan buru-buru FOMO membangun bioskop atau mengusahakan masuknya Mie Gacoan jika kondisi ekonomi masyarakatnya saja masih belum terjamin.

Misalnya, anak-anak muda yang memang jadi sasaran Mie Gacoan di daerah kecil seperti Rembang cenderung hanya akan makan di sana di masa-masa awal bukanya saja. Untuk membayar rasa penasaran. Selebihnya, setelah rasa penasaran tersebut terbayar, maka Mie Gacoan bisa terancam sepi.

“Ya karena pendapatan orang tua mereka atau pendapatan mereka sendiri tidak meningkat. Buntutnya, Mie Gacoan atau bioskop sepi, tutup, lalu PHK karyawan. Nggak sustain,” ungkap Yusuf.

Hal vital: meningkatkan upah daerah

“Maka, paling dasar adalah menciptakan kesejahteraan. Ukurannya relatif banyak. Kalau bicara konteks jangka pendek, ya bisa diukur dari meningkatnya upah,” tutur Yusuf.

Hal itu, lanjut Yusuf, berkaitan dengan bagaimana pemerintah daerah menciptakan lapangan kerja yang sifatnya bisa meningkatkan kesejahteraan jangka menengah dan panjang. Di saat bersamaan juga bisa menyerap angkatan kerja yang besar.

Masuknya retail modern seperti bioskop atau Mie Gacoan memang bisa membantu menyerap angkatan kerja. Akan tetapi, bagi Yusuf, jumlahnya lebh kecil misalnya ketimbang keberadaan pabrik. Karena pabrik cenderung lebih sustain. Dari sini pula, peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa diupayakan.

“Kalau kesejahteraan masyarakat setempat secara umum sudah meningkat, nanti akan ada efek bola salju. Investor akan masuk kembali. Dan itu lebih sustain,” tekan Yusuf.

Maju tak mesti gemerlap

Cara pandang modernitas membuat orang menganggap bahwa maju itu ya harus gemerlap: penuh teknologi canggih, banyak gedung tinggi, hingga yang paling remeh: ada Mie Gacoannya.

Padahal, bagi Yusuf, tidak mesti begitu. Karena indikator kemajuan itu beragam.

“Saya pernah berkunjung di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saya melihat Pemkab sangat aktif menggandeng UMKM lokal untuk meningkatkan kapasitas mereka: UMKM lokal dibantu mengaskes alat-alat modern, diberi pelatihan agar bisa sustain,” papar Yusuf.

“Bahkan UMKM yang sudah berhasil dan sustain diminta menggandeng UMKM lain untuk bisa naik kelas,” sambungnya. Itulah kemajuan.

Misalnya lagi, di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakatnya jauh dari ingar-bingar teknologi. Tapi mereka punya kearifah yang akhirnya bisa memproduksi padi yang dalam sekali panen bisa digunakan untuk ketersediaan pangan selama 100 tahun ke depan. Itu juga termasuk peradaban yang sangat maju sekali.

“Nah, ini juga penting. Jangan karena fokus membuat daerahnya menjadi gemerlap, pemerintah daerah lantas mengenyampingkan aspek fundamental seperti akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga infrastruktur dasar. Karena itu nanti akan berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Yusuf.

Itulah yang, kata Yusuf, harusnya menjadi obsesi pemerintah daerah. Jangan hanya terobsesi alias FOMO pada hal-hal yang sedang hype seperti Mie Gacoan dan sejenisnya saja.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Orang Rembang Jadi TKI di Malaysia Lebih Terhormat ketimbang Sarjana, Gara-Gara Sarjana Banyak yang Nganggur dan Jadi Beban Orang Tua Padahal Kuliah sampai Jual Sawah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2025 oleh

Tags: bioskop di rembangMie Gacoanmie gacoan di rembangrembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Urban

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Sehari-hari

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO
Catatan

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.