Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Bahasa Slang Bukan Semata Buat Gaya-gayaan, Tapi Ada Fungsinya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bahasa slang terus berkembang di tiap generasi. Terdengar “aneh” dan bahkan cenderung nyinyir. Namun, sebenarnya bahasa slang juga punya power untuk mengkritik pemerintah.

***

Suatu hari, saya pernah main ke rumah seorang teman. Karena teman saya masih membeli minuman, akhirnya saya dijamu oleh adik teman saya yang baru masuk SMP. 

Saya dan keluarga teman saya memang cukup dekat, sehingga saya merasa tidak canggung dengan sang adik. Mulanya saya bertanya, bagaimana pengalaman pertama dia masuk SMP?

Kemudian dia bercerita bahwa ada anak yang “sigma”. Di situlah saya merasa kurang gaul. Apa itu sigma? Dia menjelaskan, sigma biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang keren dan populer atau mendominasi.

Usai perbincangan itu saya mulai mencari bahasa-bahasa slang anak sekarang. Ternyata ada banyak istilah yang saya tidak mengerti. Misalnya, lit, rizz, fam, skibidi, simp, dan masih banyak lagi.

Sebagai pembeda antar generasi

Saya jadi sadar, bahasa slang ternyata muncul di setiap era. Lalu, apa latar belakangnya? Rasa penasaran membawa saya berdiskusi dengan seorang pakar. 

Guru besar Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Ni Wayan Sartini menjelaskan bahasa slang muncul karena tiap generasi ingin menciptakan identitas sosial dan kelompok mereka sendiri.

“Bahasa slang sebagai cara untuk membedakan diri dari generasi yang lebih tua dan menunjukkan solidaritas di antara mereka,” kata Dosen Ilmu Linguistik itu kepada Mojok, Rabu (9/10/2024).

Pada akhirnya, muncul lah sekat di tiap generasi yang membentuk “kita” versus “mereka”. Justru dengan begitu, slang bisa bikin solid antar generasi. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka paham tren sosial dan budaya yang berlaku di zamannya.

Bahasa slang jadi senjata kritik pemerintah

Ni Wayan bilang, bahasa slang mencerminkan dinamika sosial dan budaya yang berkembang di tiap generasi. Semakin dewasa, tiap generasi punya nilai-nilai dan perspektif yang berbeda sesuai dengan konteks sosial dan identitas politik mereka. 

Generasi muda biasa menggunakan bahasa slang sebagai alat kritik untuk memberontak norma dan otoritas sosial. Mereka menyindir kebijakan, atau situasi sosial-politik di zamannya. 

“Bahasa slang sering menjadi media bagi generasi muda yang merasa suaranya tidak didengar dalam arus utama untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka,” ucap Ni Wayan.

Slang sering dipakai oleh masyarakat pinggiran atau kelompok marjinal sebagai bentuk perlawanan. Misalnya seperti kelompok pekerja, kelompok minoritas, atau aktivis sosial yang tidak puas terhadap sistem atau kebijakan pemerintah.

Iklan

Penyebarannya semakin cepat berkat adanya teknologi, khususnya media sosial. Bahasa slang itu bisa dikemas melalui meme, humor, atau konten sarkasme politik.

Sebagai contoh, mahasiswa yang demo mengkritik kinerja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Mereka mengangkat poster bertuliskan, “Bapak, Ibu! Minum enggak? Dugem enggak, kok RUU-nya ngawur? #Otaknyangefly.” atau “UU Cipta Kerja aja yang bapuk, pemerintah jangan”, dan lain-lain.

Kreativitas anak muda menciptakan bahasa slang

Ni Wayan menjelaskan, bahasa slang itu sifatnya informal, sehingga memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara kreatif. Mereka tidak perlu menggunakan bahasa-bahasa formal yang erat kaitannya dengan kekuasaan atau struktur yang dikritik.

Kemunculan bahasa slang berangkat dari refleksi pengalaman hidup anak muda. Ni Wayan menjelaskan, generasi muda cenderung eksperimentatif dengan bahasa. Mereka menciptakan kata-kata baru atau memberikan makna pada kata-kata lama. 

“Kreativitas linguistik ini memungkinkan mereka untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan dengan cara yang lebih segar dan unik,” ucapnya.

Generasi muda terinspirasi dari tren budaya seperti musik, film, media sosial, dan gaya hidup. Misalnya, istilah-istilah dari dunia hip-hop, video game, atau internet sering kali menjadi bagian dari slang generasi tertentu.

“Generasi yang tumbuh dengan media sosial, misalnya, memiliki pengalaman unik dengan dunia digital, dan slang mereka seperti skibidi atau simp mencerminkan fenomena online yang terkait dengan teknologi dan interaksi virtual,” kata dia.

Selain itu, masyarakat yang lebih kritis akan menggunakan istilah yang berhubungan dengan inklusivitas, identitas gender, atau isu-isu sosial lainnya. 

Perpaduan budaya dan globalisasi juga turut berpengaruh. Generasi muda, terutama di kota kosmopolitan, sering mencampur bahasa-bahasa asing untuk menciptakan slang yang unik. Di Indonesia sendiri, sering muncul bahasa slang hasil dari perbaduan bahasa Inggris dan bahasa daerah, atau istilah asing yang diadaptasi ke dalam percakapan sehari-hari. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kosakata Bahasa Indonesia yang Bikin Salah Paham, dari ‘Nyinyir’ Hingga ‘Wacana’

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2024 oleh

Tags: arti bahasa slangbahasa slangGen Zistilah gen Z
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z
Sehari-hari

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

19 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.