Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nasib Jadi Manusia Paling Apes dan Ironis: Punya Kakak Fanatik PSHT dan Bapak Kru Karnaval Sound Horeg, Hari-hari Batin Tersiksa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Agustus 2025
A A
Jadi manusia paling apes dan ironis: Punya kakak PSHT fanatik dan bapak kru sound horeg sampai batin tertekan MOJOK.CO

Ilustrasi - Jadi manusia paling apes dan ironis: Punya kakak PSHT fanatik dan bapak kru sound horeg sampai batin tertekan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sepanjang Juni-Juli 2025, pencak silat PSHT dan karnaval sound horeg menjadi sasaran empuk caci maki publik. Bertepatan dengan momen Suroan Agung pada Juli, beberapa anggota PSHT ndilalah tercatut banyak kasus kekerasan jalanan.

Sementara menjelang 17 Agustusan, karnaval sound horeg tengah benar-benar diresahkan publik. Sampai-sampai MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa “haram”. Sebab, karnaval sound horeg tidak hanya tentang suara pekak, tapi juga mempertontonkan perempuan-perempuan berbaju seksi dan berjoget erotis.

Nah, di dunia ini, ternyata ada manusia yang mengaku paling sial, lantaran harus tumbuh di tengah keluarga yang bergiat dalam dua entitas tersebut. Alhasil, batinnya agak sedikit terganggu.

Punya kakak warga pencak silat PSHT, muak didoktrin sejak kecil

Aura (23), bukan nama asli, sejak kecil sudah sangat akrab dengan pencak silat PSHT. Mengingat, sang kakak sudah sejak kecil pula menjadi bagian aktif dari PSHT di desanya di Jawa Timur.

Kendati perempuan, Aura mengaku tak jarang didoktrin oleh sang kakak bahwa perempuan harus bisa menjaga diri. Caranya, ya harus belajar pencak silat. Kalau belajar pencak silat, perguruan yang tepat ya PSHT.

“Diajari juga caranya mukul, nendang, memiting tangan orang lain,” kata Aura, Kamis (14/8/2025).

Akan tetapi, ketika beranjak remaja, Aura malah merasa muak sendiri. Ketika SMA, Aura tiba-tiba tak merasa tidak tertarik dengan doktrin PSHT yang sang kakak jejalkan. Karena waktu itu dia melihat kalau sang kakak sering sok jagoan, suka gelut dengan pemuda desa lain, sehingga sering menyeret keluarga dalam masalah.

Selain itu, mungkin karena merasa bisa gelut, sang kakak cenderung tak bisa mengontrol emosi. Bahkan terhadap orangtua sendiri kerap membentak jika sedang ada masalah. Padahal hanya masalah kecil.

Aura akhirnya enggan mengikuti ajakan sang kakak untuk memperdalam pencak silat. Walaupun sang kakak selalu bilang, “Pasti kamu akan menyesal.”

Ikut tanggung malu tiap PSHT berulah

Di era media sosial seperti sekarang, Aura semakin membuka mata kalau ternyata PSHT menjadi musuh bersama. Di jagat maya, dia teramat sering melihat caci maki yang dilayangkan kepada perguruan pencak silat tersebut.

“Wajar saja sebenarnya. Karena memang beritanya selalu miring. Jadi publik lama-lama muak dan benci juga sampai menyebutnya hama,” ucap Aura.

Entah kenapa, Aura malah ikut menanggung malu. Padahal dia bukan bagian di dalamnya.

“Karena pasti yang jadi caci maki itu pertama, Jawa Timur-nya kena. Dicap sebagai pusat hama,” kata Aura.

“Terus kakakku itu tantruman. Kalau ada orang menghina PSHT, pasti dia langsung tantrum di media sosial. Misalnya bikin-bikin story playing victim, katanya pencak silat adalah budaya bangsa yang dibenci bangsa sendiri,” sambungnya.

Iklan

Makin pusing saat bapak jadi keranjingan karnaval sound horeg

Batinnya semakin terganggu ketika kini bapaknya keranjingan betul dengan karnaval sound horeg.

Bapak Aura sejak dulu memang berprofesi sebagai kru persewaan sound system di desanya. Hanya saja, dulu persewaan sound system difungsikan sebagaimana mestinya. Misalnya untuk hajatan dan sejenisnya.

Sementara ketika sound horeg merebak hingga menjadi karnaval yang menyedot animo masyarakat, bapaknya tiba-tiba menjadi bagian dari kru persewaan sound horeg.

“Sekarang bapakku sibuk sekali. Tanggapan lancar. Upahnya sebenarnya gede, cuma aku merasa nggak seneng karena sound horeg diresahkan banyak orang bahkan sampai dihukumi haram oleh MUI,” tutur Aura.

Bahkan kini bapaknya ikut arus orang-orang yang menentang balik fatwa MUI. Katanya, hiburan rakyat dan memberi rezeki banyak orang kok diharamkan.

Aura sempat curhat sama sang ibu, berharap agar si ibu membujuk bapaknya untuk tidak ikut-ikutan sound horeg. Toh tanggapan hajatan dengan sound system normal masih banyak.

“Apalagi kalau karnaval sound horeg itu ada perempuan-perempuan seksi. Tapi ibuku membela bapak, begitu juga kakak. Katanya, semakin banyak karnaval sound horeg, maka keluarga mereka bisa hidup, aku juga bisa lanjut kuliah,” tutur Aura.

Toh, lanjut ibu Aura, di kecamatan mereka, mayoritas masyarakat juga menikmati karnaval sound horeg. Rasa-rasanya hanya orang-orang daerah lain saja yang merasa terganggu. Padahal hanya melihat lewat hp.

Batin tertekan gara-gara kolaborasi PSHT dan karnaval sound horeg

Menjelang karnaval 17 Agustusan, desa Aura di Jawa Timur tengah sibuk-sibuknya mengikuti karnaval sound horeg. Bahkan, di desa aura sendiri ada kolaborasi antara karnaval sound horeg dengan PSHT.

“Jadi yang tampil mengiringi sound horeg nanti nggak cuma perempuan-perempuan seksi. Tapi juga atraksi PSHT,” ucap Aura.

Bukan tanpa alasan Aura merasa batinnya begitu tertekan. Teman-teman kuliah Aura rata-rata sangat sinis dengan dua entitas tersebut. Tak jarang mereka mencaci maki dan tak habis pikir dengan “kearifan lokal” bernama pencak silat PSHT dan karnaval sound horeg.

Setiap ada momen teman-temannya menggunjingkan keduanya setelah melihat media sosial, Aura hanya bisa tersenyum getir sambil ikut tertawa sumir.

Pernah suatu ketika terjadi perbincangan seperti ini antara Aura dan temannya:

“Orang-orang desamu apa juga suka beginian, Ra?”

“Em, eh, nggak, sih. Ada PSHT dan sound horeg, tapi nggak yang fanatik sekali.”

“Kalau aku bakal malu sih kalau hidup di desa yang full hama seperti itu.”

“Nggak, sih. Desaku kondusif-kondusif aja.” Aura menjawabnya dengan batin tertekan. Sebab, tentu saja dia tidak mau jujur kalau kakaknya adalah PSHT fanatik, bapaknya kru sound horeg, dan ibu serta masyarakat desanya begitu menggandrungi dua entitas tersebut. Ironisnya, dia bisa kuliah juga karena sumbangsih dari persewaan sound horeg yang melibatkan bapaknya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tak Ikut Latihan Karnaval Sound Horeg karena Fokus Kerja dan Hidup Damai bareng Keluarga: Berujung Dilabrak, Didenda, hingga Dikucilkan di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2025 oleh

Tags: karnavalkarnaval 17 agustuskarnaval sound horegpencak silatPSHTsound horeg
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO
Kampus

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO
Ragam

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Atlet pencak silat asal Kota Semarang, Tito Hendra Septa Kurnia Wijaya, raih medali emas di SEA Games 2025 Thailand MOJOK.CO
Kilas

Menguatkan Pembinaan Pencak Silat di Semarang, Karena Olahraga Ini Bisa Harumkan Indonesia di Kancah Internasional

22 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Beli produk hp Apple, iPhone

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

22 April 2026
Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian MOJOK.CO

Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.